Produksi Batu Bara RI Lampaui Target 2019, kok Bisa?

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
12 December 2019 08:30
Realisasi produksi batu bara Indonesia hingga awal Desember ini sudah melampaui target.
Jakarta, CNBC Indonesia - Realisasi produksi batu bara Indonesia hingga awal Desember ini sudah melampaui target. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono mengatakan per 9 Desember 2019 produksi batu bara mencapai 502,6 juta ton, lampai target 489,7 juta ton.

Realisasi produksi minerba selain batu bara di antaranya, konsentrat tembaga mencapai 1,26 juta ton atau 71,55% dari target tahun ini 1,76 juta ton. Lalu emas mencapai 87,36 ton atau 72,80% dari target tahun ini 120 ton. Sementara produksi perak 394,26 ton atau 135,95% dari target tahun ini 290 ton.

Adapun produksi timah mencapai 63,9 ribu ton atau 91,30% dari target tahun ini 70 ribu ton. Olahan Nikel mencapai 1,51 juta ton atau 175,73% dari target tahun ini 860 ribu ton. Terakhir nikel matte mencapai 58,4 ribu ton atau 74,96% dari target 78 ribu.


"Mineral cukup lumayan baik emas, timah, nikel, tembaga masih bagus cuma ini adalah temuan-temuan atau hasil eksplorasi 10-20 tahun lalu, sekarang ada beberapa tapi tidak banyak. Jika eksplorasi tidak baik maka 15 tahun lagi kita enggak ketemu lagi tambang," ungkapnya dalam Indonesia Mining Outlook 2020 di The Dharmawangsa Hotel, Rabu, (11/12/2019).

Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) 2019 sampai 6 Desember 2019 mencapai Rp 40,32 triliun atau 93,18% dari target tahun ini Rp 43,20 triliun.

Sementara dibandingkan tahun lalu, capaian tahun 2019 ini menurun. Realisasi PNBP tahun 2018 mencapai Rp 50 triliun atau 156% dari target Rp 32,1 triliun.

"Kemudian nilai tambang ini sesuai arahan Presiden [Jokowi] bahwa kalau nilai tambah berhasil dengan baik defisit transaksi berjalan bisa diselesaikan 3 tahun, sehingga batu bara juga harus mulai," imbuhnya.

Kasubdit Pengawasan Usaha Operasi Produksi dan Pemasaran Batu bara Ditjen Minerba Dodik Ariyanto mengatakan beberapa faktor yang mempengaruhi produksi hingga surplus adalah kapasitas produksi yang terpasang melebihi target pemerintah baik di izin usaha pertambangan (IUP) pusat maupun daerah.

Menurutnya karena tingkat produksi sudah ditetapkan sejak awal beberapa perusahaan akhirnya mengajukan revisi Rencana Kegiatan dan Anggaran Biaya (RKAB). Dengan adanya kenaikan yang sedemikian besar produksi sampai akhir tahun diperkirakan mencapai 600 juta ton.

"Adanya penurunan harga membuat beberapa perusahaan mengusulkan kenaikan produksi untuk menutupi biaya produksi yang dikeluarkan karena harga yang relatif rendah," terangnya.

Berangkat dari hal ini dirinya mengaku akan melakukan evaluasi target produksi batu bara untuk tahun 2020. Dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) target produksi batu bara 2020 dipatok sebesar 400 juta ton, namun angka tersebut menurutnya kurang sesuai.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, berdasarkan informasi kebutuhan pasokan dalam negeri untuk kebutuhan batu bara sekitar 150-155 juta. Sedangkan pasar ekspor perkirakan kebutuhan di angka 430 - 420 juta ton.

"Oleh karena itu, tahun depan kami akan tetapkan produksi yang optimal dengan harapan tidak terjadi over supply dan dapat menjamin kestabilan dalam negeri," imbuhnya.

Pengusaha minta kepastian PKP2B


[Gambas:Video CNBC]


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading