Aksi Emiten: BCA Gandeng WeChat Sampai OCBC Lirik Bank Pemata

News - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
19 August 2019 07:20
Aksi Emiten: BCA Gandeng WeChat Sampai OCBC Lirik Bank Pemata
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham domestik ditutup di zona hijau pada perdagangan akhir pekan lalu merespons nota keuangan RAPBN 2020 yang dibacakan Presiden Joko Widodo di Kompleks Parlemen, Senayan, Jumat (16/8/2019).

Indeks Harga Saham Gabungan menguat 0,47% ke level 6.286,66. Sejak awal perdagangan, iHSG sudah menguat 0,11%.

Arah IHSG juga senada dengan Bursa Saham Asia yang ditransaksikan menguat: indeks Nikkei naik 0,06%, indeks Shanghai menguat 0,29%, dan indeks Hang Seng terangkat 0,94%.


Sebelum perdagangan awal pekan ini, Senin (19/8/2019) dibuka, cermati aksi dan peristiwa emiten berikut ini yang dihimpun dalam pemberitaan CNBC Indonesia:

1.Awal 2020, Kerja Sama BCA dan WeChat Bakal Terlaksana

Kerjasama antara Bank Central Asia Tbk dengan WeChat sudah di depan mata. Kerjasama keduanya ditargetkan dapat rampung pada akhir tahun 2019.

"Kalau soal WeChat dan wepay, kita lagi sistem development mungkin kuartal IV itu akan selesai," ujar Direktur Utama BCA, Jahja Setiaatmadja di Gedung BI, Jakarta, Sabtu (17/8/2019).

Menurutnya, saat ini pihaknya sedang memfinalkan kerjasama untuk sistem pembayaran elektronik tersebut. Setelah itu akan meminta izin dari Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga bisa diterapkan awal tahun depan.


2.Mal Makin Sepi, Begini Cara Pengembang Bertahan Hidup

Tingkat okupansi di pusat perbelanjaan (mall) terus menunjukkan tren penurunan di tengah gempuran situs belanja daring atau e-commerce. Pengelola mal mulai mengubah strategis bisnis dari yang tadinya mall hanya diarahkan sebagai pusat belanja (shopping mall) menjadi gaya hidup (lifestyle) mall.

Strategi itu diterapkan emiten properti PT Bliss Properti Tbk (POSA) yang saat ini mengelola lima mall di luar Jakarta seperti Ambon City Center dan beberapa pusat perbelanjaan lainnya di Kota Ponorogo, Lombok, Tanjung Pinang dan Jambi.

"Ke depannya jalan ke lifestyle, mengarah le sana (tidak mengandalkan shopping mall)," ungkap Heru Eko Prasetyo, Chief Financial Officer Bliss Properti.

Hasil riset yang dipublikasikan PT Jones Lang LaSalle (JLL) menunjukkan secara tren okupansi atau tingkat keterisian tenant (penyewa) di pusat perbelanjaan mengalami penurunan. Ditilik secara tren, pada 2013 lalu, tingkat okupansi mencapai 95% dengan luas area yang disewa mencapai 350.000 meter persegi.

Tren ini terus berangsur turun, pada 2016 tingkat okupansi menyentuh level di bawah 80% dengan luas area yang disewa di bawah 200.000 meter persegi.

3.Bos United Tractors Bicara Soal Emas, "Tak Tergantikan!"

PT United Tractors Tbk. (UNTR) meyakini masih belum ada jenis mineral lain yang bisa menggantikan posisi emas, baik digunakan untuk perhiasan maupun sebagai alat investasi. Alasan inilah yang membuat perusahaan aktif untuk mencari potensi tambang-tambang emas baru untuk diakuisisi.

Direktur Utama United Tractors Frans Kesuma menilai emas sebagai komoditas masih punya masa depan cerah dimana harga di masa yang akan datang masih relatif akan stabil. Bagi anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) ini, komoditas emas bisa menjadi engine pendorong kinerja ke depan, saat batu bara mulai redup.

"Tidak ada logam lain atau komoditas lain yang akan bisa menggantikan emas. Meskipun secara harga platinum lebih mahal dari emas tapi kan tetap berbeda penggunaannya. Emas itu 50% untuk instrumen investasi, sebagian untuk perhiasan. Sementara platinum penggunaannya lebih ke arah teknologi," kata Frans kepada CNBC Indonesia, Jumat (16/8/2019).

4.LDR Tembus 152%, BTPN Biayai Kredit Pakai Pinjaman

Di tengah likuiditas industri perbankan yang makin ketat, PT Bank BTPN Tbk membukukan rasio intermediasi (loan to deposits/LDR) 152,05%.

Sekitar sepertiga kredit yang disalurkan oleh BTPN menggunakan dana pinjaman, bukan dana pihak ketiga (DPK). Hal tersebut terungkap dalam laporan keuangan BTPN semester I-2019 yang diterbitkan hari ini.

Jumlah pinjaman yang diterima oleh BTPN secara individual mencapai Rp 41,22 triliun pada semester I-2019. Pinjaman tersebut naik hampir 5 kali lipat dalam 6 bulan terakhir. Sementara itu, DPK BTPN tercatat hanya Rp 88,66 triliun, yang didominasi dana mahal deposito dengan porsi 71,22%. Adapun total kredit BTPN pada periode yang sama mencapai Rp 134,81 triliun.

5.Digoyang Rumor Klasik, Saham Bank Permata Meroket Lagi!

Bank Oversea-Chinese Banking Corporation Ltd (OCBC) Singapura dikabarkan tertarik mengakuisisi 90% saham PT Bank Permata Tbk (BNLI) dengan nilai ditaksir mencapai US$ 1,9 miliar atau setara dengan Rp 26,79 triliun (asumsi kurs Rp 14.100/US$).

Rumor yang mengemuka sejak Rabu kemarin di kalangan pelaku pasar ini membuat harga saham Bank Permata menguat signifikan hingga 12,44% di level Rp 1.080/saham pada pukul 15.44 WIB, Kamis ini (15/8/2019), mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI).

Berdasarkan informasi di pasar, OCBC Singapura dikabarkan akan membeli saham Bank Permata dari PT Astra International Tbk (ASII) dan Standard Chartered Bank yang saat ini masing-masing menggenggam 44,56% saham.

Saat dikonfirmasi, Head of Corporate Communications Astra International Boy Kelana Soebroto enggan berkomentar lebih lanjut mengenai kabar tersebut.

"Kami tidak berkomentar terkait rumor yang beredar di pasar. Semua informasi atau fakta material tentang Bank Permata akan disampaikan kepada publik sesuai peraturan yang berlaku," kata Boy Kelana, Kamis ini (15/8/2019).

Pendapat senada juga disampaikan pihak Bank Permata. "Kami tidak dapat berkomentar seputar rumor market ini," ungkap Richele Maramis, Head Corporate Affairs Bank Permata.


[Gambas:Video CNBC] (sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading