Menperin Agus 'Jualan' 5 Industri ke Calon Investor di Davos

News - Redaksi, CNBC Indonesia
23 January 2020 14:54
Ajang World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss menjadi kesempatan pemerintah mempromosikan peluang investasi.
Jakarta, CNBC Indonesia - Ajang World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss menjadi kesempatan pemerintah mempromosikan peluang investasi di Indonesia. Apalagi pemerintah sedang berbenah dalam menciptakan iklim investasi melalui UU omnibus law.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang mengatakan menawarkan lima sektor prioritas kepada para investor. Sektor-sektor itu umumnya sudah melekat dengan perkembangan industri 4.0.

Ia menyebut sektor itu adalah makana dan minuman, tekstil, otomotif, elekronika, dan kimia. "Ini yang kita akan melakukan pendekatan dengan para calon investor. Kenapa 5 sektor? karena kelimanya berkontribusi 70% manufaktur PDB dan 60% tenaga kerja di sektor manufaktur," kata Agus kepada CNBC Indonesia, di sela-sela WEF di Davos, dikutip Kamis (23/1)


Agus berharap dengan adanya omnibus law maka Indonesia akan semakin menarik di mata investor. Omnibus law menjadi terobosan dari kebutuna regulasi yang selama ini menghambat investasi, yang ujungnya bisa meningkatkan serapan tenaga kerja.

"Salah satu kluster soal ketenagakerjaan yang sedang masih dibahas, ada kluster lain yang membuat Indonesia jadi negara yang menarik atraktif bagi calon investor, seperti penyediaan lahan yang lebih mudah bagi calon investor dan kemudahan berusaha, lahan, ketenagakerjaan," katanya.



Namun, mengakui masih ada tujuh masalah yang dihadapi industri dalam negeri. Hal ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah.

Pertama, industri kekurangan bahan baku seperti kondensat, gas, naphta, biji besi. Kedua, kurangnya infrastruktur seperti pelabuhan, jalan, dan kawasan industri. Ketiga, industri kekurangan utility seperti listrik, air, gas, dan pengolah limbah.

Keempat, industri kekurangan tenaga terampil dan supervisor, superintendent. Kelima, industri dapat tekanan serbuan produk impor. Keenam, limbah industri seperti penetapan slag sebagai limbah B3, spesifikasi yang terlalu ketat untuk kertas bekas dan baja bekas (scrap) menyulitkan industri, antara lain industri kertas.

Ketujuh, Industri Kecil dan Menengah (IKM) masih mengalami kendala seperti akses pembiayaan, ketersediaan bahan baku dan bahan penolong, mesin peralatan yang tertinggal, hingga pemasaran.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya

Jokowi Beri 1 Bulan Menteri Bereskan Aturan Hambat Investasi


(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading