Wah! Pasar Tanah Abang Kok Sekarang Sepi, Ada Apa Ya?

News - Efrem Siregar, CNBC Indonesia
22 November 2019 12:48
Ada fenomena kondisi Pasar Tanah Abang tak seramai dahulu.
Jakarta, CNBC Indonesia - Di salah satu tepi jalan, penampakan tumpukan karung berisi pakaian tersusun berjejer. Ada tulisan jelas di salah satu kemasan karung 'Tujuan Pengiriman Lampung'. Beberapa orang bersiap membawa karung-karung itu untuk dikirim kepada pembeli.

Begitulah sekelumit gambaran Kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat yang dikenal sebagai pusat perbelanjaan tekstil dan garmen terbesar di Indonesia, bahkan disebut juga sebagai yang terbesar di Asia Tenggara. Produk-produk Tanah Abang banyak disebar ke pusat-pusat perdagangan garmen antar pulau, termasuk Sumatera.

Hilir-mudik manusia tentu sangat lazim di Pasar Tanah Abang. Selain itu, lalu lintas yang padat menjadi pemandangan umum di siang hari apalagi menjelang hari-hari perayaan besar.




CNBC Indonesia sempat menyambangi kawasan ini pada Selasa Sore (19/11) sekitar pukul 16.00. Arus lalu lintas dari arah Jati Baru dan Stasiun Tanah Abang juga sangat lancar, tak mencerminkan anggapan bahwa jalan di sekitar Pasar Tanah Abang yang selalu identik dengan kepadatan.

Sehari berselang, kami sambangi Blok B Tanah Abang, Rabu (20/11) sekitar pukul 15.00. Suasana di dalam pasar, tampak sepi tak biasanya, beberapa ruko tutup. Tidak banyak lalu-lalang pembeli. Penampakan pasar Tanah Abang dan sekitar memang dua hari itu memang tak padat.

Penasaran, kami pun kembali menyambangi kawasan ini pada Kamis (21/11), kali ini pagi hari hingga siang hari. Kali ini beberapa blok di Tanah Abang kami telusuri lantai demi lantai, dan hasilnya memang memberi kesan Tanah Abang tiga hari berturut-turut tak seramai sebagai pasar yang tersohor.

Kami mencoba bertanya kepada sekitar 10 pedagang di Tanah Abang, semuanya kompak mengakui penjualannya sedang lesu. Para pedagang mengaku arus pengunjung di Tanah Abang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Wah! Pasar Tanah Abang Kok Sekarang Sepi, Ada Apa Ya?Foto: Tanah Abang (CNBC Indonesia/Tri Susilo)


Pada pantauan, Kamis Pagi (21/11) beberapa penjaga toko memang tak tampak sedang melayani pengunjung. Penjaga toko umumnya terlihat bersenda gurau dengan pedagang lainnya untuk melepas rasa bosan mereka. Selain itu, tampak beberapa toko tutup saat siang hari. Saat ditanya mengapa toko-toko itu tutup, beberapa pedagang di sekitar toko yang tutup mengaku tak mengetahui alasannya.

Ika, pedagang busana kerja pria dan wanita Naila di Metro Tanah Abang yang kami wawancarai, sedang menanti pengunjung dari balik etalase toko. Ika mengatakan tahun ini lalu keramaian di di Tanah Abang memang berbeda dibanding tahun lalu. Ia bilang tahun ini relatif lebih sepi. Untuk mengusir suntuk, Ika lebih banyak menghabiskan waktu bermain gawai sambil sesekali menata barang-barang di toko.

"Penurunan drastis tahun ini. Dibanding bulan November tahun 2018 nggak sesepi ini," ucap Ika kepada CNBC Indonesia, Kamis (21/11/2019).

Pelanggan Ika berasal dari daerah asal pelanggannya yakni Aceh, Banjarmasin, dan Dili (Timor Leste). Ia mendapat laporan dari para pembelinya, juga sedang mengalami penjualan yang lesu di daerah, karena itu mereka juga mengurangi pembelian.

Singkat cerita, menurutnya transaksi penjualan tahun ini jauh lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya. Ika pernah merasakan masa puncak pada tahun 2013 di mana dia bisa meraup volume besar hingga mencapai 7 karung per hari. Namun, kini hanya rata-rata 7 lusin per hari.

Wah! Pasar Tanah Abang Kok Sekarang Sepi, Ada Apa Ya?Foto: Ruko Tanah Abang (CNBC Indonesia/Tri Susilo)


"Satu karung berisi rata-rata 25-30 lusin produk tekstil," kata Ika yang sudah 7 tahun berjualan di Tanah Abang.

Pedagang lain di Metro Tanah Abang juga mengaku mengalami tren penurunan pengunjung yang berdampak pada penjualan. Pedagang gamis di Blok F1, Maman, mengaku penurunan terjadi di tempatnya sejak Idul Adha atau awal Agustus 2019. Beberapa pedagang yang enggan disebut namanya menyatakan hal serupa, terlebih setelah beberapa kali kawasan Tanah Abang pernah dilanda aksi demonstrasi pasca-Pemilu 2019 lalu.

"Sekarang per hari rata-rata bisa menjual 3 atau 4 potong," kata Maman yang mengaku sebelum Idul Adha mampu melepas 10 gamis dari tokonya.

Maman menduga bahwa penurunan pengunjung terjadi lantaran pergeseran gaya belanja pembeli yang sudah beralih menggunakan platform online. Ia mengaku belum memiliki toko online untuk memasarkan dagangannya. Penjualannya biasa meningkat saat hari Kamis dan akhir pekan, namun belakangan ia mengaku keadaan sedikit fluktuatif, terkadang ramai dan juga sepi.

Kondisi serupa juga terjadi pada pedagang di blok lainnya. Muhaimin pedagang pakaian anak di Blok C sedang berjaga di luar kiosnya, namun tidak ada hilir mudik orang di lorongnya meski waktu masih menunjukkan pukul 13.00 WIB.

Wah! Pasar Tanah Abang Kok Sekarang Sepi, Ada Apa Ya?Foto: Ruko Tanah Abang (CNBC Indonesia/Tri Susilo)


Selain perpindahan ke online, pedagang lain mengatakan lesunya kunjungan diduga akibat perlambatan perekonomian yang membuat orang menunda berbelanja.

Di sisi lain, fenomena gaya belanja online juga tak sepenuhnya menjadi alasan. Lucas yang merupakan penjual grosir dan distributor pakaian T-Shirt, kaos berkerah a la Polo, dan sebagainya mengaku pelanggannya yang berjualan di online mengatakan kondisi penjualan online juga lesu.

"Belanja toko online juga ngedrop. Bukan kita doang. Perekonomian kurang bagus," ujar Lucas.

Benarkah Pasar Tanah Abang sedang mengalami masa-masa sepi pengunjung?

Dirut PD Pasar Jaya Arief Nasrudin membantah soal perdagangan yang menurun di Pasar Tanah Abang. Menurutnya, kondisi di sana merupakan persaingan antar pedagang dan juga pelanggan yang sudah mengorder barang melalui online dan sambungan telepon sehingga memang tak perlu datang langsung ke Tanah Abang.

"Walau pertumbuhan ekonomi [Triwulan III 2019] menurun 5,02%, bukan berarti perdagangan menurun," ucap Arief kepada CNBC Indonesia,

PD Pasar Jaya merupakan pengeloa area Blok A, Blok B, Blok F dan Blok G. Arief belum dapat menyimpulkan terjadi tren penurunan atau tidak. Namun, berdasarkan jumlah toko, Arief meyakini kekosongan kios-kios yang ada sekarang tidak jauh berbeda dengan tahun lalu.

Ia kemudian melihat dari sisi konsumen, apa yang menjadi skala prioritas mereka terutama saat ini mendekati musim liburan. "Apakah prioritas mereka belanja atau tidak, apalagi sekarang memasuki musim liburan, mungkin ada sedang menabung atau lainnya," katanya.

"Apapun antisipasi dengan Pertumbuhan Ekonomi 5,02% ketika memang terjadi kelesuan apa dampaknya signifikan, ini perlu dikaji lebih dalam," kata Arief.

[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading