Negosiasi Split Chevron Alot, Proyek Laut Dalam RI Molor?

News - Anastasia Arvirianty, CNBC Indonesia
09 May 2019 10:53
Negosiasi Split Chevron Alot, Proyek Laut Dalam RI Molor?
Jakarta, CNBC Indonesia- Lama tak terdengar kabar, pembahasan proyek Indonesia Deepwater Development (IDD) masih bergulir, dan berkutat pada soal diskresi yang diajukan PT Chevron Pacific Indonesia.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto menuturkan, Chevron meminta tambahan bagi hasil (split) di proyek tersebut, agar proyeknya sesuai dengan keekonomian, sebab pemerintah meminta percepatan produksi dalam proyek tersebut menjadi pada kuartal I-2024.




"Tinggal masalah split memang, saat ini sedang negosiasi dengan mereka. Mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah ada kesepakatan," kata Dwi ketika dijumpai dalam paparan kinerja kuartal I-2019 hulu migas, di Jakarta, Rabu (8/5/2019).

Lebih lanjut, ia mengakui, pembahasan masalah split tersebut memang tidak mudah dan alot. Sebab, hingga saat ini skema kontrak bagi hasil dalam proyek ini masih menggunakan cost recovery hingga 2028, setelah perpanjangan kontrak, barulah menggunakan skema gross split.

"Kan ini nanti akan gunakan skema gross split, karena risiko ada di operator, tentu jadi sangat alot sebab mereka akan hitung risiko. Ini tahap finalisasi saja, karena development cost-nya sudah bisa diterima," ujar Dwi.

Dwi masih belum mau membeberkan berapa tambahan split yang diajukan Chevron. Kendati demikian, tambah Dwi, pihaknya menargetkan, penentuan besaran split IDD tersebut harus rampung di semester I tahun ini.

Sebelumnya, SKK Migas memperkirakan proyek IDD akan selesai lebih dulu dibandingkan proyek Lapangan Abadi Masela.

Deputi Operasi SKK Migas Fatar Yani Abdurrahman. Ia menuturkan, saat ini yang dibahas hanya tinggal terkait kesepakatan jadwal penyelesaian proyek.

"Kalau soal angka-angka investasi sudah tidak ada masalah. Kuncinya sekarang pada jadwal. Kalau delay setahun akan membuat keekonomian proyek tergerus sehingga perlu ada diskresi," ujar Fatar ketika dihubungi, Rabu (10/4/2019).

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, dari pihak Chevron, memprediksikan ada risiko tertunda paling tidak 1-1,5 tahun karena pengalaman eksekusi proyek ini sebelumnya. Namun, lanjut Fatar, pihaknya melihat, semestinya jadwal tidak tertunda sampai selama yang diprediksikan Chevron.

"Harusnya jadwal tidak delay sampai segitu lama, karena bisa kita kendalikan. Kalau kami bilang harusnya Kuartal IV 2023 bisa onstream," tutur Fatar.

Adapun, opsi diskresi seperti meminta tambahan insentif agar Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR), kata Fatar, tidak banyak berubah. Bentuknya, lanjut Fatar, bisa macam-macam tergantung perhitungan keekonomian.

"Sejauh ini, dengan jadwal yang tidak tertunda, semua parameter keekonomian sudah OK. Kapan selesainya? Kami sedang menunggu respons dari Chevron tentang jadwal ini," pungkas Fatar.


[Gambas:Video CNBC]

(gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading