Jutaan Orang Ogah Naik Pesawat Lagi, Apa Biang Keroknya?

News - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
08 February 2020 19:58
Penuruna jumlah penumpang pesawat terbang pada 2019 sangat signifikan.
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini merilis bahwa jumlah penumpang pesawat untuk rute domestik pada 2019 mencapai 76,7 juta penumpang. Namun angka itu ternyata turun tajam dibanding tahun sebelumnya.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan bahwa salah satu penyebab turunnya jumlah penumpang yang cukup signifikan tersebut adalah harga tiket yang mahal. "Harga memang sudah turun, tetapi tetap lebih mahal dari beberapa tahun sebelumnya," kata Suhariyanto beberapa waktu lalu.

Harga tiket pada 2019 memang terbilang mahal. Sebagai contoh beberapa maskapai penerbangan sejak awal tahun lalu menaikkan harga tiketnya. Sebut saja Garuda, Citilink, Sri Wijaya dan NAM Air.


Pada kuartal pertama tahun lalu, harga tiket domestik Garuda naik 15% (qoq) dan 46% (yoy). Citilink yang terkenal dengan maskapai penerbangan low cost airlines yang terkenal dengan harga tiketnya yang murah pun mengikuti cara Garuda dengan menaikkan harga tiket. Pada periode yang sama harga tiket Citilink naik 23% (qoq) dan 64% (yoy).



Langkah serupa juga diambil oleh Sri Wijaya Group yang kala itu berada di bawah naungan Garuda juga menaikkan harga tiket. Harga tiket domestik Sri Wijaya Group naik 43% (qoq) dan 97% (yoy). Sementara maskapai penerbangan lain yaitu NAM Air mengalami kenaikan harga tiket 81% (qoq) dan 149% (yoy).

Tak bisa dipungkiri, kenaikan harga tiket yang sangat signifikan ini membuat appetite orang untuk bepergian menjadi berkurang. Kenaikan harga tiket ini pun banyak dikeluhkan oleh pelanggan.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi diminta untuk menurunkan harga tiket pesawat. Namun persoalan tarif tiket pesawat ini tak sesederhana itu. Carut marut industri penerbangan nasional membuat penurunan harga tiket pesawat seperti menghadapi situasi harus makan buah si malakama. Dimakan ibu mati tak dimakan bapak mati.

Kalau harga tiket diturunkan, maskapai-maskapai penerbangan tanah air akan menanggung rugi yang makin besar dan kelangsungan bisnisnya di ujung tanduk.

Sementara jika harga tak diturunkan, maka harga yang sangat mencekik membuat penumpang mengurungkan diri bepergian dengan pesawat terbang dan ujung-ujungnya dapat memicu penurunan pendapatan maskapai.

Soal harga tiket yang terlampau mahal ini memang masalah yang kompleks dan sulit. Ada beberapa faktor yang membuat masalah ini sulit untuk dipecahkan. Pertama membengkaknya biaya operasional perusahaan jasa penerbangan.

Beban operasional penerbangan merupakan komponen biaya terbesar yang membentuk beban usaha maskapai. Kontribusinya terhadap total beban usaha hampir 60%.

Komponen penyusun terbesar kedua adalah beban pemeliharaan dan perbaikan yang kontribusinya mencapai 11,5% dari total beban usaha. Sebagai contoh mengacu pada laporan keuangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) pada 2018.

Pada 2019 pendapatan GIAA naik 4,5% (yoy), tetapi beban usahanya naik 8% (yoy). Hal ini membuat laba operasi jadi minus. Menurut laporan keuangan GIAA tahun 2018 yang disajikan kembali, laba operasi GIAA di tahun tersebut sudah minus kurang lebih US$ 210 juta.

Beban operasional perusahaan yang menjadi komponen terbesar perusahaan juga naik 10,1% (yoy). Pada pos ini, biaya bahan bakar dan sewa pesawat berkontribusi hingga 90% dari beban operasional. Pada pos ini biaya yang dikeluarkan oleh GIAA untuk bahan bakar naik signifikan hingga 21,7% dan jadi penyumbang utama membengkaknya biaya operasional.

Usut punya usut, kenaikan pos bahan bakar dipicu oleh naiknya harga avtur. Dalam kurun waktu tiga tahun harga minyak rata-rata acuan Mean Oil Platts Singapore (MOPS) mengalami kenaikan hingga 63%.

Faktor lain yang juga membuat biaya yang dikeluarkan untuk bahan bakar membengkak adalah depresiasi rupiah yang dalam pada 2018.

Dua tahun lalu rupiah melemah di hadapan dolar dan tembus level psikologis Rp 15.000/US$. Hal ini tentu semakin memberatkan keuangan perusahaan mengingat RI juga masih mengimpor avtur dan suku cadang pesawat.

Selain membengkaknya ongkos operasional, Garuda juga mengalami tekanan karena harus membayar utang senilai US$ 125 juta (Rp 1,8 triliun) yang jatuh tempo pada kuartal pertama 2019.

[Gambas:Video CNBC]




(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading