Pesawat Tujuan Lokal Mahal, Masyarakat Pilih ke Luar Negeri

News - Muhammad Choirul, CNBC Indonesia
01 March 2019 17:02
Pesawat Tujuan Lokal Mahal, Masyarakat Pilih ke Luar Negeri
Jakarta, CNBC Indonesia - Mahalnya harga tiket pesawat domestik ternyata berdampak pada penurunan penumpang ke daerah pariwisata RI. Sebaliknya, para wisatawan domestik lebih memilih mengeluarkan kocek untuk berlibur ke luar negeri.

Sekertaris Umum Asosiasi Perusahaan Penjual Tiket Penerbangan (Astindo), Pauline Suharno menjelaskan, selama ini ada dua tipe traveler. Pertama, yakni orang yang traveling untuk berlibur, memanfaatkan waktu luang. Kedua adalah business trip, yakni perjalanan untuk urusan karier profesinya.

"Kalau leisure lebih berkurang, untuk turis-turis domestik yang berlibur, termasuk company-company yang biasanya ada corporat gathering atau ada perjalanan distributor itu agak berkurang," ungkapnya kepada CNBC Indonesia di Jakarta, Jumat (1/3/2019).


Penurunan itu tercatat selama Januari-Februari 2019 untuk penerbangan dengan tujuan daerah wisata seperti Bali, Yogyakarta, Manado, dan Bangka Belitung. Padahal, menurutnya rute-rute dengan tujuan tersebut biasanya menjadi favorit saat weekend.





"Kalau dulu kan rute-rute seperti Bali, Yogyakarta selalu penuh kalau weekend. Kalau sekarang karena harganya tinggi, mereka yang berlibur agak berkurang tuh yang domestik," paparnya.

Pemicunya tak lain adalah karena harga tiket domestik mahal. Dampaknya, wisatawan cenderung memilih penerbangan internasional untuk berlibur ke luar negeri.

"Terutama kalau mereka consern mengenai budget. Misalnya ada Rp 7 juta yang biasanya bisa dipakai ke Bali atau Manado, akhirnya mereka memilih ke luar negeri kan, dengan Rp 7 juta mereka bisa beli tiket ke Jepang malahan. Harga tiket ke Manado saja kan sekarang Rp 6,8 juta," ungkapnya.

Sejalan dengan itu, Pauline mencatat ada pengurangan frekuensi terbang sejumlah maskapai untuk tujuan destinasi wisata. Dia mencontohkan, Garuda Indonesia yang tadinya dari Jakarta-Manado sehari bisa empat kali terbang, kini tersisa dua kali sehari.






"Karena kan kalau tiket pesawat mahal penumpang yang mau berlibur kan berkurang tuh. Mereka mengalihkan tujuan kalau berlibur bisa pilih destinasi lain, ngak harus ke Bali Jogja atau Belitung. Jadi rute-rute favorit ini dikurangi frekuensi penerbangannya, supaya makapai nggak terlalu rugi," tandasnya.

Meski begitu, khusus untuk business trip, Pauline mencatat ada pertumbuhan signifikan. Hal ini tidak lepas dari berlangsungnya musim kampanye, jelang Pemilu pada April 2019 nanti.

"Demand sudah mulai meningkat. Dari Januari-Februari ada peningkatan sekitar 20%. Mungkin karena kampanye menjelang bulan April kan jadi lebih meningkat," ujarnya.

"Karena ini musim kampanye jadi rata- rata hampir semua daerah meningkat yang domestik," urainya sambil menekankan bahwa kenaikan itu tidak berlaku bagi rute-rute yang biasanya favorit.


Simak : Tiket Pesawat Naik, Okupansi Hotel Loyo?
[Gambas:Video CNBC]


(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading