Jokowi Mau Berantas Mafia Migas, Andalkan Ahok Saja Tak Cukup

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
19 December 2019 10:09
Salah satu tujuan Jokowi menempatkan Ahok di tubuh Pertamina adalah untuk pengawasan dan tekan impor minyak, cukupkah?
Jakarta, CNBC Indonesia- Presiden Joko Widodo jengkel bukan main soal kilang yang tak bisa dibangun 30 tahun terakhir. Ia meyakini ada ulah para importir minyak yang hobi mengganggu Indonesia.

Keberadaan mafia migas sebenarnya bukan hal baru, bahkan sudah pernah dibongkar habis-habisan oleh tim reformasi tata kelola migas yang digawangi oleh Faisal Basri 2014-2015 lalu.




Hasil temuan tim ditindaklanjuti dengan menutup Petral, anak usaha PT Pertamina (Persero) yang menjadi sarang praktik mafia migas. Kasusnya kemudian ditelusuri oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), meski baru 5 tahun kemudian lembaga anti rasuah ini mengumumkan bekas bos Petral menjadi tersangka mafia impor minyak.

Masalahnya kini, Jokowi meyakini para mafia ini belum berhenti merecoki Indonesia. Lima tahun berjalan pemerintahannya, buktinya soal pembangunan kilang yang ia amanatkan sejak pelantikan belum juga dijalankan.

[Gambas:Video CNBC]



Benarkah ada peran mafia migas lagi meski sarang mereka sudah ditutup?

Anggota Tim Reformasi & Tata Kelola Migas (2014-2015), Fahmy Radhi menyebut pembangunan kilang RI selama ini terhalang ulah mafia migas. Akibatnya lebih dari 30 tahun tak ada satupun kilang yang terbangun, kondisi ini membuat Indonesia terus-terusan impor. Dampaknya terjadi defisit neraca perdagangan khususnya di sektor migas yang tidak kunjung rampung.



"Mafia migas itu ada di mana-mana. Ada di Pertamina mungkin ada juga di Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, atau Kementerian Perekonomian yang mana mereka secara inheren bisa mempengaruhi kebijakan," ungkap Fahmy, Rabu, (18/12/2019).

Menurutnya, tanpa upaya yang sistemik keberadaan mafia ini akan sulit diberantas.

Bahkan, penunjukan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai Komisaris Utama (Komut) PT Pertamina (Persero) menurutnya tidak cukup. Jika Ahok sendirian pemberantasan mafia tidak akan berjalan karena kewenangan Komut terbatas. Ahok menurutnya harus berpartner dengan direksi Pertamina yang lain.

Untuk memberantas mafia ini menurut Fahmy ada dua hal yang perlu dilakukan. Pertama, mengangkat pemimpin pengambil kebijakan yang berintegritas dan tidak mempan pada suap. Kedua harus ada perubahan tata kelola. "Tanpa kedua tadi meski presiden akan menggingit, mafia migas akan mati satu tumbuh seribu," tandasnya.


(gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading