Eks Bos Pertamina Sebut Subsidi BBM Adalah Setan Ganas

News - Annisatul Umah, CNBC Indonesia
16 October 2019 21:17
Eks Bos Pertamina Sebut Subsidi BBM Adalah Setan Ganas
Jakarta, CNBC Indonesia - Eks bos Pertamina sekaligus anggota Bimasena Energy Team Ari Soemarno bicara soal kondisi energi dalam negeri, yang menurut dia situasinya saat ini memprihatinkan.

Dalam acara BP Energy Outlook, Ari menjabarkan kondisi saat ini baik dari sisi kebijakan dan pemangku kepentingan akan berpengaruh pada pertumbuhan energi, dan mayoritas akan bergantung pada minyak dan gas.




Menurutnya, penurunan produksi migas masih akan berlangsung dalam beberapa tahun ke depan. "Karena situasi yang kita miliki , eksploitasi eksplorasi, kami tidak menemukan any major significant cadangan atau temuan dalam beberapa tahun terakhir. Defisit juga semakin menjadi," katanya, Rabu (16/10/2019).

Di sisi hilir, kebijakannya juga ketinggalan dengan negara lain. Ketika yang lain sudah beralih ke Euro 4 bahkan 5, sementara Indonesia masih di Euro 2 yang masih masuk kategory dirty fuel. Itu, kata dia, yang satu-satunya bisa diproduksi karena kondisi kilang yang sudah tua.

Belum lagi soal subsidi BBM."Ada setan yang sangat ganas yaitu subsidi, bagaimana bisa kita menjual Premium dengan harga yang sangat murah dan menghasilkan polusi lalu dibandingkan dengan EBT yang tidak memberi dampak polusi."

Ia juga mengatakan energi murah atau harus murah merupakan terminologi politis. Menurutnya energi harus dihargai sesuai dengan nilai keekonomian, seperti saat pengembang akan investasi, berapa yang akan didapat menjadi pertimbangan. "Kalau harus murah siapa yang bayar," kata dia.

Permasalahannya saat ini subsidi energi diberikan untuk komoditas, padahal menurutnya alokasi subsidi mestinya untuk pihak yang berhak. Kalau dasarnya komoditas, seolah semua harus ikut membayar termasuk produsen. Sementara jika pemberian subsidi diberikan kepada yang berhak, akan menjadi tanggungjawab pemerintah.

(gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading