RI Terancam Supply Shock karena Corona, Mendag Ngapain?

News - Muhammad Choirul Anwar, CNBC Indonesia
09 March 2020 16:01
Virus corona akan memicu supply shock bila berlangsung lama.
Jakarta, CNBC Indonesia - Wabah corona di China dalam dua bulan lebih ini sudah berdampak pada rantai pasok bahan baku dari China ke dunia termasuk Indonesia. Hal ini akan memicu supply shock bila berlangsung jangka panjang.

Mantan Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri kondisi terkini di China akan berdampak tidak tersedianya bahan baku, bahan penolong, barang modal atau komponen yang dibutuhkan oleh negara-negara lain termasuk di Eropa, Asia dan juga Indonesia.

"Dalam kondisi ini maka produksi akan terganggu. Inilah saya sebut sebagai supply shock. Di sisi lain melemahnya China juga berarti mengurangi permintaan terhadap bahan baku, bahan mentah atau komponen untuk barang jadi yang diproduksi di China," tegas Komisaris Utama Bank Mandiri ini dikutip Senin (9/3).




Ia menambahkan, jika Covid-19 ini mereda dalam waktu pendek, sekitar 3-4 bulan, maka jumlah stock bahan baku, komponen dan sebagainya mungkin masih cukup, sehingga dampak disrupsi supply belum akan terjadi. Namun bila ini berlangsung dalam jangka waktu panjang, maka perusahaan akan kehabisan bahan baku, barang modal, komponen untuk produksi.

Hal ini sudah disadari oleh Presiden Jokowi, ia sempat marah kepada jajarannya. Ia menegaskan jangan sampai saat bahan baku terkendala karena dampak corona, jajaran di bawahnya bergerak lamban dalam merespons, antara lain kebutuhan bahan pokok jelang Puasa dan Lebaran.

Nemun, Kementerian Perdagangan (Kemendag) memang sudah bergerak di bawah Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto, melalui Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Suhanto menyampaikan beberapa hal terkait antisipasi kelancaran bahan baku jelang puasa dan lebaran, termasuk saat kondisi Indonesia positif corona.

"Pemerintah telah memutuskan untuk melakukan tambahan pasokan dg mengimpor beberapa komoditi yang jumlahnya kurang untuk persediaan kebutuhan sampai dengan Juni, seperti daging kerbau 100.000 ton, gula konsumsi, bawang putih dan beberapa buah-buahan. Pemerintah menjamin ketersediaan bahan pokok bagi masyarakat cukup aman," tegas Suhanto.

Suhanto menegaskan hal-hal yang telah dan sedang dilakukan pemerintah dalam merespons kondisi terkini terkait corona dan persiapan Puasa dan Lebaran, antara lain:

1. Kemendag sudah melakukan Rapat Koordinasi Nasional pada Selasa, 3 Maret 2020, dengan mengundang para Kepala Dinas Provinsi yang membidangi perdagangan, Korwil-Korlap Tim Stabilisasi harga (meliputi Eselon I dan II Kemendag), Kementerian/Lembaga terkait, dan pelaku usaha. Hal ini terkait persiapan hari raya Puasa dan Lebaran 2020/1441 H. Pada periode tersebut terjadi peningkatan permintaan masyarakat terutama barang kebutuhan pokok dan berpotensi mendorong kenaikan harga barang kebutuhan pokok.

2. Berdasarkan pantauan dan laporan dinas daerah yang membidangi perdagangan di 34 Provinsi, rata-rata harga nasional barang kebutuhan pokok saat ini dibanding sebulan lalu secara umum stabil seperti beras, minyak goreng curah, daging sapi. Produk hortikultura seperti cabe merah, bawang merah, dan bawang putih bahkan cenderung turun. Komoditi yang harganya naik hanya gula pasir.

3. Ketersediaan stok barang kebutuhan pokok yang cukup secara nasional. Jumlah stok beras di Perum Bulog saat ini 1,63 juta ton, berada di kisaran stok aman 1,5 juta s/d 2 juta ton. Sementara itu, stok indikatif beras di Pasar Induk Cipinang DKI Jakarta saat ini sekitar 31 ribu ton, berada di atas stok normal sebesar 30 ribu ton, selalu cukup untuk penyaluran selama +/- 10 hari ke depan.

4. Komoditi seperti minyak goreng, tepung terigu, daging ayam ras, telur ayam ras, dan daging sapi, jumlah ketersediaan secara nasional masih aman terkendali, dan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga 1-2 bulan ke depan.

5. Kemendag juga telah menerbitkan Persetujuan Impor (PI) untuk kedua komoditi dimaksud yang diharapkan akan segera terealisasi untuk memenuhi kebutuhan Puasa dan Lebaran 2020. Hal ini dalam rangka mendukung kecukupan ketersediaan untuk memenuhi kebutuhan beberapa komoditas pangan seperti gula pasir dan bawang putih,

6. Kemendag akan menggerakkan BUMN dan pelaku usaha swasta untuk melakukan Operasi Pasar atau KPSH agar dapat menyeimbangkan pasokan di pasar apabila terjadi gejolak harga akibat gangguan pasokan,

7. Kemendag bekerjasama dengan Kemenhub, untuk kelancaran distribusi dan efisiensi biaya logistik juga diupayakan salah satunya melalui program Gerai Maritim, yang membantu menyalurkan barang kebutuhan pokok dari pulau Jawa ke daerah T3 (tertinggal, terdepan, terluar).

8. Satgas Pangan telah melakukan langkah-langkah pengawasan secara intensif di daerah-daerah, khususnya menjelang Puasa dan Lebaran, bekerjasama dengan dinas perdagangan setempat, dalam rangka mengantisipasi kemungkinan aksi spekulasi/ penimbunan.

9. Terkait kasus positif virus corona di Indonesia, Kemendag menegaskan antara lain:

a. Kemendag mengingatkan dan mengimbau agar masyarakat berhati-hati dalam mengambil sikap, termasuk untuk tidak melakukan panic buying dan tetap secara bersama-sama kita menjaga situasi di lingkungan masing-masing supaya tenang dan kondusif. Tindakan panic buying justru dapat merugikan masyarakat sendiri karena dapat mendorong timbulnya ketidakstabilan harga yang disebabkan ketidakseimbangan pasokan.

b. Pemerintah telah mengantisipasi dan berkomitmen selalu menjamin ketersediaan stok/pasokan barang kebutuhan pokok cukup, baik di pasar rakyat maupun ritel modern, dengan didukung oleh ketersediaan stok barang kebutuhan pokok di Perum Bulog, produsen, distributor, maupun importir.

c. Kemendag telah menerbitkan Permendag No. 10 Tahun 2020 tentang Larangan Impor Sementara Binatang Hidup dari RRT. Dalam peraturan tersebut pemerintah hanya melarang sementara impor binatang hidup atau binatang hidup yang telah transit di RRT, sedangkan untuk komoditi hortikultura/bawang putih tetap bisa diimpor dari RRT.

d. Kemendag akan menghubungi Atase Perdagangan guna memastikan kebijakan impor-ekspor bahan baku dan produk jadi masker di masing-masing negara, mengingat sebagian besar bahan baku seperti layer tengah yang berfungsi sebagai filtrasi dan tali/karet pengikat masih diimpor dan berasal dari Cina sehingga perlu dicari sumber bahan baku yang berasal dari negara lain. Hal ini dalam rangka menjaga kecukupan masker bagi masyarakat.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya

Duh, Industri Logistik RI Terancam Stagnan Akibat Corona


(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading