Internasional

Kilang Minyak Saudi Diserang, Iran Bantah Tudingan AS

News - Wangi Sinintya Mangkuto, CNBC Indonesia
16 September 2019 07:32
AS menuduh Iran berada di balik serangan pesawat tak berawak terhadap ladang dan kilang minyak Saudi pada Sabtu. Namun Iran membantah tuduhan tersebut.
Jakarta, CNBC Indonesia - AS menuduh Iran berada di balik serangan pesawat tak berawak terhadap ladang dan kilang minyak Saudi pada Sabtu. Namun Iran membantah tuduhan tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran malah balik menuding AS "menipu" sekutu-sekutunya. "Setelah gagal di 'max pressure', @SecPompeo beralih ke 'max deceit'," tulis Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif di Twitter pada Minggu.

"Menyalahkan Iran tidak akan mengakhiri masalah. Menerima proposal kami pada 15 April untuk mengakhiri perang & memulai pembicaraan mungkin dapat mengakhirinya," tambah Javad Zarif, seperti dilansir dari CNBC Internasional, Senin (16/09/2019).



Sebelumnya Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Abbas Mousavi mengatakan tuduhan AS tidak berguna dan tidak ada artinya. Iran menyarankan sebaiknya AS melakukan pembicaraan dengan Iran untuk keluar dari konflik.

Sebelumnya, pemberontak Houthi Yaman mengaku bertanggung jawab atas serangan sebelum fajar tersebut, yang terjadi sekitar pukul 4:00 pagi waktu setempat. Ini merupakan serangan terbesar yang dilakukan pada infrastruktur minyak Arab Saudi sejak serangan cepat rudal Saddam Hussein selama GulfWar pertama.


Kerajaan itu kemudian menghentikan setengah dari produksi minyaknya, atau 5,7 juta barel minyak mentah per hari, yang hampir setengah dari produksinya, atau 50% dari pasokan minyak global. Para pejabat di Saudi Aramco, raksasa minyak negara dan perusahaan terbesar dunia, mengatakan penilaian mereka terhadap kerusakan sedang berlangsung, tetapi mungkin baru akan memberikan laporan pada Senin.

Harga minyak diperkirakan akan melonjak ketika pembukaan pasar. Abqaiq, memiliki kapasitas pemrosesan minyak mentah 7 juta barel per hari (bpd), merupakan detak jantung dari infrastruktur energi negara itu.

Sebelumnya, Sekretaris Negara AS Mike Pompeo menyalahkan serangan-serangan tersebut pada Iran, dengan mengatakan melalui Twitter bahwa "Iran kini telah meluncurkan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap pasokan energi dunia. Tidak ada bukti bahwa serangan itu berasal dari Yaman".

Sejumlah analis juga menolak keterlibatan Houthi dalam serangan-serangan itu, yang menyatakan bahwa mereka diluncurkan oleh milisi proksi yang didukung Iran di Irak. Baghdad membantah wilayahnya memainkan peran apa pun dalam serangan itu.

Teheran telah memberikan dukungan material kepada Houthi, yang terlibat dalam perang berdarah dengan Arab Saudi sejak Riyadh melancarkan serangan di Yaman pada 2015. Konflik ini sering digambarkan sebagai perang proksi antara kerajaan Sunni dan Republik Islam, meskipun Houthi jauh dari sepenuhnya selaras dengan Iran.

Washington memberikan dukungan intelijen dan logistik kepada Saudi untuk operasi mereka di Yaman, sesuatu yang banyak anggota Kongres telah memilih untuk mengakhirinya.

Ketegangan antara Iran dan AS, juga kekhawatiran perang baru di Timur Tengah meningkat sejak pemerintahan Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran 2015, dan memberlakukan sanksi menyeluruh terhadap Iran dalam upaya untuk mendorongnya ke dalam kesepakatan yang lebih ketat yang melibatkan konsesi keamanan lebih luas.

Pada Mei dan Juni, enam tanker asing dihantam dalam dugaan serangan sabotase yang oleh pemerintah AS juga menyalahkan pasukan Iran, tuduhan yang dibantah Teheran. Iran pada 20 Juni menembak jatuh sebuah pesawat pengintai AS yang katanya terbang di atas wilayahnya, mendorong serangan militer AS yang direncanakan untuk target militer Iran.

[Gambas:Video CNBC]





(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading