Rampok RI Rp 1 T/Bulan, Duit Mafia Migas Nyebar ke Mana-mana
Anisatul Umah,
CNBC Indonesia
19 December 2019 09:51
Jakarta, CNBC Indonesia - Murkanya Presiden Joko Widodo dalam beberapa bulan terakhir soal pemburu rente minyak belum berhenti.Â
Hitungan tim reformasi tata kelola migas sewaktu membongkar praktik mafia migas di 2014-2015 lalu di tubuh Petral, diketahui para importir minyak ini bisa mendapatkan US$ 1 sampai US$ 3 dari tiap barel impor minyak ke Indonesia.
Jokowi pun jengkel bukan main, ia meyakini ulah-ulah mafia ini masih menggangu sampai sekarang dan membuat RI tak jalan-jalan bangun kilang.
Anggota Tim Reformasi & Tata Kelola Migas (2014-2015), Fahmy Radhi menyebut pembangunan kilang RI selama ini terhalang ulah mafia migas. Akibatnya lebih dari 30 tahun tak ada satupun kilang yang terbangun, kondisi ini membuat Indonesia terus-terusan impor. Dampaknya terjadi defisit neraca perdagangan khususnya di sektor migas yang tidak kunjung rampung.
"Mafia migas itu ada di mana-mana. Ada di Pertamina mungkin ada juga di Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, atau Kementerian Perekonomian yang mana mereka secara inheren bisa mempengaruhi kebijakan," ungkap Fahmy, Rabu, (18/12/2019).
Kebijakan yang dipengaruhi kemudian mencegah adanya pembangunan kilang. Dirinya meyakinkan jika kondisi ini nyata terjadi, pasalnya intruksi presiden sampai lima tahun tidak pernah berjalan. "Ini RI 1 loh yang meminta, tapi kenapa nggak bisa ini kan aneh," imbuhnya.
Lebih lanjut dirinya mengatakan berdasarkan pengalamannya menjadi anggota tim reformasi & tata kelola migas tahun 2014-2015 keberadaan mafia ini sangat kuat dan tersebar di mana-mana. Saat dilakukan kajian, menurutnya banyak ditemukan intervensi impor Bahan Bakar Minyak (BBM).
"Sehingga harganya jadi mahal dan itu merupakan rente bagi mafia. Kami menengarai mengalir kemana-mana menyebabkan mereka sangat powerful sampai sekarang," terangnya.
(gus)
Add
as a preferred
source on Google
Next Article
Petral Sudah Bubar, Kok Jokowi Masih Sebut Mafia Migas?
Hitungan tim reformasi tata kelola migas sewaktu membongkar praktik mafia migas di 2014-2015 lalu di tubuh Petral, diketahui para importir minyak ini bisa mendapatkan US$ 1 sampai US$ 3 dari tiap barel impor minyak ke Indonesia.
Anggota Tim Reformasi & Tata Kelola Migas (2014-2015), Fahmy Radhi menyebut pembangunan kilang RI selama ini terhalang ulah mafia migas. Akibatnya lebih dari 30 tahun tak ada satupun kilang yang terbangun, kondisi ini membuat Indonesia terus-terusan impor. Dampaknya terjadi defisit neraca perdagangan khususnya di sektor migas yang tidak kunjung rampung.
"Mafia migas itu ada di mana-mana. Ada di Pertamina mungkin ada juga di Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, atau Kementerian Perekonomian yang mana mereka secara inheren bisa mempengaruhi kebijakan," ungkap Fahmy, Rabu, (18/12/2019).
Kebijakan yang dipengaruhi kemudian mencegah adanya pembangunan kilang. Dirinya meyakinkan jika kondisi ini nyata terjadi, pasalnya intruksi presiden sampai lima tahun tidak pernah berjalan. "Ini RI 1 loh yang meminta, tapi kenapa nggak bisa ini kan aneh," imbuhnya.
Lebih lanjut dirinya mengatakan berdasarkan pengalamannya menjadi anggota tim reformasi & tata kelola migas tahun 2014-2015 keberadaan mafia ini sangat kuat dan tersebar di mana-mana. Saat dilakukan kajian, menurutnya banyak ditemukan intervensi impor Bahan Bakar Minyak (BBM).
"Sehingga harganya jadi mahal dan itu merupakan rente bagi mafia. Kami menengarai mengalir kemana-mana menyebabkan mereka sangat powerful sampai sekarang," terangnya.
source on Google