Mengenal Rare Earth, Senjata Baru di Perang Dagang AS-China

News - Wangi Sinintya Mangkuto, CNBC Indonesia
29 May 2019 16:41
Mengenal Rare Earth, Senjata Baru di Perang Dagang AS-China
Jakarta, CNBC Indonesia - Mineral ini digunakan dalam segala hal mulai dari bola lampu hingga peluru kendali. Namun, denganĀ China mengendalikan 95% pasokan logam rare earth atau tanah jarang di dunia, mineral itu juga berpotensi menjadi senjata ampuh dalam perang dagang antara Beijing dan Washington.

Berikut adalah beberapa pertanyaan dan jawaban kunci terkait elemen-elemen yang berharga itu, dilansir dari AFP, Rabu (29/5/2019).


Apa itu rare earth?
Sebagai dasar dari manufaktur listrik, rare earth adalah 17 elemen yang berfungsi sebagai komponen utama dalam berbagai perangkat mulai dari smartphone atau ponsel pintar dan kamera berteknologi tinggi hingga televisi layar datar dan komputer.


China mendominasi rantai pasokan global, dan Washington sangat bergantung pada kekuatan super Asia itu untuk mengakses logam tersebut sedemikian rupa sehingga komoditas itu belum dikenakan kenaikan bea impor.



Tetapi media pemerintah China sekarang menyarankan ekspor rare earth ke AS diturunkan sebagai balasan atas tindakan Amerika yang menaikkan bea masuk. Hal ini memicu ketakutan di antara pabrikan-pabrikan elektronik.


Mengapa China mengancam membatasi ekspor?
Sederhananya, rare earth memberi Beijing pengaruh politik dan ekonomi yang luar biasa dalam perseteruannya dengan Amerika Serikat.

AS bulan ini mengancam akan memangkas pasokan teknologi AS untuk raksasa telekomunikasi China Huawei dengan alasan kekhawatiran keamanan nasional. Langkah itu meruncingkan perselisihan perdagangan yang telah membuat kedua negara itu saling menaikkan bea impor satu sama lain.

Beijing sejauh ini hanya mengeluarkan peringatan samar yang menyarankan bahwa rare earth bisa menjadi senjata berikutnya.

Mengenal Rare Earth, Senjata Baru di Perang Dagang AS-ChinaFoto: Tambang Tanah Jarang (Rare Earth) di China. (Foto: CNBC)

Jika Beijing memilih untuk melaksanakan ancaman-ancaman ini, dampaknya terhadap pabrik-pabrik AS bisa menjadi bencana.

"China dapat menutup hampir semua proses produksi mobil, komputer, smartphone dan perakitan pesawat di luar China jika mereka memilih untuk mengembargo bahan-bahan ini," tulis James Kennedy, presiden dari ThREE Consulting, pekan lalu di National Defense, sebuah publikasi industri AS, dilansir dari AFP.


Pernahkah kita berada di situasi seperti ini sebelumnya?
China dituduh menggunakan rare earth untuk alasan politik dan ekonomi di masa lalu.

Pada 2014, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memutuskan negara itu telah melanggar aturan perdagangan global dengan membatasi ekspor logam tersebut dan mengklaim kerusakan lingkungan dari penambangan dan perlunya melestarikan pasokan.

AS, Uni Eropa, dan Jepang telah mengajukan banding ke WTO, menuduh Beijing membatasi ekspor untuk memberi perusahaan teknologi dalam negeri keunggulan atas persaingan asing.



Panel WTO memutuskan bahwa pembatasan China dirancang untuk mencapai tujuan kebijakan industri alih-alih konservasi.

Empat tahun sebelumnya, sumber-sumber industri Jepang mengatakan China menghentikan sementara ekspor ke Jepang pada 2010 ketika pertikaian teritorial berkobar di antara keduanya. Tuduhan itu dibantah Beijing.


Seberapa besar kemungkinan ancaman ini diwujudkan?
Analis mengatakan Beijing mungkin belum akan melaksanakan ancamannya karena pembatasan apa pun dapat memicu pencarian sumber-sumber alternatif rare earth.

Meskipun mendominasi pasokan, China bukan satu-satunya negara dengan cadangan rare earth yang cukup besar.

Survei Geologi Amerika Serikat memperkirakan tahun lalu ada 120 juta ton cadangan logam tersebut di seluruh dunia termasuk 44 juta di China dan 22 juta di Brasil dan Vietnam.

Mengenal Rare Earth, Senjata Baru di Perang Dagang AS-ChinaFoto: Infografis/Perang Dagang/Edward Ricardo


Jika rare earth tidak terlalu langka, mengapa tidak ada pihak lain yang memproduksinya?
Untuk sebagian besar abad terakhir, AS mendominasi produksi tanah jarang.

Tetapi menambang logam tersebut terbukti menghasilkan limbah beracun dalam jumlah besar dan pada tahun 2003 California Mountain Pass (yang merupakan satu-satunya penambang rare earth di AS) menghentikan produksinya menyusul bencana lingkungan beberapa tahun sebelumnya.



China mengisi kekosongan itu dengan bantuan regulasi yang longgar dan biaya yang lebih rendah. Negeri Tirai Bambu pun tumbuh dengan cepat menjadi produsen rare earth terkemuka dunia.

Tanah jarang "berlimpah di seluruh dunia", kata Halley dari OANDA, tetapi banyak negara tak berminat menambangnya karena biaya besar secara finansial dan lingkungan yang harus dikeluarkan dalam proses produksi. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading