Berdarah-Darah, Etihad Akan Merger dengan Emirates?

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
02 April 2019 18:16
Etihad telah merugi sekitar US$ 4,7 miliar dalam tiga tahun terakhir karena investasi di Alitalia, Air Berlin, dan Jet Airways India mulai tidak menguntungkan.
Jakarta, CNBC Indonesia - Etihad Airways telah dikenal suka menyelamatkan maskapai lainnya yang mengalami kesulitan. Namun, sekarang ini Etihad Airways justru memiliki masalah seriusnya sendiri dan mungkin harus mempertimbangkan untuk merger dengan maskapai tetangganya yang lebih besar untuk menekan kerugian.

Maskapai penerbangan Abu Dhabi itu telah merugi sekitar US$ 4,7 miliar dalam tiga tahun terakhir karena investasi di Alitalia, Air Berlin, dan Jet Airways India mulai tidak menguntungkan. Pendapatan maskapai itu juga terus turun lantaran persaingan yang semakin ketat.

Kerugian maskapai nasional kedua Uni Emirat Arab (UEA) yang biasanya meraup banyak untung ini jelas mengejutkan. Bersama dengan Emirates Airlines, yang berbasis di Dubai, dan Qatar Airways, Etihad telah membantu mengubah penerbangan global dalam beberapa dekade terakhir dengan menggunakan hubnya diTeluk untuk menerbangkan jutaan orang dari bagian timur dan barat Bumi.


"Konsep menggunakan wilayah UEA sebagai ... titik penghubung untuk perjalanan udara Timur-Barat masuk akal hingga sekitar tiga tahun yang lalu, ketika arus lalu lintas cukup optimal," kata Mike Boyd, presiden perusahaan konsultan penerbangan Boyd Grup International.


Volume penumpang yang menggunakan wilayah udara UEA "kemungkinan telah mencapai puncaknya," tambahnya, mengutip CNN Business, Selasa (2/4/2019).

UAE telah memiliki beberapa wilayah langit tersibuk di dunia. Pada 2017, pemerintah menciptakan saluran udara baru untuk merampingkan volume lalu lintas yang sangat besar dan mengurangi penundaan.

Namun, sekarang ini analis mulai mempertanyakan apakah UEA masih membutuhkan dua pemain global itu.

Maskapai penerbangan Emirates, yang lebih tua dan lebih besar dari dua maskapai nasional lainnya, tetap menguntungkan selama tiga dekade. Pada 2017, mereka menyetujui kemitraan dengan maskapai berbiaya rendah FlyDubai yang mencakup mengoordinasikan jadwal mereka dan menyelaraskan operasi bandara mereka.

"Wilayah ini sekarang dalam mode kelebihan kapasitas dan itu berarti bahwa beberapa konsolidasi mungkin sedang dalam proses," kata Boyd.

Emirates telah disebut-sebut sebagai penyelamat yang memungkinkan bagi Etihad. Bloomberg melaporkan pada bulan September bahwa maskapai itu sedang dalam pembicaraan untuk menggabungkan dan menciptakan maskapai terbesar di dunia berdasarkan lalu lintas penumpang.

Berdarah-Darah, Etihad Akan Merger dengan Emirates?Foto: Aristya Rahadian Krisabella

Tidak ada yang akan mengomentari apa yang mereka gambarkan sebagai "rumor atau spekulasi," tetapi CEO Etihad Tony Douglas mencemooh laporan Bloomberg dalam sebuah wawancara baru-baru ini dengan majalah Arabian Business.

Pada 2017, Presiden Emirates Tim Clark mengatakan "masih terlalu dini" untuk berbicara tentang merger dengan Etihad. Dia juga menjelaskan bahwa keputusan seperti itu hanya akan diambil oleh penguasa Dubai dan Abu Dhabi.

"Saya mengikuti arahan dari atasan saya. Jika mereka ingin melakukannya, kami bisa melakukan banyak hal," kata Clark dalam sebuah wawancara dengan CNN. "Tapi jika mereka ingin melangkah sejauh ini, saya tidak tahu."

Entah mereka membahas tentang merger atau tidak, kedua maskapai ini diketahui telah menjalin hubungan yang lebih dekat. Tahun lalu, mereka sepakat untuk bekerja sama dalam keamanan penerbangan dan juga bekerja sama dalam pemeliharaan dan perbaikan pesawat.

Pada Januari, Etihad meminta anak perusahaan Emirates untuk mengelola pusat layanan pelanggannya.

Konsultan industri penerbangan John Strickland mengatakan kedua maskapai bekerja bersama untuk "mencapai efisiensi biaya" tetapi dia tidak memperkirakan merger akan terjadi dalam waktu dekat. Etihad berhasil menekan kerugiannya dari US$ 1,52 miliar pada 2017 menjadi US$ 1,28 miliar pada 2018.

Memangkas biaya hanya sebagian dari tantangan yang harus diselesaikan Etihad. Maskapai itu ternyata juga tengah kesulitan untuk mempertahankan jumlah penumpang pada saat lalu lintas terus tumbuh.

Jumlah penumpang maskapai ini telah berkurang lebih dari satu juta orang pada 2018 dibandingkan tahun sebelumnya. Hal itu merugikan faktor muatannya, yang mengukur berapa banyak kursi yang terisi pada setiap penerbangan.


"Berkurangnya jumlah penumpang [Etihad], meskipun berat, setidaknya berkurang dari tahun ke tahun, tetapi faktor muatannya yang sekitar 76% sangat lemah untuk maskapai jarak jauh yang didominasi dengan lalu lintas pengumpan yang banyak dan meski kapasitasnya berkurang," tambah Strickland.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional memperkirakan akan ada 290 juta lebih banyak penumpang yang akan bepergian ke, dari dan di dalam kawasan Teluk pada 2037.
(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading