Setelah Bunuh Soleimani, AS Jatuhkan Sanksi Baru ke Iran

Market - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
11 January 2020 19:31
Setelah Bunuh Soleimani, AS Jatuhkan Sanksi Baru ke Iran
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat secara resmi memberikan sanksi baru terhadap Iran. Hal ini diumumkan oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin. Ada dua pihak yang terkena sanksi tersebut. Yakni kalangan pejabat pemerintahan dan produsen logam.

Dari kalangan pejabat, ada delapan pejabat senior Iran yang terkena sanksi. Di antaranya termasuk sekretaris dewan keamanan nasional tertinggi Iran dan wakil kepala staf angkatan bersenjata Iran.

"Amerika Serikat menargetkan para pejabat senior Iran atas keterlibatan dan keterlibatan mereka dalam serangan rudal balistik Selasa," kata Mnuchin Jumat (10/1/2020).


Sementara dari produsen logam, ada 17 pihak yang juga dikenai sanksi. Beberapa diantaranya adalah perusahaan pertambangan yang menurut AS telah menghasilkan pendapatan miliaran dolar bagi Iran. Termasuk tiga diantaranya berbasis di China dan Seychelles.


Langkah pemberian sanksi itu adalah lanjutan dari janji Presiden Donald Trump pada hari Rabu (8/1/2020). Dia mengatakan bahwa AS akan bersikap tegas."Segera menjatuhkan sanksi ekonomi tambahan hukuman pada rezim Iran," ungkapnya.

Hukuman itu terjadi beberapa hari setelah Iran menembakkan rudal ke pangkalan militer AS di Irak. Upaya ini sebagai balasan atas serangan udara Amerika di Baghdad yang menewaskan pemimpin militer Iran, Qasem Soleimani, pekan lalu.

Pembunuhan yang dilakukan oleh AS karena Soleimani disebut bersalah atas ratusan kematian warga AS. Pentagon mengklaim pekan lalu bahwa jenderal Iran itu secara aktif mengembangkan rencana untuk menyerang para diplomat Amerika serta layanan di Irak dan wilayah lainnya.

Trump, mengklaim setidaknya ada beberapa kedutaan AS yang telah direncanakan untuk diserang sebelum Soleimani terbunuh. "Saya dapat mengungkapkan bahwa saya itu akan menjadi empat kedutaan," katanya kepada pembawa acara Fox News, Laura Ingraham dalam sebuah video yang ditayangkan Jumat (10/1/2020) sore.

Kekhawatiran AS juga disinyalir karena Iran secara resmi keluar dari perjanjian nuklir 2015 yang dinegosiasikan dengan AS dan beberapa negara lainnya sebagai respons dari pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani. Meski sebenarnya langkah ini sudah dilakukan oleh AS sejak tahun 2018 lalu.

Itu artinya, Iran tidak akan memiliki hambatan dalam batas kapasitas pengayaan urnaium, tingkat di mana uranium dapat diproses untuk membuat bom nuklir. Langkah ini tentu mengancam sikap luar negeri AS.

Namun, siaran pemerintah Iran mengatakan keputusan Teheran dalam keluar dari perjanjian nuklir 2015 itu bisa dibatalkan jika Washington mencabut sanksi-sanksinya. Sebaliknya, AS meminta Iran untuk tidak mengembangkan nuklir.

Jadi, siapa yang mau lebih dulu mengambil langkah strategis ke depannya?

[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading