Ini Penjelasan Bos SKK Migas Soal Tumpahan Minyak Pertamina

News - Anastasia Arvirianty, CNBC Indonesia
22 July 2019 18:27
Ini Penjelasan Bos SKK Migas Soal Tumpahan Minyak Pertamina
Jakarta, CNBC Indonesia- Kebocoran minyak yang menimbulkan gelembung di lapangan migas YYA, Blok Offshore North West Java (ONWJ) belum bisa diatasi. Bahkan, tumpahan minyak sudah memenuhi pesisir Pantai Karawang.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto menjelaskan, minyak dari kilang Pertamina yang tumpah tersebut disebabkan adanya platform yang miring. Namun, langsung dilakukan upaya pencegahan kebocoran lebih luas dan penutupan.

"Itu kan terjadi beberapa hari, karena menabrak dan bocor, bagaimana menangani oil spill (tumpahan minyak) untuk menangani minyak agar tidak keluar," jelas Dwi saat dijumpai di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (22/7/2019).




"Langkahnya mencegah dampak negatif lingkungan, kedua menyetop sumber oil spil, baru nanti dilihat selanjutnya bagaimana mengembalikan (anjungan) ke sumur," pungkas Dwi.

Adapun, sebelumnya, Pelaksana tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto pernah mengatakan insiden serupa pernah terjadi di Teluk Meksiko, Amerika Serikat. Insiden itu membuat rig alias bor sumur minyak tenggelam.
Ini Penjelasan Bos SKK Migas Soal Tumpahan Minyak PertaminaFoto: Tumpahan Minyak Mentah Kotori Pesisir Pantai Karawang (detikcom/Luthfiana Awaluddin)

Dia menggambarkan kejadian terburuk itu seperti dalam film Deep Water Horizon. Film yang dibintangi oleh Mark Wahlberg itu menggambarkan kengerian saat terjadi kebocoran di sumur minyak hingga akhirnya membuat sumur tenggelam.

"Risiko yang paling fatal adalah rig nya tenggelam, tapi sekarang baru miring 8 derajat, iya kan ada pernah nonton Deep Water Horizon, kejadian paling parah seperti itu. Supaya tidak seperti itu, tergantung kecepatan di bawah itu growing, namanya runtuh, atau kecepatan injeksi semen keluar batas" jelas Djoko di kantornya pada Rabu 17 Juli 2019 yang lalu.


VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menuturkan, penanganan dilakukan dengan melibatkan pihak-pihak yang kredibel, kompeten, dan memiliki pengalaman terbukti dalam menangani case yg sama. Salah satunya adalah Boot & Coots, yang telah memiliki pengalaman terbukti dalam menyelesaikan peristiwa di Teluk Mexico.

Peristiwa Teluk Mexico ini sendiri sempat jadi sorotan publik bahkan diangkat sebagai film berjudul Deepwater Horizon pada 2016.

Selain itu, untuk penanganan risiko pencemaran lingkungan, Pertamina group telah menggerakkan 27 kapal dan 12 set Oil Boom, dan untuk menjaga agar tidak ada aktivitas nelayan di sekitar lokasi, Pertamina dan PHE ONWJ bekerja sama dengan TNI AL, Satpolairud, dan Pokwasmas, mengerahkan 7 unit kapal Patroli.


(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading