Ternyata Pendemo Hong Kong Banyak Milenial, Kenapa?

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
13 August 2019 14:33
Ternyata Pendemo Hong Kong Banyak Milenial, Kenapa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Hong Kong telah diguncang demo besar-besaran selama dua bulan terakhir. Setiap sore hari, ribuan hingga ratusan ribu pendemo turun ke jalanan. Buntutnya, Senin kemarin (12/8/19), bandara Hong Kong ditutup dan semua penerbangan dibatalkan.

Namun, ada hal menarik dalam demonstrasi Hong Kong. Ternyata, demonstrasi ini digerakkan oleh kaum muda yang berusia 20 tahunan. Anak-anak muda ini turun ke jalan dan menuntut perubahan besar bagi Hong Kong ke depan.

Berikut beberapa faktor yang mendorong milenial Hong Kong turun langsung dalam demo di Hong Kong.
Demokrasi


Demo Hong Kong yang bermula pada bulan Juni dipicu oleh rencana pemberlakuan RUU Ekstradisi para pelaku kriminal ke China. RUU Ekstradisi akan memungkinkan para kriminal Hong Kong dikirim dan diadili ke China. Namun banyak warga Hong Kong beranggapan langkah ini akan membuat para kriminal menerima perlakuan tidak manusiawi apabila diekstradisi ke China dan mengikuti hukum negara itu.

Para pendemo juga khawatir ini akan berarti Partai Komunis akan memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap Hong Kong. Sebab, kota ini saat ini ditetapkan sebagai Daerah Administratif Khusus China yang beroperasi secara independen.

RUU Ekstradisi telah ditangguhkan pemerintah Hong Kong pada Juni lalu. Namun ternyata, unjuk rasa terus berlanjut. Demonstran memanfaatkan momentum ini untuk mengadvokasi kebebasan demokrasi yang lebih luas secara keseluruhan.


Milenial yang dikenal memiliki peran besar dalam demo Hong Kong adalah Joshua Wong dan Agnes Chow, keduanya berusia 22 tahun, serta Nathan Law, 26 tahun. Mereka adalah tiga dari beberapa pemimpin Demosisto, sebuah kelompok aktivis pemuda pro-demokrasi di Hong Kong yang pro-demo.

Wong dan Law juga merupakan dua dari beberapa orang yang dijatuhi hukuman penjara pada tahun 2017 karena tergabung dalam kelompok Umbrella Movement. Ini merupakan kelompok pro-demokrasi pada tahun 2014 yang sebagian besar dipimpin oleh mahasiswa. Ini membuktikan bahwa mereka tidak jera terhadap hukum sehingga kembali mendukung demo tahun ini.

"Anak muda macam apa yang dihasilkan Hong Kong? Cerdas, efisien, penuh perhatian, dan mencintai kebebasan," cuit Wong di Twitternya setelah pengunjuk rasa menyerbu markas besar legislatif kota itu. "Aku bangga pada mereka."

Ketimpangan Ekonomi

Hong Kong dikenal sebagai salah satu pusat ekonomi utama dunia. Tetapi juga rumah bagi ketidaksetaraan yang ekstrim. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin sangat mengejutkan. Menurut laporan sensus terakhir, 10% rumah tangga terkaya menghasilkan 44 kali lebih banyak daripada 10% yang termiskin.

Harga rumah di wilayah ini juga termasuk yang tertinggi di dunia bahkan melampaui New York dan London. Untuk menghemat uang, banyak penduduk memilih untuk tinggal di kamar-kamar bergaya asrama yang sempit dengan tempat tidur susun dan kamar mandi bersama, yang dikenal sebagai "rumah peti mati".

Setengah dari pengunjuk rasa berstatus sebagai kelas menengah, menurut survei lapangan yang dilakukan oleh universitas lokal. Tetapi beberapa ahli mengatakan bahwa demo pada akhirnya akan merugikan ekonomi Hong Kong secara keseluruhan. Apalagi, jika berbagai perusahaan memutuskan untuk pindah karena kerusuhan yang terjadi.

Identitas Hong Kong

Transisi Hong Kong dari koloni Inggris menjadi bagian dari daratan China dipandang sebagai langkah besar bagi masa depan kota. Tetapi nyatanya sebagian besar dari pendemo ini belum lahir ketika Hong Kong diserahkan ke China pada tahun 1997.

Namun, mereka juga yang kebanyakan khawatir bahwa Hong Kong akan kehilangan otonomi di tangan Partai Komunis.
"Polisi dan massa China menguasai Hong Kong," cuit Law di Twitter. "Ketika massa China menyerang warga, tidak ada penegakan hukum di sana." Polisi telah berulang kali menembakkan gas air mata dan peluru karet ke kerumunan demonstran saat aksi unjuk rasa terjadi.

Menurut sebuah survei oleh Universitas Hong Kong, banyak penduduk muda yang lebih mencintai Hong Kong ketimbang China. Hanya 9% penduduk Hong Kong yang berusia 18 hingga 29 tahun mengatakan mereka bangga menjadi warga negara China, sementara hanya 38% dari mereka yang berusia di atas 50 tahun yang merasakan hal yang sama.

Tindakan pemuda Hong Kong mencerminkan milenial di seluruh dunia, yang semakin menentang status quo dan menuntut perubahan politik yang lebih radikal.

"Jika hanya ada satu cara untuk dunia: Peristiwa di Hong Kong adalah lebih dari sekadar RUU, lebih dari Lam, lebih dari demokrasi," cuit Wong. "Mereka semua tentu saja penting. Tetapi pada akhirnya ini adalah tentang masa depan Hong Kong setelah 2047, masa depan yang menjadi milik generasi kita."

Pada tahun 2047 pengaturan politik saat ini antara Hong Kong dan China akan berakhir. Ini berarti Hong kong akan memiliki sistem negara yang baru.

[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading