Neraca Dagang RI yang Tenggelam Sejak Awal Tahun Ini

News - Iswari Anggit, CNBC Indonesia
18 February 2019 08:23
Neraca Dagang RI yang Tenggelam Sejak Awal Tahun Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Masih awal tahun 2019, neraca dagang RI telah menunjukkan defisit yang cukup dalam. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) defisit neraca dagang mencapai US$ 454,8 juta atau setara Rp 6,3 triliun dengan kurs Rp 14.000 per US$.

Menurut Kepala BPS Suhariyanto, defisit neraca dagang terjadi karena impor yang lebih tinggi ketimbang ekspor. Padahal, impor telah mengalami penurunan.

Suhariyanto menjelaskan total impor Bulan Januari 2019 mencapai US$ 15,03 miliar. Angka ini turun 1,83% dari total impor Bulan Januari 2018 (year-on-year/ yoy) yang mencapai US$ 15,30 miliar. Impor Bulan Januari 2019 ini ternyata juga turun 2,19% dari Bulan Desember 2018 (month-to-month/ mtm) yang mencapai US$ 15,36 miliar.


"Impor turun karena impor migas [minyak dan gas] juga turun 25,22% kalau dibandingkan Januari 2018 [yoy] dan 16,58% dari Desember 2018 [mtm]," jelas Suhariyanto, Jumat (15/2/2019). "Kalau impor nonmigas saya bilang stagnan ya, karena perubahannya hanya 0,00 sekian [mtm]."


Tren menurun rupanya juga terjadi pada ekspor, baik sektor migas maupun nonmigas. Bahkan, penurunan ekspor lebih drastis ketimbang impor. Inilah mengapa defisit neraca dagang cukup dalam.

Dari paparan data Suhariyanto, total ekspor Bulan Januari 2019 mencapai US$ 13,87 miliar. Angka ini turun 4,70% dari total ekspor Bulan Januari 2018 (year-on-year/ yoy) yang mencapai US$ 14,55 miliar. Sama seperti impor, ekspor Bulan Januari 2019 ini juga turun 3,24% dari Bulan Desember 2018 (month-to-month/ mtm).

Suhariyanto mengungkapkan, penurunan ekspor akibat gejolak harga komoditas sektor migas. Selain itu, sektor migas bersinggungan dengan isu lingkungan hidup yang menjadi fokus di wilayah Eropa. Padahal, komoditas di sektor migas merupakan andalan ekspor Indonesia.

"Penurunan ekspor karena sektor migas turun 29,30% mtm," ujar Suhariyanto.

"Volume beberapa komoditas kita masih bagus, batubara, CPO [Crude Palm Oil/ minyak sawit mentah] , tapi [ekspornya turun] karena harga jatuh, ada negatif campaign di Eropa, kemudian bea masuk tinggi di India. Jadi lebih karena harga komoditas tidak pasti. Belum lagi negara tujuan utama ekspor kayak Tiongkok dia melambat pertumbuhan ekonominya, permintaan menurunkan."

Bahkan, Suhariyanto memprediksi penurunan ekspor komoditas sektor migas masih berlanjut hingga Bulan Desember 2019.

Simak video tentang neraca dagang RI yang kembali jeblok di awal tahun di bawah ini:

[Gambas:Video CNBC]



(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading