Round Up

Jika RI Kena Resesi Apa yang Disiapkan, Ibu Sri Mulyani?

News - Redaksi, CNBC Indonesia
14 September 2019 08:20
Jika RI Kena Resesi Apa yang Disiapkan, Ibu Sri Mulyani? Foto: Presiden Joko Widodo bersama Wapres Jusuf Kalla dan Menteri Keuangan Sri Mulyani saat Rapat Terbatas (BPMI Setpres/Rusman)
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mencatat setidaknya terdapat dua poin yang perlu dipersiapkan negara dalam mengatasi permasalahan ekonomi di negara ini untuk membuat Indonesia bertahan dari ancaman resesi.

Menurut Sri Mulyani, langkah yang disiapkannya beragam mulai hal struktural utamanya mengenai kebijakan makroekonomi Indonesia.

Apa saja persiapan pemerintah?


"Banyak wartawan yang menanyakan kepada saya, apa yang disiapkan pemerintah dalam menghadapi resesi? Jawaban saya cukup panjang," kata Sri Mulyani di Djakarta Theater, Kamis kemarin (12/9/2019).

Jika RI Kena Resesi Apa yang Disiapkan, Ibu Sri Mulyani?Foto: Sri Mulyani (KLI)


Dia menjelaskan, langkah yang dilakukannya adalah terus melakukan koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) guna mengawasi kebijakan makroprudensial. Sri Mulyani pun mengklaim pemerintah bersama otoritas terkait selalu menggunakan setiap rupiah untuk hal-hal yang bersifatnya fundamental.

Di samping itu, pendalaman pasar keuangan juga dinilai penting untuk terus ditingkatkan. Hingga saat ini, Sri Mulyani menilai pendalaman pasar keuangan di Indonesia masih sangat ketinggalan dengan regional ASEAN.

Dia mencatat, kapitalisasi pasar (Stock Market Capitalization) masih jauh ketinggalan jika dibanding dengan negara-negara peers di kawasan. Kapitalisasi pasar Indonesia masih berada di bawah 50% dibanding produk domestik bruto (gross domestic product/GDP).

Sangat jauh di bawah negara-negara seperti Singapura yang sebesar 200% dari GDP atau Thailand dan Filipina yang sebesar 80%-90% terhadap PDB. Padahal pada kenyataannya GDP Indonesia jauh melebihi negara-negara ini.

Kondisi pasar keuangan yang masih dangkal (shallow) dinilai dia merupakan tantangan untuk meningkatkan perekonomian. Sehingga pendalaman pasar ini dinilai penting untuk terus ditingkatkan.

"Kalau hanya mengandalkan macro-policy, kita tidak mampu menyelesaikan masalah fundamental. Sektor keuangan diukur dari jumlah tabungan to GDP, bonds value to GDP. Indonesia financial sector masih terbatas dan belum dalam," imbuhnya.

Hal lainnya yang juga perlu ditingkatkan adalah literasi keuangan Indonesia. Menurut dia, masyarakat tak hanya harus sadar dengan adanya instrumen-instrumen investasi namun juga mulai untuk membeli obligasi, saham atau tabungan.




[Gambas:Video CNBC]



(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading