Internasional

Perang Dagang, Reshoring Jadi Tren Perusahaan Global

News - Wangi Sinintya Mangkuto, CNBC Indonesia
06 September 2019 14:30
Perang dagang antara AS dan China membuat banyak perusahaan pergi dari China
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang dagang antara AS dan China membuat banyak perusahaan pergi dari China. Pasalnya mahalnya tarif yang diberlakukan AS pada produk asal China, bakal berimbas pada penjualan produk mereka di AS.

Beberapa perusahaan bahkan memindahkan kembali pabriknya dari China ke negara asal atau biasa disebut reshoring. Istilah reshoring ini mucul saat sebuah perusahaan membawa kembali bisnis manufaktur dan pelayanan dari luar negeri ke AS.

Sebagaimana dilaporkan dari Nomura setidaknya ada 56 perusahaan yang memilih pulang kampung. Rata-rata perusahaan itu berasal dari Taiwan dan Jepang.



Akibat dari konflik perdagangan AS dan China, Taiwan menjadi penerima manfaat besar. Sekitar 40 perusahaan Taiwan memutuskan untuk memindahkan pabrik mereka kembali dari China, antara lain perusahaan pembuat sirkuit Flexium dan perusahaan komputer Quanta.

Ini sejalan dengan keinginan pemerintah Taiwan yang memang gencar mempromosikan "Invest Taiwan", yang bertujuan untuk menarik perusahaan di negara asalnya. Di bawah program ini, perusahaan dapat mengajukan pinjaman murah untuk menutup biaya relokasi.

Sejumlah perusahaan Jepang juga merelokasi kembali perusahaannya. Antara lain Mitsubisi Electric dari Dalian, China ke Nagoya. Menurut Nomura, pembuat mesin Toshiba Machine dan Komatsu juga merencanakan langkah yang sama.


"Tren ini konsisten dengan perbedaan ekspor baru-baru ini, yang terlihat di Asia sebagai akibat dari pengalihan perdagangan," tulis ekonom Nomura Sonal Varma dan Michael Loo dalam sebuah laporan yang dirilis Rabu, seperti dilansir dari CNBC Internasional, Jumat (06/09/2019).

Berdasarkan industri, tiga sektor yang mendominasi relokasi dari China adalah elektronik, diikuti oleh pakaian, sepatu dan tas, juga peralatan listrik. Nomura percaya, relokasi ini bukan hanya pengalihan perdagangan jangka pendek tapi jangka menengah panjang.

Apalagi perusahaan ingin mengurangi risiko perang dagang AS dan China. "Beberapa perusahaan juga mengutip risiko keamanan siber sebagai alasannya (pemindahan)," catat Nomura.

Sementara itu, ekonomi yang paling diuntungkan dari perang dagang AS dan China adalah Vietnam dan Meksiko.

Vietnam adalah satu-satunya negara yang menarik bagi perusahaan industri bernilai tambah rendah dan tinggi, mulai dari garmen hingga elektronik. Meksiko menerima manfaat di sektor elektronik dan peralatan listrik.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

Imbas Perang Dagang China-AS Kian Terasa, Kuatkah RI?


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading