Kronologi Awal Mengapa Trump Akhirnya Dimakzulkan DPR AS

News - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
22 December 2019 13:20
Kronologi Awal Mengapa Trump Akhirnya Dimakzulkan DPR AS
Jakarta, CNBC Indonesia - Posisi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampak berada di ujung tanduk. Hingga kini dia pun menghadapi proses pemakzulan dan segala pasal yang didakwakan padanya disetujui mayoritas di DPR AS.

Trump diduga melakukan penyalahgunaan kekuasaan. Parlemen AS sudah menunjuk enam komite untuk menyelidiki Trump.


Dari penyelidikan, Trump ketahuan meminta Gedung Putih menahan anggaran militer sebesar US$ 400 juta yang merupakan dana bantuan kemanan ke Ukraina pada 18 Juli 2019.


Berikut adalah alasan kronologinya Trump dimakzulkan yang dirangku CNBC Indonesia dari beragam sumber:


25 Juli 2019 - Presiden Trump berbicara dengan Presiden Ukraina Volodynyr Zelensky selama 30 menit. Di mana Trump melakukan komunikasi telepon dan meminta Zelensky menyelidiki Hunter Biden anak Joe Biden yang merupakan salah satu rival utamanya di Pemilu AS 2020 nanti.

Trump meminta Zelensky menyelidiki Hunter. Anak Biden ini disebut menjadi salah satu petinggi di perusahaan energi Ukraina, Burisma Group, yang terlibat pencucian uang tahun 2015.


Biden diduga mengintervensi penyidikan dengan mengancam menahan jaminan pinjaman AS bila jaksa yang tengah menyidiki kasus tersebut tidak dipecat. Akhirnya, sang jaksa dipecat tahun 2016 dan anak Biden mundur dari jajaran direksi Burisma tahun 2019.


Tidak hanya itu, Trump juga menekan Ukraina dengan menahan bantuan militer. Padahal bantuan telah disetujui Kongres, namun ditunda oleh pemerintah Trump hingga pertengahan September.


9 September 2019 - Parlemen AS mendapat laporan dari whistleblower yang mengomplain Trump. Pembisik parlemen ini diperkirakan salah satu pejabat intelijen AS.


Ia dikabarkan keberatan dengan adanya 30 panggilan telepon yang dilakukan Trump dengan pemimpin negara. Salah satunya adalah pembicaraan telepon Trump dengan Ukraina.

11 September 2019 - AS mencairkan anggaran militer sebesar US$ 400 juta yang sudah dijanjikan pada Ukraina. Bantuan ini resmi dikeluarkan Pentagon dan Kementerian terkait.

23 September 2019 - Skandal Trump menyeruak. Trump mengkonfirmasi melakukan panggilan dengan Zelenskiy. Trump mengatakan bahwa ia berbicara kepada Zelensky tentang masalah korupsi dan juga tentang Biden dan putranya, Hunter, di antara masalah-masalah lainnya.

"Itu adalah percakapan yang menyenangkan di telepon, panggilan yang sempurna," kata Trump.

"AS memberikan bantuan kepada Ukraina sehingga kami ingin memastikan bahwa negara itu jujur,".


Dalam Twitter, Trump bahkan menyebut kontroversi ini sengaja diciptakan oleh Demokrat dan media palsu.

"Sekarang Media Berita Palsu mengatakan saya "menekan Presiden Ukraina setidaknya 8 kali selama saya melakukan panggilan telepon dengannya," tulis Trump.

"Ini diduga berasal dari "whistleblower" yang menurut mereka bahkan tidak memiliki pengetahuan awal tentang apa yang dikatakan. Lebih Banyak Demokrat/Media Palsu..." cuit Trump lagi.

24 September 2019 - Mosi tidak percaya muncul ke Trump karena skandal ini. Dalam pemungutan suara yang berlangsung di Kongres AS Selasa, 187 anggota DPR yang mendukung proses impeachment dari total 235 anggota

"Tindakan Presiden Trump mengungkapkan fakta yang tidak terhormat dari pengkhianatan presiden atas sumpah jabatannya," kata Ketua DPR AS Nancy Pelosi.

"Karena itu, hari ini, saya mengumumkan Dewan Perwakilan Rakyat sedang bergerak maju dengan penyelidikan pemakzulan resmi,".

18 Desember 2019 - Trump resmi dimakzulkan oleh DPR AS. Dalam voting yang dilakukan Rabu (18/12/2019) malam waktu AS atau Kamis (19/12/2019) pukul 8.00 WIB, mayoritas DPR menyetujui Trump dimakzulkan.

Voting dilakukan pada dua pasal, yakni penyalahgunaan kekuasaan dan upaya menghalang-halangi kongres. Dalam voting pasal penyalahgunaan kekuasaan, anggota parlemen yang setuju pasal ini sebanyak 230 orang sementara yang menolak sebanyak 197.

Sementara untuk pasal kedua, mayoritas parlemen juga setuju Trump sudah menghalang-halangi kongres. Karenanya presiden kontroversial itu kini resmi menjadi presiden ketiga AS yang dimakzulkan DPR, setelah Bill Clinton dan Andrew Johnson.

Setelah di DPR AS, proses ini pemakzulan akan berlangsung di Senat AS. Perlu diketahui, AS memiliki konsep dua kamar, bukan hanya DPR AS tetapi juga Senat AS. Saat ini DPR dikuasai Demokrat sedangkan Senat dikuasai Republik, yang notabene partai pendukung Trump.

[Gambas:Video CNBC]





(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading