Jambaran-Tiung Biru, Blok Strategis yang Berhasil Direbut RI

News - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
27 September 2019 19:38
Proyek ini sempat mati suri, hingga akhirnya diserahkan pada Pertamina secara resmi pada 2018 dan dipegang oleh PEPC.
Jakarta, CNBC Indonesia- Pengembangan Lapangan Gas Unitisasi Jambaran-Tiung Biru yang dikelola PT Pertamina EP Cepu (PEPC) pada mulanya merupakan proyek yang dipegang oleh ExxonMobil Cepu Limited. Proyek ini sempat mati suri, hingga akhirnya diserahkan pada Pertamina secara resmi pada 2018 dan dipegang oleh PEPC.

Direktur Utama PEPC Jamsaton Nababan mengatakan hal ini sesuai dengan Surat dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) no 9/L3.MEM.M/2017 perihal pengembangan Jambaran-Tiung Biru kepada Direktur Utama Pertamina. Saat itu belum ada kemajuan perkembangan proyek sebagai akibat perbedaan perhitungan keekonomian.

"Pertamina telah melakukan negosiasi secara business to business (B2B) dan penandatanganan Amandemen Unitization Agreement and Unit Operating Agreement, joint operating agreement, dan terminasi Cepu Gas Marketing Agreement," kata Jamsaton kepada CNBC Indonesia, Jumat (27/09/2019).



Selain itu dilakukan penandatangan dokumen settlement agreement (SA) proyek Pengembangan Gas Lapangan Unitasi JTB pada 3 November 2017. Sejak 1 Januari 2018, badan kerja sama tidak lagi berpartisipasi dalam proyek ini.

Menurut Jamsaton tidak ada kendala pada proses peralihan dari ExxonMobil ke PEPC. Peralihan kepemilikan saham dilakukan mekanisme B2B dimana PEPC membeli 45% saham ExxonMobil.

"PEPC mengembalikan cash call kepada ExxonMobil, yaitu mengembalikan penggunaan anggaran di awal-awal proyek," katanya.

Jamsaton menyebutkan setelah peralihan ada perbedaan yang sangat signifikan. Pertama ExxonMobil melihat proyek ini tidak ekonomis karena tingginya overhead cost. Kedua, Pertamina melihat proyek ini sebagai salah satu proyek strategis nasional yang bisa memberikan manfaat besar pada negara.

Ketiga, dengan proyek ini dikelola Pertamina, maka bisa dilakukan inovasi dan optimalisasi teknologi sehingga ada penurunan belanja modal (capital expenditure), peningkatan produksi, dan produk turunan lainnya.

"PEPC adalah anak perusahaan BUMN, selain aspek bisnis PEPC juga punya tanggung jawab sosial kepada masyarakat. Sementara Exxon hanya melihat dari sisi bisnis," tegas Jamsaton.

Pada proyek ini PEPC bisa melakukan efisiensi capex US$ 600 juta, namun bisa menaikkan gas dari 172 mmscfd menjadi 192 mmscfd yang nantinya dialirkan melalui pipa transmisi Gresik-Semarang.

Proyek Jambaran-Tiung Biru merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) dan telah ditetapkan oleh Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP). Cadangan gas JTB sebesar 2,5 triliun kubik (TCF).

Proyek dengan kapasitas produksi sales gas sebesar 192 MMSCFD tersebut nantinya akan dialirkan melalui Pipa transmisi Gresik-Semarang. Dengan cadangan gas JTB sebesar 2,5 triliun kaki kubik (TCF), JTB diharapkan dapat memberikan multiplier effect, khususnya untuk mengatasi defisit pasokan gas di Jawa Tengah dan Jawa Timur.


Tak hanya progress konstruksi dan drilling, dalam skema project financing PEPC telah berhasil menuntaskan Financial Close untuk pendanaan Proyek JTB yang melibatkan 8 international lenders dan 4 lenders nasional, dengan nilai pendanaan sebesar US$ 1,85 miliar.

"Hal ini mencerminkan bahwa project JTB merupakan proyek world class, sehingga dipercaya mendapatkan pendanaan. Di samping itu, ini sekaligus pengakuan bankir internasional bahwa PEPC mampu mengelola proyek JTB ini on time, on budget dan on spec," tegas Jamsaton.

Foto: Direktur Utama PT Pertamina EP Cepu, Jamsaton Nababan (Dok. Pertamina)

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading