Waspada! Teh Kemasan Sampai Soda Lebih Bahaya dari Rokok

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
19 February 2020 12:26
Waspada! Teh Kemasan Sampai Soda Lebih Bahaya dari Rokok
Jakarta, CNBC Indonesia - Diabetes menjadi penyakit paling mematikan ternyata. Baik di dunia maupun di Indonesia sendiri.


Diabetes menyebabkan stroke sampai gagal ginjal. Untuk itu, pemerintah siap menerapkan cukai untuk minuman berpemanis seperti teh dalam kemasan sampai soda.

"Di beberapa negara pengendalian gula dilakukan agar lebih sehat. Di Singapura, program prioritas juga mengurangi diabetes," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Gedung DPR, Rabu (19/2/2020).


Adapun, sambung Sri Mulyani biaya pengobatannya cukup besar. Maka, Singapura menerapkan kampanye besar-besaran.

Waspada! Teh Kemasan Sampai Soda Lebih Bahaya dari RokokFoto: Ilustrasi Soda (Designed by Freepik)


"Untuk itu minuman pemanis diharapkan disetujui obyek cukainya. Kami mengusulkan minuman yang mengandung gula dan pemanis, yang siap untuk dikonsumsi kena cukai," kata Sri Mulyani.

"Jadi kayak kopi sachet, botol, itu yang semua isinya banyak gulanya jadi obyek cukai," tambah Sri Mulyani.

Menurut Sri Mulyani, akan ada pengecualian untuk minuman yang non-pabrikasi. Seperti minuman dari UMKM yang menggunakan madu, jus sayur tanpa tambahan gula.

Menurut Sri Mulyani, dalam paparannya banyak sekali penyakit yang ternyata berdampak serius akibat gula. Ia pun memaparkan contohnya.

Waspada! Teh Kemasan Sampai Soda Lebih Bahaya dari RokokFoto: Penyakit Akibat Konsumsi Gula Berlebihan (Dok. Kemenkeu)


Lebih Bahaya dari Rokok

CNBC Indonesia menghubungi ahli gizi Syarief Darmawan. Menurutnya, minuman kemasan tinggi gula memang sangat berbahaya, bahkan tingkatnya lebih berbahaya dibandingkan dengan efek merokok.

"Ya betul sekali. Minuman kemasan lebih berbahaya dibanding dengan rokok karena dalam minuman kemasan ada bahan tambahan makanan berupa pemanis buatan dan pewarna buatan," ungkap Syarief.

Menurut Syarief, terkadang banyak produsen minuman tinggi gula yang menggunakan pemanis buatan yang jelas bisa menimbulkan penyakit jika dikonsumsi berlebihan. Ada beberapa jenis pemanis buatan, seperti Sakarin, siklamat, sorbitol, dan aspartam.

Sakarin memiliki tingkat 'aman' untuk dikonsumsi sekitar 50-300 mg/kg, siklamat 500 mg/kg sampai 3 gr/kg, sorbitol 120 gr/kg hingga 5 gr/kg, sedangkan aspartam sebenarnya sama sekali tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi.

"Pemanis buatan rasanya lebih manis, membantu mempertajam penerimaan terhadap rasa manis, tidak mengandung kalori, dan harganya lebih murah. Memang cocok untuk penderita penyakit gula (diabetes), tetapi jika dikonsumsi berlebihan dapat beresiko kerusakan organ ginjal dan penyebab kanker," papar Syarief.

Sedangkan mengenai pewarna dalam minuman, menurut Syarief, banyak produsen yang menggunakan pewarna tekstil untuk mewarnai makanan atau minuman produksi mereka. "Warnanya sangat menyolok dan tampak bagus, tetapi ini sangat berbahaya bagi kesehatan," imbuhnya.

Ada beberapa pewarna sintetis sudah dilarang digunakan untuk makanan, misalnya Rodhamin B karena dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernafasan, iritasi pada kulit, iritasi pada mata, iritasi saluran pencernaan, dan bahaya kanker hati.

"Selain itu ada juga Metanil Yellow yang dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernafasan, iritasi pada kulit, iritasi pada mata, dan bahaya kanker pada kandung dan saluran kemih," lanjutnya.



[Gambas:Video CNBC]




(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading