Penembakan Masjid Selandia Baru dan Longgarnya Aturan Senjata

News - Rehia Indrayanti Beru Sebayang, CNBC Indonesia
15 March 2019 17:35
Penembakan Masjid Selandia Baru dan Longgarnya Aturan Senjata Foto: Suasana lokasi usai penembakan di salah satu masjid di Christchurch, Selandia Baru, pada Jumat (15/3) siang. (AP/Mark Baker)
Wellington, CNBC Indonesia - Seorang pria berkulit putih menghebohkan dunia pada Jumat (15/3/2019). Ini setelah dia membabi buta menembaki umat Muslim yang sedang beribadah di Masjid di kota Christchurch, Selandia Baru.

Dalam tragedi nahas itu 49 orang tewas dan sekitar 48 orang terluka, di mana dua di antaranya merupakan Warga Negara Indonesia (WNI).

"Diterima informasi oleh tim KBRI Wellington, bahwa terdapat 2 WNI, Ayah dan anak yang terkena tembak di Mesjid di Christchurch Selandia Baru," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir di Jakarta, Jumat (15/3/2019).

Ia juga mengatakan bahwa saat ini sang ayah dirawat di ruang ICU dan anaknya dirawat di ruang biasa di rumah sakit yang sama, yaitu Christchurch Public Hospital.



Namun ternyata, kejadian nahas seperti ini bukanlah yang pertama kalinya terjadi di Selandia Baru. Mengutip laporan CNN International, 30 tahun lalu juga pernah terjadi hal serupa. Saat itu seorang pria bernama David Gray mengamuk dan menembak mati 13 orang.

Setelah serangan itu, undang-undang tentang senjata negara, yang pertama kali disahkan pada tahun 1983, banyak dikritik. Hal itu menyebabkan dilahirkannya amandemen tahun 1993 tentang regulasi senjata api semi-otomatis gaya militer, di negara tersebut.

Ternyata, jika dibandingkan negara non-Amerika Serikat (AS) lainnya, UU senjata di Selandia Baru masih longgar.


Penembakan Masjid Selandia Baru dan Longgarnya Aturan SenjataFoto: Suasana lokasi usai penembakan di salah satu masjid di Christchurch, Selandia Baru, pada Jumat (15/3) siang. (AP/Mark Baker)


Di Selandia Baru, pemilik senjata memang diharuskan memegang lisensi, sayangnya tidak diwajibkan melaporkan senjata apa saja yang dimiliki. Sementara di AS, semua pemilik senjata diwajibkan melaporkan jenis senjata apa saja yang mereka punya.

Akibat tidak pastinya data kepemilikan senjata, baik secara legal maupun ilegal, pihak berwenang Selandia Baru hanya bisa memperkirakan jumlah senjata yang beredar di negara itu mencapai sekitar 1,2 juta unit.

Menurut Sydney Morning Herald, peraturan di Selandia Baru mewajibkan seseorang berusia di atas 16 tahun untuk dapat membeli senjata dan lulus pemeriksaan latar belakang oleh polisi.



Petugas kepolisian Selandia Baru tidak dipersenjatai secara rutin, tetapi angka terakhir menunjukkan lebih banyak petugas yang memilih membawa senjata.

Sebuah survei pada tahun 2017 dari New Zealand Police Associated menunjukkan bahwa 66% anggotanya mendukung petugas mempersenjatai diri, menurut TVNZ. Angka itu telah meningkat secara signifikan dari satu dekade lalu, di mana hanya 48% petugas yang mendukung persenjataan umum pada tahun 2008.

Selandia Baru juga memiliki tingkat pembunuhan yang rendah, dengan total hanya 35 kasus pembunuhan pada tahun 2017, kurang dari jumlah orang yang tewas dalam serangan di dua masjid di hari Jumat ini.

Simak video terkait penembakan masjid di Selandia Baru di bawah ini.

[Gambas:Video CNBC] (miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading