RI Impor 50.000 Ton Daging dari Brasil, Inikah Alasannya?

News - Suhendra, CNBC Indonesia
21 August 2019 16:48
Impor daging dari Brasil jaraknya jauh, tapi dianggap lebih kompetitif oleh pemerintah.
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengungkapkan hasil rakor bidang perekonomian memutuskan akan ada impor daging sapi sebanyak 50 ribu ton dari Brasil.

Pemerintah beralasan, alternatif impor ini untuk menciptakan persaingan sehingga harga daging sapi bisa ditekan karena daging Brasil lebih kompetitif. Pasar daging sapi di Indonesia yang mencapai 250 ribu ton per tahun memang menggiurkan karena belum bisa dipenuhi dari domestik, memang perlu ada keterbukaan pasar. Apalagi di dunia ada 60 negara yang bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Selama ini Indonesia lebih banyak impor dari Australia dan Selandia Baru karena secara lokasi memang lebih dekat dan bebas PMK. Sedangkan, Brasil bila impor benar-benar terealisasi maka jaraknya lebih jauh.

Kata Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Teguh Boediyana mengatakan, keputusan pemerintah ini diduga terkait upaya menggenjot ekspor yang sedang loyo, terutama kelapa sawit yang sedang mengalami banyak hambatan terutama di Uni Eropa. Langkah membuka pasar daging sebagai konsekuensi dari upaya memperluas pasar ekspor Indonesia.



"India lebih parah dari Brasil soal penyakit mulut dan kuku (PMK), tapi nyatanya dagingnya bisa masuk, enggak punya zone. Brasil sejauh memenuhi syarat. Ini konsekuensi menjadi anggota WTO," kata Teguh kepada CNBC Indonesia, Rabu (21/8).

Negeri Samba sempat memenangkan gugatan terhadap pemerintah Indonesia di Badan Penyelesaian Sengketa WTO pada 2017 lalu. Brasil sempat menilai otoritas Indonesia tidak menerapkan putusan final WTO secara bersungguh-sungguh, dan menganggap Indonesia masih menghambat impor produk unggas. Ada spekulasi, dibukanya daging impor dari Brasil untuk membuktikan Indonesia terbuka pada pasar.

Teguh mengatakan masuknya daging Brasil akan membuat persaingan pasar daging lebih ketat, dari selama ini didominasi Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan India.

"Kita tahu mau terbuka ekspor, CPO, tapi eksistensi peternak rakyat perlu perlindungan, jangan sampai menggerus sapi potong rakyat," katanya.

Ia mencontohkan saat daging kerbau India yang telah masuk Indonesia punya implikasi yang berat soal persaingan harga. Ia mencontohkan harga sapi lokal dalam bentuk daging Rp120 ribu per kg, sedangkan harga impor dari India sekitar Rp50-60 ribu per kg.

"Kebijakan daging murah sangat destruktif bagi peternakan rakyat," katanya.



Teguh mengaku upaya Brasil memasukkan daging ke Indonesia memang tidak mudah dan sudah berlangsung lama. Daging Brasil sempat terhambat UU No. 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, sebelum direvisi. Negara itu belum bebas dari penyakit sapi seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), atau masih kategori zone based. Sedangkan negara pemasok sapi dan daging utama Indonesia selama ini Australia dan Selandia Baru sudah bebas dari PMK atau country based.

"Kami sadar, membuka india dan Brasil terkait membuka CPO, tapi tolong juga perhatikan peternakan rakyat," katanya.

Selama ini Indonesia mengimpor sapi hidup dan daging sapi hanya dari Australia, sebagian kecil dari Selandia Baru. Pemerintah sedang menjajaki impor daging sapi dari Brasil yang harganya dianggap lebih murah.

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita, sapi asal Australia ini lebih mahal harganya, meski jaraknya lebih dekat dengan Indonesia.


"Mahalan Australia walaupun yang satu deket yang satu jauh. Tapi dengan masuk dari Brasil, mungkin dengan adanya saingan, Australia mungkin akan turunkan. Brasil juga dagingnya bagus yang sama-sama frozen (daging beku). Makanya jangan monopoli deh. tapi persaingan itu bagus," ujar Enggar di Nusa Dua, Bali, Rabu (21/8/2019).

[Gambas:Video CNBC]



(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading