Perang Dagang AS-China Mereda, Kini Giliran "Perang" AS-Iran

News - Sefti Oktarianisa, CNBC Indonesia
18 September 2019 08:06
Ketegangan Iran dan Amerika Serikat (AS) makin memanas
Jakarta, CNBC Indonesia- Ketegangan Iran dan Amerika Serikat (AS) makin memanas. Setelah saling ancam kekuatan militer, kedua pemimpin negara itu sepertinya enggan melakukan pembicaraan perdamaian di pertemuan Majelis Umum PBB yang berlangsung minggu ini.

Bahkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan pihaknya tidak akan pernah mengadakan pembicaraan dengan Amerika. Apalagi, pasca tudingan AS, yang menuduh Iran otak dibalik serangan pemberontak Houthi pada fasilitas kilang minyak Arab Saudi, akhir pekan lalu.

"Para pejabat Iran tidak akan pernah berbicara dengan Amerika .... ini adalah bagian dari kebijakan mereka (AS) untuk menekan Iran ... kebijakan tekanan maksimum mereka akan gagal," kata Khamenei sebagaimana dilansir CNBC International, Selasa (17/9/2019).



Sebelumnya, serangan terhadap kilang minyak di Abqaiq dan ladang minyak di Khurais milik Saudi Aramco, memaksa Arab saudi memangkas setengah dari produksinya. Sekitar 10 drone atau pesawat tanpa awak menghancurkan jantung minyak negara kerajaan tersebut dan membuat harga minyak mentah dunia naik 15%.

Intelijen Amerika menegaskan bahwa Iran bertanggung jawab atas ledakan tersebut. Sekretaris Kabinet AS Mike Pompeo bahkan terang-terangan menyebut Iran sebagai dalang serangan tersebut.


"Iran sekarang telah meluncurkan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap pasokan energi dunia," katanya. Tuduhan ini dibantah pejabat Iran dengan menyebutnya sebagai hal yang tidak penting.

Koalisi militer pimpinan Saudi mengatakan serangan itu dilakukan oleh "senjata Iran" dan bukan berasal dari Yaman. Berdasarkan keyakinan itu, Presiden Donald Trump, mengaku AS siap untuk perang. Namun dirinya tidak mau terburu-buru dan mengambil keputusan itu.

"Jelas terlihat seperti itu pada saat ini," kata Trump, berbicara tentang apakah Iran bertanggung jawab atas serangan itu. "Saya tidak ingin perang dengan siapa pun, tetapi kami lebih siap daripada siapa pun... Kami memiliki banyak pilihan, tetapi kami tidak melihat opsi sekarang,".

Spekulasi seputar pembicaraan antara negara-negara yang bermusuhan ini dimulai ketika Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif bertemu dengan para diplomat Eropa pada KTT G7 di Prancis pada akhir Agustus. Prancis mencoba untuk memfasilitasi komunikasi antara keduanya.

Trump telah menyuarakan kesediaannya untuk berbicara dengan Iran beberapa kali. Tetapi pejabat Iran telah menuntut agar sanksi dicabut terlebih dahulu.

Sanksi yang dikenakan Washington terhadap Iran mulai tahun lalu telah melumpuhkan ekspor minyaknya dan sebagian besar ekonominya. Bahkan tindakan AS mengirimkan inflasi setinggi 50% tahun ini.

Namun tawaran pembicaraan AS sebelumnya tanpa prasyarat dibatalkan setelah serangan hari Sabtu terhadap fasilitas minyak terbesar di Arab Saudi. Trump pun menulis di Twitter bahwa laporan sebelumnya mengenai masalah itu tidak benar.

[Gambas:Video CNBC]





(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading