Internasional

'Whistleblower' Skandal Trump-Ukraina Terungkap?

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
04 November 2019 09:07
Jakarta, CNBC Indonesia - Kasus penyelidikan pemakzulan (impeachment) terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump memasuki babak baru.

Seperti diketahui, presiden kontroversial itu tengah menghadapi proses penyelidikan impeachment setelah ia melakukan panggilan telepon pada 25 Juli lalu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.


Dalam panggilan itu Trump meminta Zelensky untuk menyelidiki saingan politiknya, Joe Biden.

Akibat itu, anggota Partai Demokrat pun mengusung untuk melakukan penyelidikan impeachment guna mengetahui apakah Trump benar melakukan penyelewengan kekuasaan.

Hingga pekan lalu, telah dilakukan beberapa kali dengar pendapat di depan Kongres, di mana para saksi membeberkan hal-hal yang mereka tahu tentang panggilan telepon tersebut. Identitas para saksi tersebut tidak dibeberkan ke publik.

Namun, Trump dikabarkan berupaya untuk mencari tahu dan mengungkapkan identitas dari para saksi.

Ia dan Partai Republik mengatakan bahwa penyelidikan pemakzulan dalam aturan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang dipimpin Demokrat saat ini, tidak adil bagi mereka. Republik juga merasa sangat dibatasi dalam pemeriksaan saksi.

"Pelapor itu salah mengerti, sehingga dia harus maju (muncul ke publik). Media Berita Palsu tahu siapa dia, tetapi, sebagai tangan Partai Demokrat, tidak ingin mengungkapkannya karena akan ada sanksi yang harus diterima. Ungkapkan Whistleblower dan akhiri Impeachment Hoax!" tulis Trump di Twitternya, Minggu (3/11/2019).



Akibat hal itu, Mark Zaid, salah seorang pengacara pejabat AS yang memicu proses pemakzulan Trump, mengatakan pejabat yang ia bela (saksi) menawarkan diri untuk menjawab pertanyaan langsung kepada Partai Republik tentang komite intelijen yang memimpin penyelidikan.

Zaid mengatakan tindakan itu diambil untuk melawan upaya Republik, yang dipimpin oleh Trump, untuk membuka kedok pelapor. Mengutip CNBC International, pelapor itu adalah anggota komunitas intelijen AS yang identitasnya belum dirilis.

"(Partai Republik telah) berusaha mengekspos identitas klien kami yang dapat membahayakan keselamatan mereka, serta keluarga mereka," tulis Zaid di Twitter, Minggu.

Pelapor awalnya menawarkan diri untuk menjawab pertanyaan secara tertulis jika diajukan oleh Komite Intelijen DPR secara keseluruhan.

Namun, Zaid mengatakan tawaran baru, yang diajukan pada hari Sabtu untuk panel intelijen atas Republik Devin Nunes, mencerminkan keinginan klien agar keluhan ditangani secara non-partisan.

"Kebijakan Komite Intelijen yang telah lama berlaku adalah untuk melindungi anonimitas pelapor," kata Zaid.

Lalu siapa pelapor Trump sesungguhnya?

[Gambas:Video CNBC]




Alexander Vindman sang Pelapor?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading