Ini Rahasia Laba Moncer Pertamina
Anisatul Ummah,
CNBC Indonesia
11 November 2019 08:14
Jakarta, CNBC Indonesia - Hingga kuartal III 2019 laba PT Pertamina (Persero) mencapai mencapai US$ 753 juta atau setara dengan Rp 10,54 triliun (asumsi kurs Rp 14.000/US$).
Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero) Pahala Mansury mengatakan laba tersebut belum termasuk dengan angka penggantian atau kompensasi selisih harga jual yang biasanya diberikan oleh pemerintah ke Pertamina.
"Kurang lebih US$ 753 juta tapi kalau kita masukkan komponen penggantian akun atau pun kompensasi untuk selisih harga jual itu ada kurang lebih US$ 1 miliar [Rp 14 triliun]," ujar Pahala akhir pekan lalu.
Menurutnya jika dengan cairnya kompensasi, laba yang bisa dibukukan Pertamina di kuartal III bisa mencapai US$ 1,7 miliar atau Rp 23,80 triliun.
"Kalau termasuk potensi pendapatan dari kompensasi, tapi kan biasanya memang kompensasi harus menunggu audit BPK dan keputusan Menkeu. Kalau tidak termasuk itu, kurang lebih US$ 753 juta," jelasnya.
Sebagai perbandingan, laba bersih perusahaan pada tahun 2018 mencapai US$ 2,53 miliar atau setara Rp 36 triliun. Tidak hanya laba, Pertamina juga merilis realisasi investasi hingga kuartal III 2019 baru mencapai 45%.
Menurutnya tahun 2019 perseroan menargetkan investasi senilai US$ 4,3 miliar. "Tapi memang biasanya kan akselerasi capex kita baru mendekati akhir tahun, insya Allah bisa tercapai di akhir tahun," kata Pahala.
Lebih lanjut dirinya mengatakan, dari target investasi tersebut, sebanyak US$ 2,5 miliar dialokasikan untuk sektor hulu atau sekitar 60%. Sementara sisanya untuk hilir, paling banyak dikembangkan untuk proyek kilang.
Proyeksi perusahaan sampai akhir tahun realisasi bisa mencapai US$ 2,6 miliar, dan untuk sektor hulu diperkirakan bisa sentuh 80-90% dari target. Paling banyak untuk sektor hulu dialokasikan untuk anak usaha Pertamina yang mengelola blok Mahakam.
(sef/sef) Add
as a preferred
source on Google
Next Article
Sampai Oktober 2024, Laba Pertamina Tembus Rp 41,34 Triliun
Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero) Pahala Mansury mengatakan laba tersebut belum termasuk dengan angka penggantian atau kompensasi selisih harga jual yang biasanya diberikan oleh pemerintah ke Pertamina.
"Kurang lebih US$ 753 juta tapi kalau kita masukkan komponen penggantian akun atau pun kompensasi untuk selisih harga jual itu ada kurang lebih US$ 1 miliar [Rp 14 triliun]," ujar Pahala akhir pekan lalu.
"Kalau termasuk potensi pendapatan dari kompensasi, tapi kan biasanya memang kompensasi harus menunggu audit BPK dan keputusan Menkeu. Kalau tidak termasuk itu, kurang lebih US$ 753 juta," jelasnya.
Sebagai perbandingan, laba bersih perusahaan pada tahun 2018 mencapai US$ 2,53 miliar atau setara Rp 36 triliun. Tidak hanya laba, Pertamina juga merilis realisasi investasi hingga kuartal III 2019 baru mencapai 45%.
Menurutnya tahun 2019 perseroan menargetkan investasi senilai US$ 4,3 miliar. "Tapi memang biasanya kan akselerasi capex kita baru mendekati akhir tahun, insya Allah bisa tercapai di akhir tahun," kata Pahala.
Lebih lanjut dirinya mengatakan, dari target investasi tersebut, sebanyak US$ 2,5 miliar dialokasikan untuk sektor hulu atau sekitar 60%. Sementara sisanya untuk hilir, paling banyak dikembangkan untuk proyek kilang.
Proyeksi perusahaan sampai akhir tahun realisasi bisa mencapai US$ 2,6 miliar, dan untuk sektor hulu diperkirakan bisa sentuh 80-90% dari target. Paling banyak untuk sektor hulu dialokasikan untuk anak usaha Pertamina yang mengelola blok Mahakam.
(sef/sef) Add
source on Google