Berbahasa Persia, Trump Dukung Murka Rakyat Iran ke Ayatollah

News - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
12 January 2020 11:56
Trump kembali berulah, kali ini ia mengompori warga Iran yang sedang marah ke pimpinan tertinggi mereka, Ayatollah Khomaini.
Jakarta, CNBC Indonesia- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat heboh dunia terkait ketegangan antara negeri Paman Sam dengan Iran melalui kedua jempol tangannya.

Melalui cuitan akun Twitter resmi-nya, @realDonalTrump, seperti dikutip CNBC Indonesia, Minggu (12/1/2020), Trump mendukung penuh demonstrasi yang dilakukan rakyat Iran.

Ada dua cuitan Trump terkait dukungan protes rakyat Iran. Satu cuitan dibuat menggunakan bahasa Inggris, sementara satu lainnya dibuat menggunakan aksara Persia.

"Kepada orang-orang Iran yang pemberani dan menderita : Saya telah mendukung Anda sejak awal kepresidenan saya dan pemerintah saya akan terus mendukung Anda. Kami mengikuti protes Anda dengan cermat. Keberanianmu menginspirasi," kata Trump.

[Gambas:Video CNBC]




Dalam tweet keduanya, Trump meminta pemerintah Iran mengizinkan kelompok hak asasi manusia untuk terus memantau demo agar menjamin keselamatan para demonstran.

"Pemerintah Iran harus mengizinkan kelompok hak asasi manusia untuk memantau dan melaporkan fakta-fakta dari lapangan mengenai protes yang sedang berlangsung oleh rakyat Iran. Tidak akan ada lagi pembantaian demonstran damai, atau penghentian internet. Dunia sedang menyaksikan," kata Trump.



[Gambas:Instagram]



Sebagai informasi, pengakuan Iran yang tak sengaja menembak jatuh pesawat Boeing milik Ukraina Internationals Airlines berbuntut panjang. Salah satunya memancing amarah warga sampai turun ke jalan dan menurut mati pimpinan mereka.

Melansir CNBC Internasional, massa yang beberapa hari lalu berkumpul dan menuntut AS bertanggung jawab atas kematian Soleimani dengan meneriakkan "Bunuh Amerika", kini kembali berdemo.

Namun, aksi demonstran kali ini tidak tertuju lagi kepada Washington, melainkan meminta pertanggungjawaban pimpinan tertinggi mereka Ayatollah Khamenei. Bahkan, sebagian menuntut mati Ayatollah yang dianggap sebagai diktator.






(gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading