Corona Ancam Ekonomi RI, Pak Jokowi Mau Siapkan BLT?

News - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
18 February 2020 09:00
Wabah virus corona membuat mata rantai ekonomi Indonesia dengan China terganggu dan bisa menekan ekonomi domestik.
Jakarta, CNBC Indonesia - Wabah virus corona atau Covid-19 mulai menghantui ekonomi Indonesia. Wabah virus corona membuat mata rantai ekonomi Indonesia dengan China terganggu dan bisa menekan ekonomi domestik.

Pertumbuhan ekonomi China hampir pasti melambat. Reuters melakukan jajak pendapat terhadap 40 ekonom yang hasilnya pertumbuhan ekonomi China kuartal I-2019 diperkirakan sebesar 4,5%. Jauh dibandingkan kuartal sebelumnya yaitu 6%.

Untuk pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020, proyeksinya hanya 5,5%. Juga jauh melambat dibandingkan realisasi 2019 yang sebesar 6,1%.



China adalah perekonomian terbesar kedua di dunia, sehingga perlambatan di sana akan mempengaruhi seluruh negara. Apalagi China adalah negara tujuan ekspor utama Indonesia.

Senada dengan ekspor, investasi juga berisiko melambat. Ini bisa terlihat dari impor bahan baku/penolong dan barang modal yang terkontraksi masing-masing 7,35% YoY dan 5,26% YoY. Bahan baku/penolong dan barang modal ini akan bertransformasi menjadi investasi dalam beberapa bulan ke depan.

Oleh karena itu, faktor domestik harus mampu menjadi pendongkrak pertumbuhan ekonomi. Presiden Joko Widodo (Jokowi) pernah berpesan bahwa konsumsi pemerintah harus digenjot agar menjadi stimulus bagi perekonomian nasional.

"Saya ingin kembali lagi menyampaikan, mengingatkan kepada seluruh K/L (Kementerian/Lembaga) agar belanja di bulan-bulan awal ini dipercepat. Terutama yang berkaitan dengan anggaran-anggaran modal, belanja modal. Sekali lagi agar belanjanya dipercepat, ini berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi," tegas Jokowi, pekan lalu.


Kepala Negara tentu tidak ingin kejadian seperti kuartal I-2019 terulang lagi. Kala itu, konsumsi pemerintah hanya tumbuh 0,48% YoY. Konsumsi pemerintah yang loyo membuat pertumbuhan ekonomi tidak sampai 5%, tepatnya di 4,97%.

Itu pertama. Kedua, dan paling penting, adalah menjaga (kalau bisa meningkatkan) konsumsi rumah tangga. Konsumsi rumah tangga adalah kunci, karena menyumbang hampir 60% dari pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB).

[Gambas:Video CNBC]



Istana Mau Guyur Pakai BLT?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading