Sri Mulyani: Paling Sulit Proyeksikan Nilai Rupiah di 2020

News - Lidya Julita S, CNBC Indonesia
28 August 2019 13:26
Sri Mulyani: Paling Sulit Proyeksikan Nilai Rupiah di 2020
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah bersama DPR mulai membahas soal asumsi makro yang akan menjadi acuan RAPBN 2020.

Dalam pidato sebelumnya di DPR, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menyampaikan rencana asumsi makro 2020. Berikut rencana asumsi makro yang disampaikan Jokowi :

1. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan dapat tetap tumbuh 5,3%
2. Inflasi masih dapat terkendali dalam kisaran 3,1%
3. Nilai tukar rupiah diperkirakan berada pada Rp14.400 per dolar AS
4. Tingkat suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan sebesar 5,4% dengan optimisme terkait persepsi positif dan perbaikan iklim investasi di Indonesia sehingga arus investasi akan terus mengalir ke dalam negeri;
5. Indonesia Crude Price (ICP) diperkirakan rata-rata mencapai US$65,0 per barel;
6. Lifting minyak dan gas bumi diperkirakan masing-masing mencapai 734 ribu barel per hari dan 1.191 ribu barel setara minyak per hari.


Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat membahas dan menetapkan asumsi makro yang akan jadi acuan RAPBN 2020 tersebut.

"2020, proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,1%-5,2% tapi kami menggunakan outlook 5,3% didukung konsumsi rumah tangga baik dan investasi baik dan ekspor relatif normal atau netral dari yang tadinya ada tekanan," kata Sri Mulyani di Gedung DPR, Rabu (28/8/2019).

Untuk pertumbuhan ekonomi, sambung Sri Mulyani tidak hanya ingin tumbuh tapi tak beriringan dengan kesejahteraan masyarakat.

Kemudian, Sri Muyani mengatakan untuk rupiah, diperkirakan di Rp 14.400/US$. "Ini paling sulit diproyeksi karena tekanan global, dan dari sisi makro policy kredibel dan timbulkan confidence. Tapi dua faktor ini akan diiringi kondisi global yang tidak pasti. Harga komoditas melemah," kata Sri Mulyani lebih jauh.
(dru/dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading