Ini Alasan Maskapai Enggan Turunkan Harga Tiket Pesawat!

News - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
04 June 2019 13:20
Pada beberapa kasus tertentu, kenaikan harga tiket dapat menguntungkan maskapai penerbangan.
Jakarta, CNBC IndonesiaHarga tiket pesawat yang dianggap terlalu mahal bagi sebagian besar masyarakat Indonesia masih terus masih terus menjadi permasalahan. Sudah sejak pertengahan tahun 2018, harga tiket pesawat kian melambung tinggi.

Berdasarkan penelusuran Tim Riset CNBC Indonesia sebelum musim lebaran, tepatnya pada Kamis (9/5/2019), harga tiket penerbangan rute Jakarta-Padang paling murah saja mencapai Rp 1.266.800 untuk orang dewasa (penelusuran situs Traveloka, 8 Mei 2019 pukul 11:00 WIB).


Sementara penelusuran harga tiket pesawat rute Jakarta-Padang pada situs Traveloka hari ini (4/6/2019) untuk keberangkatan 17 Juli 2019 paling murah sebesar Rp 1.280.000. Sebelumnya diketahui harga tiket serupa hanya berkisar Rp 600.000-800.000 (median Rp 700.000) pada tahun-tahun sebelumnya.


Jika mengacu pada hukum ekonomi, kala harga meningkat, tentu saja permintaan akan turun.

Benar saja, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penumpang angkutan udara domestik sepanjang kuartal I-2019 anjlok hingga 17,66% dibanding kuartal I-2018.

Selain itu, berdasarkan data Kementerian Perhubungan, dari 36 bandara yang dipantau dari H-7 hingga H-2 Lebaran 2019 terjadi penurunan jumlah penumpang hingga 30,71% dibanding tahun sebelumnya. Data-data tersebut memperlihatkan semakin banyak orang yang tidak lagi dapat menikmati layanan penerbangan udara.

Pada kebanyakan kasus, penurunan permintaan bukan kabar baik bagi penyedia jasa, dalam hal ini maskapai.

Akan tetapi dalam beberapa kasus, penurunan permintaan dapat menjadi berkah bagi maskapai.

Kok bisa?

Sebab penurunan permintaan yang diimbangi dengan kenaikan harga berpeluang meningkatkan pendapatan.

Sebagai contoh, bila pada harga tiket Rp 700.000 permintaan penerbangan Jakarta-Padang adalah 1000 orang, maka pendapatan maskapai mencapai Rp 700 juta.

Namun saat harga dipatok di Rp 1.280.000, permintaan hanya turun sebesar 17,66% (mengacu data BPS). Artinya maskapai bisa meraup pendapatan Rp 1,06 miliar, atau naik 52%.

Pun dengan skenario penurunan permintaan mencapai 30% (mengacu data Kemenhub), harga tiket Rp 1.280.000 bisa menghasilkan pendapatan Rp 896 juta atau lebih tinggi 28%.


Simulasi Dampak Kenaikan Harga Tiket
SkenarioJumlah Penumpang (orang)Harga Tiket (Rp Ribu)Pendapatan (Rp Juta)Pertumbuhan Pendapatan (%)
Skenario Normal1000 700 7000
Skenario Penurunan Permintaan 17,66%830 1.280 1.06252%
Skenario Penurunan Permintaan 30%700 1.280 89628%
sumber: BPS, Kemenhub, Traveloka, diolah

Dengan kasus seperti itu, tentu saja maskapai berada di posisi yang menguntungkan. Makin sulit untuk membayangkan mekanisme pasar dapat menggiring harga tiket ke level yang lebih rendah.

Apalagi saat ini penerbangan rute domestik di Indonesia hanya dikuasai oleh dia kelompok maskapai raksasa, Garuda Indonesia Group dan Lion Group.

Berdasarkan data yang dihimpun dari flightradar24.com, rata-rata jumlah penerbangan domestik Garuda Indonesia Group (Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya Air, NAM Air) dari 10 kota besar di Indonesia mencapai 738/hari. Beda tipis dengan Garuda, Lion Group (Lion Air, Batik Air, Wings Air) memiliki jumlah penerbangan 779/hari.

Sementara maskapai lain memiliki jumlah penerbangan yang jauh lebih kecil, contohnya AirAsia Indonesia yang hanya memiliki 46 penerbangan saja.



Di satu sisi, kondisi ini membuat arus kas maskapai lebih sehat. Bukan hal yang benar-benar buruk.

Akan tetapi di sisi lain, industri pariwisata, terutama domestik akan terkena dampak negatif.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengatakan bahwa harga tiket pesawat yang kian mahal membuat jumlah kunjungan wisatawan domestik pada kuartal I-2019 anjlok.

"Tadi sudah dikatakan sekitar 30 persen bila dibulatkan penurunannya," kata Arief, saat ditemui CNBC Indonesia, Selasa (9/4/2019).

Bahayanya, industri pariwisata merupakan penyumbang perekonomian Indonesia yang sangat besar. Berdasarkan keterangan dari Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (ASITA), Asnawi Bahar, saat ini industri pariwisata menyumbang 5,8% dari Produk Domestik Bruto Indonesia.

TIM RISET CNBC INDONESIA
(taa/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading