Internasional

Fase I Deal AS-China Pekan Depan, Fase II? Tunggu Pilpres AS

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
10 January 2020 13:04
Fase I Deal AS-China Pekan Depan, Fase II? Tunggu Pilpres AS
Jakarta, CNBC Indonesia - Perdamaian Amerika Serikat dan China mungkin tidak akan selesai sepenuhnya di 2020 ini. Meski perjanjian damai Fase I akan diteken 15 Januari nanti, kapan fase lainnya ditandatangani jadi pertanyaan lain.

Bahkan, dalam pernyataan persnya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meminta semua pihak bersabar hingga selesai Pemilu Presiden nanti. Artinya, kesepakatan damai menyeluruh belum akan terlaksana hingga November 2020.
"Saya pikir, saya mungkin ingin menunggu untuk menyelesaikannya sampai setelah pemilihan (Presiden AS), karena dengan melakukan itu, saya pikir kita dapat membuat kesepakatan sedikit lebih baik,. Mungkin kesepakatan yang jauh lebih baik," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, sebagaimana dilaporkan CNBC International, Kamis (9/1/2020).

Trump menyebut pemerintahannya ingin lebih fokus pada kesepakatan Fase I yang memang saat ini masih diupayakan. Menurutnya bila Fase I benar terlaksana, baru ia akan memikirkan aksi selanjutnya.



Meski demikian, melanjutkan perjanjian ke Fase II membutuhkan waktu. Menurutnya, waktu lowong-nya hanya setelah Pilpres AS akhir tahun nanti.

Saat ini AS-China sedang mengupayakan penandatangan kesepakatan dagang Fase I, yang sudah diagendakan sejak Oktober lalu. Penandatanganan perjanjian kerap tertunda karena sejumlah alasan.

Sebelumnya, China telah mengkonfirmasi bahwa Wakil Perdana Menteri Liu He akan segera berkunjung ke Washington.

"Karena undangan dari AS, Liu He akan memimpin delegasi ke Washington dari tanggal 13 hingga 15 Januari untuk menandatangani perjanjian fase I," kata Menteri Pertanian China Gao Feng, sebagaimana dikutip AFP, Kamis (9/1/2020).

"Kedua pihak kini tengah dalam pembicaraan intens tentang detail penandatanganan."

Perang dagang kedua ekonomi terbesar di dunia itu sudah berlangsung dalam dua tahun terakhir.

Selama itu AS telah mengenakan tarif lebih dari US$ 500 miliar pada barang-barang China. Sementara Negeri Panda mengenakan bea masuk lebih dari US$ 100 miliar pada impor Amerika sebagaimana dilaporkan CNBC International.


[Gambas:Video CNBC]





(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading