Peternak Kecil Gerah Beradu Pasar dengan Peternak 'Raksasa'

News - Efrem Siregar, CNBC Indonesia
04 December 2019 17:57
Peternak Kecil Gerah Beradu Pasar dengan Peternak 'Raksasa'
Jakarta, CNBC Indonesia - Para peternak meminta ada perbedaan segmentasi pasar peternak besar dan kecil, tapi usulan itu jauh panggang dari api. Alasannya tak mudah melakukannya, tapi di sisi lain para peternak kecil merasa tak mampu bersaing dengan pemain besar di pasar.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Suhanto, menanggapi tuntutan para peternak yang sempat menggelar demo di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, pada Rabu pekan lalu. Mereka adalah peternak rakyat yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN).

"Kita melihat aturan berlaku, kita tidak bisa memisahkan," kata Suhanto di Jakarta saat ditanya mengenai tuntuan pemisahan segmen pasar peternak kecil dan besar, Rabu (4/12/2019).


Pemisahan segmen keduanya dinilai bertentangan dengan UU Komisi Pengawas Persaingan Usaha. Ia mengaku belum ada pembahasan lebih lanjut untuk tuntutan ini.

"Nanti kalau peternak nggak bisa pasok, harga naik, yang rugi siapa? Sesuai UU KPPU apa boleh mengkotak-kotakkan pelaku usaha?" ujar Suhanto.

Peternak kecil menilai dengan kondisi saat ini, mereka sulit bersaing dengan peternak besar saat berada di segmen pasar yang sama, yaitu pasar tradisional. Untuk itulah mereka meminta pemerintah mengatur segmentasi pasar peternak.

"Dan juga segmen pasarnya, karena memang ini kan perusahaan besar juga ikut budi daya, segmen pasarnya mengikuti kita. Kita kan di pasar tradisional, karena memang kita peternak rakyat. Kalau kita di pasar yang sama dengan peternak besar, kita pasti kalah," kata perwakilan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Jateng, Parjuni saat aksi dikutip dari detikcom, Rabu (27/11/2019).

Aksi dilancarkan setelah peternak mengalami kerugian karena harga ayam di tingkat peternak anjlok. Sesuai Permendag 96/2018, harga acuan pembelian di tingkat petani untuk daging ayam ras berkisar Rp18.000 sampai Rp20.000 per kg. Tetapi, sebagian peternak saat itu mengaku harga ayam di lapangan justru berkisar Rp14.000 per kg.

Peternak rata-rata mengalami kerugian miliaran rupiah akibat rendahnya harga daging ayam. Kerugian diklaim mencapai Rp2 Triliun.

Namun, Suhanto mengklaim harga ayam di tingkat petani pada saat ini di lapangan kembali menyentuh harga acuan Rp18.000 per kg berdasarkan pantauan tim Kemendag.

"Yang penting sekarang bagaimana kita mendorong harga agar bisa sesuai perhitungan menurut acuan di tingkat Rp18.000 mereka sudah dapat untung," kata Suhanto. (hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading