IMF Desak AS China Stop Perang Dagang

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
12 August 2019 12:42
IMF Desak AS China Stop Perang Dagang
Jakarta, CNBC Indonesia - Dana Moneter Internasional (IMF) mendesak Amerika Serika (AS) dan China untuk menyelesaikan perang dagang yang eskalasinya kian meningkat. Dalam sebuah laporan baru yang diterbitkan akhir pekan lalu oleh dewan eksekutif di IMF, para direktur merekomendasikan agar kedua negara itu membuat perjanjian yang komprehensif agar tidak mengacaukan ekonomi global.

"China dan mitra dagangnya harus bekerja secara kooperatif dan konstruktif untuk menyelesaikan perselisihan mereka dalam kerangka multilateral berbasis aturan dan melakukan upaya bersama untuk mereformasi WTO dengan itikad baik dan pendekatan yang saling menguntungkan," kata Jin Zhongxia, direktur eksekutif untuk China di IMF, dalam siaran pers. "Itu tidak hanya baik untuk China dan AS, tetapi juga untuk komunitas internasional secara keseluruhan,". 

Laporan tersebut juga menguraikan hambatan yang bisa timbul untuk ekonomi China dari serangan tarif impor. IMF mengatakan bahwa China akan mendapat manfaat jika semakin membuka ekonominya.



China juga bisa meningkatkan persaingan jika melakukan reformasi lain. "Jika perjanjian komprehensif dan tahan lama tidak tercapai, ketidakpastian kemungkinan akan bertahan dan membebani prospek jangka pendek dan jangka panjang karena akses China ke pasar luar negeri dan teknologi mungkin berkurang secara signifikan," kata IMF. 

Mengutip CNBC International, IMF menyebut pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) China telah melambat menjadi 6,6% pada 2018 dan diproyeksikan akan moderat menjadi 6,2% tahun ini. Itu karena AS menekan langkah stimulus yang direncanakan China, dengan mengenakan tarif pada US$ 200 miliar barang-barang China. 

Meski demikian, IMF mengatakan dampak perang dagang tetap dapat dikelola meski pasti mempengaruhi ekonomi China. Perlambatan ekonomi China diperkirakan moderat.
Perang dagang telah meningkat selama seminggu terakhir. China mengumumkan akan berhenti membeli produk pertanian AS sebagai balasan atas ancaman tarif Presiden AS Donald Trump.

Pekan lalu Trump mengatakan bakal mengenakan bea masuk 10% atas barang-barang China senilai US$ 300 miliar, mulai September. Pasalnya, China dianggap tidak menepati janji membeli produk pertanian AS.

China juga membiarkan mata uangnya melemah terhadap dolar ke level yang tidak pernah tejadi sejak 2008. Akibat hal itu, pemerintahan Trump menyebut Beijing sebagai "manipulator mata uang". IMF membahas hal itu dalam laporannya, namun lembaga itu menyebut tidak menemukan banyak bukti bahwa China benar melakukan devaluasi. 

"Dari perkiraan ditemukan hanya sedikit intervensi devisa (foreign exchange/FX) oleh PBC." kata IMF. Namun, lembaga itu juga mengatakan, transparansi kebijakan nilai tukar yang lebih besar akan menjadi penting untuk dilakukan.

[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading