Impor Garam 2020 Makin Bengkak, Ada Apa?

News - Efrem Siregar, CNBC Indonesia
13 January 2020 14:18
Alokasi impor garam pada tahun ini akan mengalami kenaikan dibandingkan 2019.
Jakarta, CNBC Indonesia - Alokasi impor garam industri mengalami kenaikan pada tahun 2020 mencapai 2,92 juta ton. Jumlah ini meningkat sekitar 6% dari tahun 2019 sebesar 2,75 juta ton.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Muhammad Khayam menjelaskan alasan kenaikan volume impor garam, salah satunya, karena mengikuti pertumbuhan berbagai industri pengguna garam, antara lain industri makanan dan minuman (mamin).

"Ini [karena] pertumbuhan saja, pertumbuhan dijaga khususnya mamin," kata Khayam di kantor Kemenperin, Senin (13/1/2020).


Ia mengatakan kuota impor 2,92 juta ton adalah persetujuan dari hasil rapat koordinasi terbatas (rakortas) beberapa waktu lalu.



Menurutnya, industri chlor alkali plant (CAP) masih menjadi pengguna garam impor terbesar mencapai 2,6 juta ton atau 89% dari alokasi impor. Industri CAP mengolah garam untuk kebutuhan industri kertas hingga petrokimia. 

Namun, Kemenperin terus melakukan proses verifikasi sampai sekarang sebelum mengeluarkan rekomendasi impor garam 2020. Kemenperin dibantu pihak ketiga, yaitu PT Sucofindo, dalam proses verifikasi untuk memastikan kebutuhan.

"Langkah ada pengajuan kita apa... sudah ada pihak ketiga verifikasi, verifikator khusus," katanya.

"Kita dibantu verifikasi. Jadi kita betul-betul tahu berapa kebutuhannya ini dan sebagainya. Kalau kita [Kemenperin] melaksanakan [verifikasi] kan keterbatasan," katanya.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) Adhi Lukman mengatakan usulan impor garam untuk industri mamin yang disetujui tahun ini dalam rakortas sebanyak 543 ribu ton dari usulan Gapmmi semula 595 ribu ton. Alokasi impor garam pada 2019 menurut Adhi mencapai 400 ribu ton lebih.

Jumlah ini meningkat dibanding tahun lalu. Menurut Adhi pertumbuhan industri makanan dan minuman pada tahun ini diprediksi ada di angka 8%. Pengusaha mamin melakukan penyesuaian kebutuhan impor dari proyeksi pertumbuhan.

"Iya [kenaikan volume impor garam] mengikuti pertumbuhan," kata Adhi. 

Rencana alokasi impor garam 2020 memang tak sesuai harapan. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang mengatakan impor garam mau tidak mau harus dilakukan bersama komoditas lain karena kebutuhan untuk industri nyata. Namun, ia mengklaim impor garam harusnya terus berkurang karena ada itikad dari pemerintah untuk mengurangi impor.

"Tetapi ada kesadaran, ada political will dari kami impor garam dan gula semakin lama semakin berkurang," katanya, Senin (13/1).

[Gambas:Video CNBC]




(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading