Wah! Dahlan Tanyakan Prestasi Ahok yang Bakal Jadi Bos BUMN
Ferry Sandi,
CNBC Indonesia
19 November 2019 06:06
Berikut adalah tulisan lengkap Dahlan seperti dikutip dari laman disway.id
"Orang berprestasi cenderung sukses ditempatkan di mana pun".
Â
Itu sering saya ucapkan di mana-mana. Di berbagai forum. Terutama forum SDM. Atau di depan kuliah umum di kampus.
Â
Kesimpulan itu datang dari pengalaman panjang --30 tahun menggeluti dunia manajemen. Baik di orsos, pesantren, di perusahaan swasta, di BUMN.
Â
Apakah Ahok --ups, maafkan-- apakah BTP itu orang berprestasi?
Â
Sehingga akan ditempatkan di salah satu BUMN?
Â
Rencana itu sangat sangat baik. Kalau BTP memang dianggap orang yang selama ini berprestasi. Lepas siapapun ia. Apa pun pendidikannya. Di mana pun perjalanan karir sebelumnya.
Â
Bagaimana kalau ada penilaian BTP itu hanya berprestasi dalam membuat kehebohan?
Â
Terserah yang menilai dan yang diberi nilai.
Â
Tapi kalau benar begitu penempatannya di BUMN merupakan sebuah perjudian. Kalau penempatannya di BUMN besar perjudiannya juga besar.
Â
Apakah BUMN sebuah perusahaan yang layak diperjudikan?
Â
Tergantung pemiliknya.
Â
Mungkin saja sang pemilik menilai BTP itu orang yang berprestasi.
Â
Perusahaan itu ditentukan sepenuhnya oleh pemegang saham mayoritasnya.
Â
Kenapa sudah heboh --padahal itu baru tingkat rencana? Faktanya pun baru dua: BTP dipanggil Menteri BUMN Erick Thohir. Lalu BTP mengatakan --bukan menteri yang mengatakan-- bahwa dirinya dipanggil untuk ditempatkan di salah satu BUMN.
Â
Belum ada indikasi di BUMN mana. Besar? Kecil? Yang sudah laba? Yang masih rugi?
Â
Juga belum jelas sebagai apa. Direktur utama? Direktur? Komisaris Utama? Komisaris?
Â
Masih banyak fakta yang harus saya lihat. Untuk bisa berkomentar lebih panjang.
Â
Tapi ada prinsip yang harus dipegang: perusahaan pun perlu ketenangan. Perusahaan tidak bisa maju kalau hebohnya lebih besar dari kerjanya.
Â
Itulah sebabnya saya menulis dengan penuh harap. Sampai beberapa kali. Di DI's Way. Tentang perlunya situasi tenang sekarang ini. Terutama setelah terbentuknya kabinet baru.
Â
Isi tulisan saya adalah "semoga kabinet baru ini penuh ketenangan agar bisa fokus bekerja". Semoga tidak banyak usrek. Agar ekonomi bisa segera mulai bangkit.
Â
Begitu juga di perusahaan: perlu kestabilan. Apalagi perusahaan besar. Yang ibaratnya kapal besar. Yang tidak mudah dibelok-belokkan.
Â
Memang, bisa juga sukses diraih lewat kehebohan. Tapi sukses seperti itu biasanya hanya di permukaan. Dan untuk jangka pendek.
Â
Mungkin karena itu lahirlah filsafat "benang berhasil ditarik, tepung tidak terhambur".
Â
Filsafat itu sering juga salah dalam penerapannya: tepungnya memang tidak terhambur tapi benangnya juga tidak tercabut. Banyak perusahaan yang tenang tapi juga tidak maju.
Â
Saya justru tertarik pada sosok lain. Yang sudah nyata-nyata berhasil menarik benang dan menjaga tepung: Arief Yahya.
Â
Ia mantan Menteri Pariwisata. Yang sayang sekali tidak lagi mendapat kursi. Hanya karena ia tidak punya partai.
Â
Selama Arief Yahya menjadi menteri tidak terjadi kehebohan di Kementerian Pariwisata. Tapi hasilnya begitu nyata. Semua target tercapai. Bahkan masih sempat meletakkan fondasi.
Â
Banyak pimpinan yang hanya mementingkan sukses jangka pendek. Sesuai dengan masa kerjanya. Atau hanya bisa meletakkan fondasi.
Â
Fondasi seperti itu yang membuat pemimpin berikutnya cepat sukses. Meski ada juga pemimpin baru yang tidak mau pakai fondasi yang disiapkan.
Â
Arief Yahya bisa mengerjakan dua-duanya. Sukses dalam meletakkan fondasi juga sukses mencapai target-target. Tanpa heboh-heboh.
Â
Untuk pertama kali dalam sejarah: pariwisata kita menghasilkan USD 20 miliar dolar setahun. Tahun 2019 ini.
Â
Itulah prestasi nyata pemerintahan Jokowi periode pertama. Yang jarang diekspos. Kalah dengan heboh-heboh yang lain.
Â
Jenis orang seperti Arief Yahya itulah yang saya maksud dengan orang yang berprestasi. Di mana pun ia ditempatkan akan seperti itu. Bahkan di bidang yang berbeda sama sekali pun.
Â
Itu pula pertimbangan saya dulu menempatkannya sebagai Dirut Telkom Indonesia.
Â
Orang sejenis Arief Yahya hanya bisa tidak sukses untuk jadi caleg atau capres atau cagub dan cawali. Ia tidak populer. Padahal sistem pemilihan kita sekarang mementingkan yang populer --melebihi yang berprestasi.
Â
Kita punya banyak sekali orang seperti Arief Yahya itu.
Â
Kalau saja orang jenis itu bisa banyak tampil alangkah cepat majunya Indonesia.
Â
Pun tidak usah semua. Cukup 70 persennya saja. Agar yang populer juga tetap mendapat muara.(Dahlan Iskan)
(miq/miq)
"Orang berprestasi cenderung sukses ditempatkan di mana pun".
Â
Itu sering saya ucapkan di mana-mana. Di berbagai forum. Terutama forum SDM. Atau di depan kuliah umum di kampus.
Â
Kesimpulan itu datang dari pengalaman panjang --30 tahun menggeluti dunia manajemen. Baik di orsos, pesantren, di perusahaan swasta, di BUMN.
Â
Apakah Ahok --ups, maafkan-- apakah BTP itu orang berprestasi?
Â
Sehingga akan ditempatkan di salah satu BUMN?
Â
Rencana itu sangat sangat baik. Kalau BTP memang dianggap orang yang selama ini berprestasi. Lepas siapapun ia. Apa pun pendidikannya. Di mana pun perjalanan karir sebelumnya.
Â
Bagaimana kalau ada penilaian BTP itu hanya berprestasi dalam membuat kehebohan?
Â
Terserah yang menilai dan yang diberi nilai.
Â
Tapi kalau benar begitu penempatannya di BUMN merupakan sebuah perjudian. Kalau penempatannya di BUMN besar perjudiannya juga besar.
Â
Apakah BUMN sebuah perusahaan yang layak diperjudikan?
Â
Tergantung pemiliknya.
Â
Mungkin saja sang pemilik menilai BTP itu orang yang berprestasi.
Â
Perusahaan itu ditentukan sepenuhnya oleh pemegang saham mayoritasnya.
Â
Kenapa sudah heboh --padahal itu baru tingkat rencana? Faktanya pun baru dua: BTP dipanggil Menteri BUMN Erick Thohir. Lalu BTP mengatakan --bukan menteri yang mengatakan-- bahwa dirinya dipanggil untuk ditempatkan di salah satu BUMN.
Â
Belum ada indikasi di BUMN mana. Besar? Kecil? Yang sudah laba? Yang masih rugi?
Â
Juga belum jelas sebagai apa. Direktur utama? Direktur? Komisaris Utama? Komisaris?
Â
Masih banyak fakta yang harus saya lihat. Untuk bisa berkomentar lebih panjang.
Â
Tapi ada prinsip yang harus dipegang: perusahaan pun perlu ketenangan. Perusahaan tidak bisa maju kalau hebohnya lebih besar dari kerjanya.
Â
Itulah sebabnya saya menulis dengan penuh harap. Sampai beberapa kali. Di DI's Way. Tentang perlunya situasi tenang sekarang ini. Terutama setelah terbentuknya kabinet baru.
Â
Isi tulisan saya adalah "semoga kabinet baru ini penuh ketenangan agar bisa fokus bekerja". Semoga tidak banyak usrek. Agar ekonomi bisa segera mulai bangkit.
Â
Begitu juga di perusahaan: perlu kestabilan. Apalagi perusahaan besar. Yang ibaratnya kapal besar. Yang tidak mudah dibelok-belokkan.
Â
Memang, bisa juga sukses diraih lewat kehebohan. Tapi sukses seperti itu biasanya hanya di permukaan. Dan untuk jangka pendek.
Â
Mungkin karena itu lahirlah filsafat "benang berhasil ditarik, tepung tidak terhambur".
Â
Filsafat itu sering juga salah dalam penerapannya: tepungnya memang tidak terhambur tapi benangnya juga tidak tercabut. Banyak perusahaan yang tenang tapi juga tidak maju.
Â
Saya justru tertarik pada sosok lain. Yang sudah nyata-nyata berhasil menarik benang dan menjaga tepung: Arief Yahya.
Â
Ia mantan Menteri Pariwisata. Yang sayang sekali tidak lagi mendapat kursi. Hanya karena ia tidak punya partai.
Â
Selama Arief Yahya menjadi menteri tidak terjadi kehebohan di Kementerian Pariwisata. Tapi hasilnya begitu nyata. Semua target tercapai. Bahkan masih sempat meletakkan fondasi.
Â
Banyak pimpinan yang hanya mementingkan sukses jangka pendek. Sesuai dengan masa kerjanya. Atau hanya bisa meletakkan fondasi.
Â
Fondasi seperti itu yang membuat pemimpin berikutnya cepat sukses. Meski ada juga pemimpin baru yang tidak mau pakai fondasi yang disiapkan.
Â
Arief Yahya bisa mengerjakan dua-duanya. Sukses dalam meletakkan fondasi juga sukses mencapai target-target. Tanpa heboh-heboh.
Â
Untuk pertama kali dalam sejarah: pariwisata kita menghasilkan USD 20 miliar dolar setahun. Tahun 2019 ini.
Â
Itulah prestasi nyata pemerintahan Jokowi periode pertama. Yang jarang diekspos. Kalah dengan heboh-heboh yang lain.
Â
Jenis orang seperti Arief Yahya itulah yang saya maksud dengan orang yang berprestasi. Di mana pun ia ditempatkan akan seperti itu. Bahkan di bidang yang berbeda sama sekali pun.
Â
Itu pula pertimbangan saya dulu menempatkannya sebagai Dirut Telkom Indonesia.
Â
Orang sejenis Arief Yahya hanya bisa tidak sukses untuk jadi caleg atau capres atau cagub dan cawali. Ia tidak populer. Padahal sistem pemilihan kita sekarang mementingkan yang populer --melebihi yang berprestasi.
Â
Kita punya banyak sekali orang seperti Arief Yahya itu.
Â
Kalau saja orang jenis itu bisa banyak tampil alangkah cepat majunya Indonesia.
Â
Pun tidak usah semua. Cukup 70 persennya saja. Agar yang populer juga tetap mendapat muara.(Dahlan Iskan)
(miq/miq)