Belum Beres dengan China, AS Tabuh Perang Dagang ke Eropa

News - Monica Wareza, CNBC Indonesia
19 October 2019 19:12
Belum Beres dengan China, AS Tabuh Perang Dagang ke Eropa
Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah menyatakan perang dagang dengan China secara terang-terangan dan belum ada jalan keluar hingga saat ini, Amerika kembali mengibarkan bendera perang kepada Eropa. Negara ini telah menaikkan tarif dagang senilai US$ 7,5 miliar produk impor dari Eropa.

Mengutip AFP, sejumlah produk impor dari Eropa menjadi target Trump, termasuk pesawat pabrikan Eropa, Airbus. Tarif ini akan mulai berlaku pukul waktu Washington atau 11.01 WIB kemarin Jumat (18/10/2019).

Trump menerapkan tarif ini setelah menang di World Trade Organization (WTO) atas kasus subsidi ilegal Eropa terhadap Airbus. Kemenangan di WTO membuat AS bisa menerapkan sanksi melalui kenaikan tarif.



Berikut tarif yang dikenakan Amerika atas barang dari China:

• 10% untuk pesawat dari Perancis, Jerman, Spanyol atau Inggris
• 25% atas wiski single-malt Irlandia dan Scotch, berbagai pakaian dan selimut dari Inggris
• 25% untuk kopi dan alat, juga mesin tertentu dari Jerman
• 25% tarif atas berbagai keju, minyak zaitun, dan daging beku dari Jerman, Spanyol, dan Inggris
• 25% tarif untuk produk daging babi, mentega dan yogurt dari berbagai negara

Munculnya perang dagang dengan Eropa ini menimbulkan ketakutan akan semakin cepatnya resesi ekonomi dunia terjadi.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Eksekutif International Trade Centre (ITC) Arancha Gonzalez. "Semua ini mengarah ke satu arah yang sama. Jika kita terus menggali lobang yang sama (perang tarif), kita akan melihat resesi," katanya dikutip dari CNBC International.

Meski Eropa meminta penangguhan AS tetap tak bergeming. Oleh sebab itu, Menteri Ekonomi Prancis, Bruno Le Maire mengancam AS bahwa Eropa akan segera melakukan pembalasan.

Sebelumnya, Eropa sudah menyatakan pada Mei 2019 lalu bahwa akan mengenakan tarif barang AS senilai US$ 20 miliar, jika negara Donald Trump itu benar-benar menjatuhkan sanksi perdagangan. UE kini juga tengah mengadukan AS ke WTO atas tuduhan subsidi ilegal ke Boeing.

Ketakutan resesi juga tak terlepas dari belum selesainya kesepakatan final perdagangan antara Amerika dan China. China masih mengharapkan Trump untuk menghapuskan tarif yang bakal diterapkan untuk produk asal China.

Kedua negara terakhir kali mengadakan perundingan dagang pada pekan lalu di Washington, D.C. Setelah pertemuan itu, AS mengatakan akan menunda kenaikan tarif pada barang-barang China yang seharusnya mulai berlaku pada Selasa pekan ini.

Namun, juru bicara Kementerian Perdagangan China, Gao Feng pada hari Kamis (17/10/19) mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) harus menghapus tarif agar kedua negara bisa mencapai kesepakatan akhir dalam hal perdagangan.

"Posisi, prinsip, tujuan China untuk negosiasi dagang China-AS tidak pernah berubah," kata Go, dalam konferensi pers mingguan mengutip CNBC International.

"Tujuan utama kedua belah pihak dalam negosiasi adalah untuk mengakhiri perang dagang, membatalkan semua tarif tambahan. Ini bagus untuk China, bagus untuk AS dan bagus untuk dunia," lanjutnya.

Kedua negara ini sudah terlibat dalam perang dagang selama lebih dari satu tahun. Keduanya saling menerapkan tarif impor pada berbagai barang senilai miliaran dolar.

Perang Dagang dan Perlambatan Ekonomi Dunia

International Monetery Fund alias Dana Moneter Internasional (IMF) menyebutkan konflik perdagangan telah membuat pertumbuhan terjerumus ke dalam 'perlambatan yang tersinkronkan' dan harus ditanggulangi.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan perang dagang ini menyebabkan terjadinya perlambatan hampir 90% dunia. Perlambatan ini menyebabkan ekonomi akan tumbuh lebih rendah dari 10 tahun terakhir.

"Pada 2019, kami memperkirakan pertumbuhan yang lebih lambat di hampir 90% dunia. Ekonomi global sekarang berada dalam perlambatan yang tersinkronkan. Ini berarti bahwa pertumbuhan tahun ini akan turun ke tingkat terendah sejak awal dekade," katanya.

Dalam pidato pengukuhannya setelah mengambil alih lembaga pemberi pinjaman krisis global itu pada 1 Oktober, Georgieva meluncurkan penelitian IMF baru yang menunjukkan bahwa efek kumulatif dari perang dagang dapat mengurangi output produk domestik bruto (PDB) global sebesar US$ 700 miliar atau sekitar 0,8% pada tahun 2020.

Penelitiannya itu memperhitungkan kenaikan tarif yang telah diumumkan dan sedang direncanakan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk sisa impor China, atau barang senilai sekitar US$ 300 miliar. Banyak kerugian dalam PDB akan berasal dari penurunan kepercayaan bisnis dan reaksi pasar yang negatif, katanya.

Georgieva yang merupakan seorang ekonom asal Bulgaria dan mantan pejabat Uni Eropa yang pernah menjabat di World Bank Group, mengatakan bahwa perdagangan "hampir macet". Dia juga memperingatkan bahwa gangguan dalam perdagangan dapat menyebabkan perubahan yang berlangsung selama satu generasi.

"Termasuk membuat rantai pasokan terputus, sektor perdagangan melemah, 'perselisihan digital' yang memaksa berbagai negara untuk memilih sistem teknologi," jelasnya.

Oleh karenanya, Georgieva meminta negara-negara dunia untuk bekerja sama untuk merevisi aturan perdagangan global agar bisa menjadi berkelanjutan. Georgieva juga membahas keluhan tentang praktik perdagangan China, tanpa secara khusus menyebutkan nama negara tersebut.

"Itu berarti berurusan dengan subsidi, serta hak kekayaan intelektual dan transfer teknologi," katanya, seraya menambahkan bahwa sistem perdagangan modern akan membuka kunci bagi potensi jasa dan e-commerce.


(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading