Kim Jong Un: Konflik Semenanjung Korea Tergantung Sikap AS!

News - Rehia Sebayang , CNBC Indonesia
26 April 2019 11:19
Kim Jong Un: Konflik Semenanjung Korea Tergantung Sikap AS!
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un menegaskan bahwa perdamaian dan keamanan di Semenanjung Korea sepenuhnya tergantung pada sikap Amerika Serikat (AS) di masa depan.

Hal itu disampaikan Kim saat bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, seperti dikabarkan kantor pemerintah Korea Utara The Korean Central News Agency (KCNA), Jumat (26/4/2019).

Reuters melaporkan, pernyataan Kim ini dipandang sebagai tekanan kepada AS agar lebih fleksibel dalam menerima tuntutan Pyongyang untuk meringankan sanksi. Sikap Kim ini bertolak belakang dengan apa yang diungkapkan dalam pertemuan kedua dengan Presiden AS Donald Trump di Hanoi, Februari lalu.


Pertemuan di Vietnam itu gagal menghasilkan kesepakatan di antara mereka. Pada pertemuan itu, Kim mengatakan akan menunggu AS menjadi lebih fleksibel hingga akhir tahun.

Kim Jong Un: Kondisi Semenanjung Korea Tergantung Sikap ASFoto: Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berjabat tangan sebelum pertemuan mereka di Vladivostok, Rusia. (Alexander Zemlianichenko / Pool via REUTERS)

"
Situasi di semenanjung Korea dan wilayah itu sekarang masih sama dan sudah mencapai titik kritis. Wilayah ini akan kembali ke keadaan semula ketika AS mengambil sikap sepihak dengan itikad buruk di perundingan kedua antara DPRK-AS baru-baru ini," kata Kim, seperti dilaporkan KCNA. Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK) adalah nama resmi Korea Utara.

"
DPRK akan mempersiapkan dirinya untuk setiap situasi yang mungkin terjadi," kata Kim.


Kim mengundang Putin ke Korea Utara pada waktu yang tepat dan Putin menerimanya, kata KCNA.

Belum ada komentar langsung mengenai pertemuan Kim-Putin dari Departemen Luar Negeri AS, tetapi William Hagerty, Duta Besar AS untuk Jepang, mengatakan kepada sebuah lembaga think tank di Washington yang melakukan kontak atas Kim dengan Rusia dan China, bahwa apa yang dilakukan KIm adalah bagian dari upaya mencari bantuan dari sanksi internasional.

"P
ertemuan Kim Jong Un dengan Vladimir Putin menggarisbawahi fakta bahwa sanksi itu berhasil dan sanksi itu memberikan tekanan ekonomi yang ekstrem pada rezim Korea Utara," kata Hagerty.

"
Apa yang kami lihat adalah upaya untuk mencoba menemukan cara menghadapinya [sanksi internasional]. Ada cara yang lebih sederhana untuk menghadapinya dan itu adalah denuklirisasi," katanya.

Kim Jong Un: Kondisi Semenanjung Korea Tergantung Sikap ASFoto: Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bereaksi selama pertemuan dengan para pejabat Rusia pada saat kedatangannya di sebuah stasiun kereta api di pemukiman timur jauh Khasan, Rusia 24 April 2019. (Layanan Pers Administrasi Primorsky Krai / Alexander Safronov / Handout via REUTERS)

Dia mengatakan, penting bagi masyarakat internasional untuk memberlakukan sanksi AS terhadap Korut yang diberlakukan karena program nuklir dan rudal Pyongyang.

Pembicaraan tatap muka pertama antara Putin dan Kim, yang diadakan di sebuah pulau di lepas pantai kota Rusia, Vladivostok, Kamis itu (25/4/2019), tampaknya tidak menghasilkan terobosan besar.

Kedua pemimpin melakukan diskusi mendalam tentang berbagai cara bagi negara mereka untuk mempromosikan komunikasi strategis dan kolaborasi taktis dalam rangka memastikan perdamaian dan keamanan di semenanjung Korea dan di kawasan itu, kata KCNA.


Putin mengatakan kesepakatan program nuklir Pyongyang kemungkinan bisa terjadi, caranya yakni dengan melangkah maju selangkah demi selangkah untuk membangun kepercayaan.

Tetapi jaminan AS, apa pun itu, mungkin perlu didukung oleh negara-negara lain yang terlibat dalam perundingan enam arah sebelumnya tentang masalah nuklir, kata Putin.

Namun, pertemuan itu dipandang sebagai cara untuk memperkuat kekuatan diplomatik Rusia sebagai pemain global. Rusia dan Korut sepakat untuk mengambil berbagai langkah untuk lebih lanjut bekerja sama dalam perdagangan, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, kata KCNA.

Konflik di Semenanjung Korea adalah perseteruan lama warisan dari Perang Dunia II (1939-1945). Konflik di Semenanjung Korea ii melibatkan Korut (dulu disokong oleh Uni Soviet dan memiliki senjata nuklir), dengan Korea Selatan didukung oleh AS.

(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading