Internasional

Pilpres Penuh Kecurangan, Kerusuhan Marak di Bolivia

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
28 October 2019 12:34
Pilpres Penuh Kecurangan, Kerusuhan Marak di Bolivia
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemilihan umum presiden di Bolivia pada Minggu lalu (20/10/2019) berakhir ricuh. Itu terjadi setelah pemerintah melakukan penundaan perhitungan suara selama 24 jam, yang hasilnya menunjukkan bahwa Presiden Evo Morales kembali memenangkan pemilu.

Dari hasil pemungutan suara, Morales memperoleh 47,08% suara. Sementara saingan utamanya Carlos Mesa memperoleh 35,51% suara.


Penundaan yang tidak biasa itu membuat pihak oposisi beranggapan bahwa Morales, yang sudah menjadi presiden selama tiga periode, sengaja memerintahkan jajarannya untuk mengatur hasil pemilu. Akibatnya, Carlos menuntut untuk diadakan pemilihan ulang.

Kejadian ini juga telah membuat massa pendukung Carlos, marah. Mereka kemudian menggelar demonstrasi selama beberapa hari terakhir di beberapa kota untuk menuntut diadakan pemilihan ulang dan penyelidikan terhadap hasil perhitungan suara.


Pilpres Dituding Penuh Kecurangan, Bolivia RusuhFoto: Aksi Protes atas Hasil Pemilu Presiden di La Paz, Bolivia pada Sabtu, 26 Oktober 2019 (REUTERS/Kai Pfaffenbach)


Dalam demonstrasi itu, mereka membakar kantor badan pemilihan di beberapa kota dan juga membakar surat suara.


Sebagai tanggapan atas masalah ini, berbicara di TV pemerintah, Wakil Menteri Perdagangan Bolivia Benjamin Blanco setuju audit dilakukan. Kesepakatan bahkan sudah dibuat dengan Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) yang berbasis di Washington AS.

Proses audit akan dilakukan pertengahan minggu ini. "(Kesepakatan apa pun) tidak dapat bertentangan dengan apa yang ditetapkan dalam undang-undang dasar dan undang-undang nasional kami," katanya, mengutip Reuters.

Sementara itu, Morales kembali membantah tuduhan dari oposisi yang menyatakan ia menghasut Mahkamah Pemilihan Umum (TSE) untuk memberinya cukup suara dalam pemilihan. Morales juga mengatakan ia akan bersedia melakukan pemungutan suara putaran kedua menghadapi Carlos Mesa jika audit OAS menemukan kecurangan.

Morales juga menuduh oposisi sengaja memicu kerusuhan demi untuk menggulingkannya secara ilegal. Selain memilih presiden dan wakil presiden, dalam pemilu kali ini rakyat Bolivia juga memilih seluruh 130 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan 36 senator.

Keributan di negara ini sendiri telah menarik perhatian dari berbagai negara, utamanya para tetangga di kawasan. Amerika Serikat (AS), melalui Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, telah menyampaikan keprihatinannya akan keadaan yang terjadi.

"Dunia mengawasi lembaga dan pemimpin Bolivia untuk memastikan bahwa suara dan kemauan rakyat Bolivia dihormati," kata Pompeo dalam sebuah pernyataan.

Sementara itu Brasil, mitra dagang terbesar Bolivia, mengatakan tidak akan mengakui kemenangan Morales sampai audit selesai dilakukan. OAS juga mengatakan bahwa hasilnya tidak dapat dianggap sah sebelum audit dilakukan.

[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading