Dukung Brexit & 'Mirip' Trump, Ini PM Inggris Boris Johnson

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
24 July 2019 11:50
Dukung Brexit & 'Mirip' Trump, Ini PM Inggris Boris Johnson
Jakarta, CNBC Indonesia - Mulai hari ini, Rabu (24/3/2019) waktu setempat, Boris Johnson secara resmi menjadi perdana menteri Inggris. Ia menggantikan Theresa May, yang terpaksa harus mengundurkan diri dari jabatannya karena gagal membawa Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit).
 
Johnson merupakan anggota Parlemen Konservatif berusia 55 tahun, yang juga mantan menteri luar negeri, dan mantan walikota London. Ia pada Selasa, telah telah diumumkan memenangkan pemungutan suara, mengalahkan saingannya, Jeremy Hunt yang adalah menteri luar negeri Inggris saat ini.


 
Kemenangan ini juga berarti Johnson adalah pemimpin Tory (anggota Partai Konservatif) yang baru.
 
Johnson merupakan pendukung kuat Brexit (Brexiteer) dan orang yang secara tegas menentang rencana May untuk mengejar kesepakatan Brexit. Ia juga memiliki reputasi sebagai seseorang yang kontroversial, suka mematahkan kebenaran, dan memiliki gaya rambut yang buruk.
 
Gaya rambutnya sering kali dibandingkan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) saat ini, Donald Trump, yang ternyata adalah penggemar fanatiknya.
 
Namun siapa sangka, sikap Johnson juga mirip Trump. Banyak kritikus menyebut bahwa Johnson akan mengatakan atau melakukan apapun untuk terus maju. Tidak mengherankan jika ia bisa menjadi tokoh politisi Konservatif paling populer di sebuah partai yang tidak populer.
 
Dia juga dikenal telah melahirkan banyak kontroversi karena mengeluarkan pernyataan rasis, seksis, dan Islamofobia dalam beberapa kesempatan.
 
Johnson, yang bernama lengkap Alexander Boris de Pfeffel Johnson, ini lahir di New York City. Namun pada 2016 ia berpindah kewarganegaraan. Pada tahun yang sama, ia mulai belajar di sekolah persiapan bahasa Inggris yang terkenal, Eton, dan kemudian di Universitas Oxford.
 
Sebelum terjun ke dunia politik, Johnson berkarir sebagai jurnalis. Ia terkenal lantaran suka mengubah fakta dan saat menjadi koresponden Brussels, ia suka menulis hal skeptis tentang Uni Eropa.
 
Johnson mulai menjadi anggota Parlemen pada tahun 2001. Pada tahun 2008 dia menjadi walikota London. Johnson menjabat dua periode sebagai walikota, namun menolak untuk mencalonkan diri lagi pada tahun 2016, tepat saat referendum Brexit sedang dibahas.

Ia juga diketahui pernah berselisih dengan beberapa sekutu politiknya, termasuk Perdana Meneteri Konservatif David Cameron. Saat memimpin kampanye untuk meninggalkan UE (Vote Leave), ia pernah membuat pernyataan kontroversial. Pada saat itu ia mengatakan bahwa Inggris mengirim 350 juta poundsterling per minggu ke Uni Eropa (UE) untuk membantu mendanai Layanan Kesehatan Nasional Inggris.
 
Dia juga berpendapat bahwa kebebasan bergerak Uni Eropa membuat Inggris kurang aman dan bahwa Brexit akan memungkinkan Inggris untuk mendapatkan kembali kendali atas perbatasannya.
 
Kampanye Vote Leave memenangkan referendum pada 23 Juni 2016. Hal ini membuat Cameron mengundurkan diri, dan Johnson dipandang sebagai penggantinya yang jelas. Tetapi pencalonan Johnson terhambat setelah sekutu politiknya, Theresa May, mengambil posisi Perdana Menteri.
 
Saat May menjadi perdana Menteri, Johnson harus puas menjabat sebagai meneteri luar negeri. Namun, ia mengundurkan diri dari jabatan pada Juli 2018 sebagai bentuk protes terhadap cara penanganan May terhadap Brexit.
 
Saat May terus berupaya mewujudkan Brexit, Johnson bersama Brexiteers di Parlemen terus menyerang May. Kegagalan demi kegagalan yang diterima May pada akhirnya memaksanya untuk mengundurkan diri. Dari sana lah Johnson kembali memperoleh kesempatan untuk menjadi perdana menteri.
 
Johnson berjanji kepada anggota parlemen Konservatif dan pemilih di partai bahwa ia akan membuat Brexit terjadi tepat pada batas waktu 31 Oktober baik dengan atau tanpa kesepakatan.
 
Dalam perebutan kursi perdana menteri, ia mengalahkan Menteri Luar Negeri Jeremy Hunt.
 
Setelah menang, Johnson akan menghadapi kebuntuan Brexit yang sama dengan pendahulunya. Saat ini Uni Eropa telah bersikeras tidak akan menegosiasikan Brexit kembali. Sementara Parlemen terus menolak Brexit tanpa kesepakatan (no-deal). Dan Johnson hanya memiliki sisa waktu 100 hari untuk dapat memenuhi janji Brexit-nya.


[Gambas:Video CNBC] (gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading