Ekonomi Lemah-Lesu, Jualan Toko-Toko Elektronik Anjlok

News - Efrem Siregar, CNBC Indonesia
07 November 2019 15:45
Pedagang elektronik mengaku terjadi penurunan penjualan dalam beberapa bulan terakhir.
Jakarta, CNBC Indonesia - Perdagangan barang elektronik di ritel modern maupun tradisional mengalami kelesuan hingga penjualan turun. Ini sejalan dengan fenomena di area pertokoan elektronik yang tampak sepi di Jakarta.

Di Pusat Grosir Cililitan (PGC), Jakarta Timur misalnya, sejumlah pedagang mengakui omzet penjualan turun sejak tiga bulan terakhir. Kondisi tersebut terkait dari kunjungan pelanggan yang cenderung mengalami penurunan ke area pertokoan di lantai 3 tersebut.

"Penjualan elektronik memang lagi kurang sejak Oktober. [Awal] November belum ada laku," Aben pegawai Diamond Cellular yang mengaku omset penjualan gawai turun sekitar 40% sejak September.


Kelesuan serupa dialami pedagang lain yang juga mengaku mengalami penurunan. Pimpinan brand gawai yang berdagang di area Lippo Mall Kramat Jati, Pieter Ririmase, mengaku penurunan drastis terjadi pada Agustus 2019. Penjualan perlahan naik tipis September dan Oktober, namun tak signifikan dan cenderung fluktuatif.



Begitu pun pedagang barang elektronik berupa AC, TV dan mesin cuci di ritel tradisional Kramat Djati yang juga mengaku mengalami penurunan pengunjung sejak tiga bulan lalu.

Vice President Corporate Affair PT Samsung Electronics Indonesia (SEIN) Kang Hyun Lee sempat mengatakan dari industri elektronik merasa tak begitu senang dengan penjualan tahun ini, karena ia menganggap daya beli masyarakat cenderung turun.

"Di Indonesia sangat menderita untuk menjual lokal market," kata Lee.

Sedangkan Dewan Pembina Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI) yang juga dari Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo), Handaka Santosa, mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2019 penjualan di ritel dalam posisi stagnan.

"...Uang yang diperoleh (masyarakat) tidak dibelanjakan maksimal sehingga menyebabkan penjualan stagnan dibanding tahun lalu. Kalaupun ada satu perusahaan, ritelnya tumbuh tidak signifikan, mungkin sekitar 5 persen," kata Handaka dalam program Closing Bell, CNBC Indonesia, Rabu, (6/11/2019).

Pengelola PGC, Ian Wisan, mengakui ritel memang mengalami kelesuan. Namun, ia tak sependapat jika kondisi itu disebabkan oleh faktor daya beli yang menurun dan pertumbuhan ekonomi kuartal III sebesar 5,02% yang dalam tren melambat.

Menurutnya, hal ini terjadi akibat pergeseran gaya belanja masyarakat dari toko fisik menuju online. Keamanan dalam negeri juga berpengaruh pada pertumbuhan ritel.

"Ekonomi masih bagus, dengan susunan kabinet baru, kita harap lebih tenang. Pemerintah harus membuat kepastian hukum. Jangan ribut melulu, orang ngga berani belanja dong," kata Ian kepada CNBC Indonesia, Rabu (6/11/2019).

Pergeseran gaya belanja masyarakat ke dunia maya memang tak dapat terhindari. Ian mengatakan ritel bisa berbenah, misalnya, dengan membuat pusat perbelanjaan menjadi area yang nyaman untuk dikunjungi. Artinya, pengusaha ritel, harus menemukan inovasi.

"Kita harus jadikan mal sebagai pusat hiburan," kata Ian.

[Gambas:Video CNBC]


(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading