Fenomena Tanah Abang Sepi, Satu Lagi Bukti Ekonomi Lesu Nih

News - Efrem Siregar, CNBC Indonesia
22 November 2019 13:53
Fenomena Tanah Abang Sepi, Satu Lagi Bukti Ekonomi Lesu Nih
Jakarta, CNBC Indonesia - Cerita berdesak-desakan saat berbelanja di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat seolah kisah usang masa lalu. Kini, melangkah di pasar Tanah Abang relatif lebih lengang.

CNBC Indonesia sempat menyambangi kawasan ini pada Selasa Sore (19/11) sekitar pukul 16.00. Arus lalu lintas dari arah Jati Baru dan Stasiun Tanah Abang juga sangat lancar, tak mencerminkan anggapan bahwa jalan di sekitar Pasar Tanah Abang yang selalu identik dengan kepadatan.

Sehari berselang, kami sambangi Blok B Tanah Abang, Rabu (20/11) sekitar pukul 15.00. Suasana di dalam pasar, tampak sepi tak biasanya, beberapa ruko tutup. Tidak banyak lalu-lalang pembeli. Penampakan pasar Tanah Abang dan sekitar memang dua hari itu memang tak padat.


Penasaran, kami pun kembali menyambangi kawasan ini pada Kamis (21/11), kali ini pagi hari hingga siang hari. Kali ini beberapa blok di Tanah Abang kami telusuri lantai demi lantai, dan hasilnya memang memberi kesan Tanah Abang dari pantauan tiga hari berturut-turut tak seramai sebagai pasar yang tersohor penuh kesibukan dan lalu lalang orang yang sangat padat.

Kini, penampakan lorong-lorong yang masih terlihat sepi di blok-blok Pasar Tanah Abang sudah hal biasa. Menurut sejumlah pedagang, kondisi sepi di Pasar Tanah Abang sudah mulai terasa setahun terakhir.

Sri, pedagang toko Zaid di blok F mengatakan, sepinya hilir-mudik pengunjung, seingatnya sudah berlangsung sejak setahun terakhir. Ia mengklaim penjualan gamis turun hampir mencapai 50% dibanding tahun sebelumnya.

"Ini sudah hampir setahun lebih, kan bisa dilihat perekonomian juga turun," kata Sri saat berbincang dengan CNBC Indonesia, Kamis (21/11/2019).




Sementara itu, Fauziah, yang juga pedagang gamis mengatakan, penurunan terasa setelah demonstrasi pasca-Pemilu 2019 pada Mei lalu. Akhir pekan yang biasanya bisa mendongkrak penjualan juga tak terlalu banyak membantu belakangan ini.

"Sabtu-Minggu yang lewat banyak tapi belum tentu belanja, yang belanja sama aja [hasilnya seperti weekday]," kata Fauziah.

Ia sudah mencoba memosting di Facebook dan mempromosikan barang dagangannya melalui WhatsApp, namun Fauziah mengaku itu belum cukup mengangkat penjualan.

Pedagang lain, Muhaimin, mengalami nasib serupa. Menjelang Natal dan Tahun Baru, adalah momen orang-orang akan berburu pakaian di tempatnya. Namun, saat ini ia justru penjualannya sepi.

"Kadang sehari cuma untuk penglaris saja," katanya yang berjualan pakaian anak-anak ini.

Beberapa pedagang yang ditemui CNBC Indonesia mengungkapkan persoalan ini ditengarai akibat perpindahan gaya berbelanja orang ke online alias tak melalui tatap muka langsung dengan pedagang. Dirut PD Pasar Jaya Arief Nasrudin juga mengatakan demikian saat dikonfirmasi. Menurutnya, kondisi di sana merupakan persaingan antar pedagang dan juga pelanggan yang sudah mengorder barang melalui online dan sambungan telepon sehingga memang tak perlu datang langsung ke Tanah Abang.

Namun di sisi lain, pedagang grosir Blok A, Lucas, mengaku pelanggannya yang rata-rata berjualan di lapak online juga mengalami kelesuan penjualan. Itu juga yang membuat permintaan barang di toko Lucas di Tanang Abang juga turun.

"Belanja toko online juga ngedrop. Bukan kita doang. Perekonomian kurang bagus," kata Lucas.

Namun, Arief Nasrudin membantah terjadi kelesuan di Tanah Abang. Ia beranggapan bahwa sebenarnya itu bentuk persaingan antar pedagang. Pun dengan fenomena belanja online yang marak saat ini.

"Persaingan semakin banyak, ada kompetesi lama [yang harus] diantisipasi pedagang," kata Arief kepada CNBC Indonesia, Kamis (21/11/2019).

Walaupun pertumbuhan ekonomi Indonesia Triwulan III 2019 di angka 5,02% atau dalam tren melambat, Arief mengatakan bukan berarti perdagangan juga ikut menurun.

"Apapun antisipasi dengan Pertumbuhan Ekonomi 5,02% ketika memang terjadi kelesuan apa dampaknya signifikan, ini perlu dikaji lebih dalam," kata Arief.

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading