Seksi Tapi Sepi, ESDM Desak SKK Segera Comblangi Blok Masela

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
19 November 2019 14:44
Seksi Tapi Sepi, ESDM Desak SKK Segera Comblangi Blok Masela
Jakarta, CNBC Indonesia - Pelaksana Tugas Dirjen Migas Djoko Siswanto meminta agar Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) untuk segera mencari pembeli Blok Masela.

"Saya cuma titip pesen ke SKK, cepet cepet cari pembeli gas Masela. Kan itu aja," terangnya Senin, (18/11/2019) di Kementerian ESDM.

Lebih lanjut dirinya mengatakan semakin cepat ada kepastian pembeli akan semakin baik, sehingga Final Invesment Decision (FID) cepat selesai.


"Proyek tidak molor lagi, makin cepat makin baik. Peraturannya kan SKK menunjuk pembeli, siapa terserah. Pokoknya pesan saya cuma satu masela. tanda tangan PJBG GSA, makin cepet makin bagus," imbuhnya.



Sebelumnya, CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda menuturkan, Inpex mengklaim proyek Lapangan Abadi di Blok Masela akan memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi pendapatan Indonesia sampai dengan US$ 153 miliar atau setara Rp 2.142 triliun (kurs Rp14 ribu per dolar AS) hingga akhir fase produksi pada 2055 mendatang.

Klaim tersebut berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) dan Universitas Pattimura Ambon (UNPATTI).

"Dampak terhadap ekonomi nasional ini diperkirakan berasal dari investasi dan pengembangan Blok Masela. Dampak tersebut bersifat langsung dan tidak langsung," ujarnya, di Jakarta, Selasa (16/7/2019).

Ia menuturkan setelah persetujuan revisi PoD ini, pihaknya akan melangkah ke tahap selanjutnya yakni proses rekayasa awal atau Front End Engineering Design (FEED). Kemudian selanjutnya adalah Keputusan Final Investasi atau Final Investment Decision (FID).

Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, menuturkan investasi yang dibutuhkan untuk mengerjakan proyek Lapangan Abadi yakni sebesar US$ 42 miliar, sampai 2055.

"Investasi Rp 288 triliun atau US$ 22 miliar itu sampai 2027, nah nanti yang US$ 22 miliar itu antara 2027 sampai 2055. Seluruh spending sampai 2055 itu US$ 42 miliar. Untuk investasi setiap tahun, ada pemboran, ada operasional, dan sebagainya," tandas Dwi.

[Gambas:Video CNBC]

(gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading