Sssttt... Ada yang Bilang Pertumbuhan Ekonomi RI di Bawah 5%

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
19 November 2019 12:59
Sssttt... Ada yang Bilang Pertumbuhan Ekonomi RI di Bawah 5%
Jakarta, CNBC Indonesia - JP Morgan, bank yang berkantor pusat di New York (Amerika Serikat/AS), punya ramalan yang agak seram seputar perekonomian Indonesia. Tahun ini, pertumbuhan ekonomi Tanah Air diperkirakan tidak sampai 5%.

Dalam riset yang dikutip Selasa (19/11/2019), JP Morgan memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2019 hanya tumbuh 4,9%. "Kami menilai kelesuan ini disebabkan oleh belanja modal yang melambat," sebut riset itu.

Menurut proyeksi JP Morgan, konsumsi (rumah tangga dan pemerintah) pada 2019 hanya akan tumbuh 3%. Kemudian investasi, seiring dengan belanja modal yang melambat, hanya tumbuh 1,3%. Lalu net ekspor diramal tumbuh 0,5%.



Tekanan terhadap perekonomian Indonesia, lanjut riset JP Morgan, masih berlanjut pada 2020. Tahun depan, ekonomi Indonesia lagi-lagi diperkirakan hanya tumbuh 4,9%. Konsumsi masih akan tumbuh 3% pada 2020. Kemudian pertumbuhan investasi membaik menjadi 1,8%, sementara sumbangan net ekspor turun karena hanya tumbuh 0,1%.

Namun, Indonesia bukan tanpa prestasi. JP Morgan memperkirakan inflasi domestik masih akan terkendali akibat harga minyak yang kemungkinan masih akan bertahan di level rendah sampai tahun depan.

Inflasi sepanjang 2019 diperkirakan 2,8%, lebih rendah dibandingkan 2018 yang sebesar 3,2%. Sementara inflasi 2020 justru diperkirakan melambat menjadi 2,5%.

Ke depan, menurut riset JP Morgan, Indonesia masih harus memperhatikan tekanan defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD). Tahun ini, transaksi berjalan diperkirakan defisit 2,6% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan tahun depan semakin dalam menjadi 2,7% PDB.


JP Morgan memandang pelebaran defisit transaksi berjalan tidak lepas dari perubahan fokus kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pada periode pertama, Jokowi terlihat lebih mengutamakan stabilitas ketimbang pertumbuhan ekonomi (stability over growth). Fokus ini sepertinya berbalik di periode kedua.

"Perubahan ini akan membuat suku bunga acuan cenderung turun, dan akan ada akselerasi belanja infrastruktur. Akibatnya, defisit transaksi berjalan akan melebar pada akhir 2019 dan 2020," tegas riset JP Morgan.

JP Morgan juga memberi beberapa masukan agar Indonesia bisa menjaga transaksi berjalan. Indonesia harus meningkatkan ekspor, mengurangi ketergantungan terhadap arus modal di sektor keuangan (hot money), serta menghapus berbagai hambatan di sisi suplai seperti di sektor migas dan manufaktur.

"Reformasi aturan ketenagakerjaan juga sangat dinantikan oleh pasar," tulis riset itu.

[Gambas:Video CNBC]

(aji/wed)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading