Genjot Pariwisata, RI Gandeng Singapura Bikin Turis Hub

News - Fikri Muhammad, CNBC Indonesia
03 March 2019 18:28
Genjot Pariwisata, RI Gandeng Singapura Bikin Turis Hub
Jakarta, CNBC Indonesia- Indonesia tengah mengajak Singapura bekerja sama untuk meningkatkan jumlah turis ke RI. Caranya adalah dengan membuat tourism hub, di mana turis bisa mampir mengunjungi Indonesia tanpa visa saat berkunjung ke Singapura.

Rizky Handayani Musatafa, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran 1 Kementerian Pariwisata menyebutkan bahwa strategi itu dilakukan karena Singapura, Malaysia, atau Thailand menjadi sebuah Hub (pusat) untuk kedatangan wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia.




Ia memaparkan usulan ini datang setelah membaca kedatangan turis, misal turis dari India yang terdata mencapai 400 ribu. Tapi jika dilihat dari sit capacity, yang langsung ke Indonesia hanya 50 ribu.

"Kalau begitu dari mana mereka datangnya? Memang mereka mostly datangnya melalui Singapura atau Malaysia. Kalo kita lihat dari data, ada yang memang sengaja dari mumbai ke Singapura lalu ke Bali. Dan ini tuh bener-bener hanya transit. Atau ada memang ada program twining, Singapura-Bali. Kalo yang langsung sih oke ya. Tapi ternyata ada lebih 50 persen itu memang hanya transit. Lalu kita cari lagi data bahwa orang India ke Singapura itu banyak sekali. Kenapa enggak kita tarik Tourism Hub," kata Rizky Handayani Mustafa pada CNBC Indonesia di Hotel Sultan, Jakarta Pusat (28/2/2019).

Kementerian Pariwisata mengaku telah berbicara dengan Singapore Tourism Board untuk bekerja sama. Keuntungan yang didapat bagi Pariwisata Indonesia dengan progam Tourism Hub ialah dengan menjual paket Hot Deals.

Paket Hot Deals adalah sebuah inovasi dan kreativitas dari Kementerian Pariwisata untuk mendapatkan keuntungan finansial. Seperti misalnya yang dilakukan di Kepulauan Seribu dengan 3A (Aksesibilitas, Amenitas, Atraksi).

Untuk Aksesibilitas Kementerian Pariwisata bekerja sama dengan operator feri. Istilahnya. Dari data survei pergerakan kapal feri batam mereka perbulan terdapat 22 ribu seat yang tersedia untuk perjalanan Singapura-Kepulauan Riau. Namun pada weekdays hanya terisi sekitar 30 persen dan weekend 60 persen. Berarti ada seat yang tidak terpakai. Dari kesempatan itu kemudian Kemenpar melakukan negosiasi untuk mendapatkan kursi kosong melalui organizing comitte. Dari 22 ribu seat Kemenpar mendapatkan 10 ribu.

Kemudian dengan Amenitas, hotel di batam sebelumnya pada weekdays menderita sekitar 10-20 persen okupansinya. Dengan ongkos operasional yang terus berjalan lama kelamaan mereka akan merugi. Sampai Kemenpar berbicara dengan para manager hotel, berapa yang bisa mereka serahkan untuk program ini. Dari tahun ke tahun peningkatan okupansi yang signifikan.

Lalu atraksi Kemenpar juga mencoba menawarkan program Hot Deals pada pelaku usaha seperti golf dan spa. Kelengkapan 3A inilah yang kemudian membantu pariwisata Indonesia untuk mendapatkan keuntungan. Apalagi dengan penawaran harga yang jauh lebih murah ketimbang di Singapura. Juga peningkatan program ini dari tahun ke tahun meningkat secara signifikan dan berpengaruh pada length of stay.

"Sampai sekarang kami memiliki 250 paket yang kita jual. Jadi bisa menarik orang ke Batam nginep cuman harga 75 dollar dengan dijemput makan malam. Dia tidak boleh membeli hanya tiket feri saja. Dia membeli package (termasuk hotel, atraksi, atau tiga2na atau feri sama golf) tidak boleh beli satu.

Jadi misalnya feri 20 dolar tambah spanya 10 dollar jadi 30 dolar. Akhirnya dia belanja lagi. Gamungkin dia spendingnya habis spa langsung pulang. Paket ini mulai pada 2017 sudah laku terjual 107.000. 2018 sekitar 700.000. Sehingga pada 2019 Pak Menteri menargetkan 1 juta paket yang laku," kata Rizky.

Berikut outlook pariwisata RI di 2019
(gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading