Siap-siap, Biaya Bangun Infrastruktur Bakal Makin Mahal

News - Prima Wirayani, CNBC Indonesia
07 February 2019 16:00
Ongkos pembangunan infrastruktur Indonesia masih kalah murah bila dibandingkan dengan Filipina, India, bahkan Turki.
Jakarta, CNBC Indonesia - Biaya pembangunan infrastruktur di Indonesia relatif lebih mahal bila dibandingkan dengan beberapa negara lain yang diteliti oleh Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB).

Laporan Asian Infrastructure Finance 2019 menunjukkan biaya pembangunan di Indonesia mencapai US$2.150 (Rp 30 juta) per meter dan berada di posisi keempat termurah dari delapan negara yang diteliti.


Ongkos pembangunan infrastruktur Indonesia masih kalah murah bila dibandingkan dengan Filipina, India, bahkan Turki.


Meski mahal, belanja pembangunan di Indonesia diperkirakan terus meningkat hingga 2,5% menjadi Rp 420,5 triliun tahun ini sebagaimana tercantum dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), tulis AIIB.

Siap-siap, Biaya Bangun Infrastruktur Bakal Makin MahalFoto: Infografis/Manfaat APBN 2018/Edward Ricardo

"Biaya pembangunan akan meningkat akibat pelemahan rupiah dan permintaan dari proyek-proyek besar," menurut AIIB.

"Biaya bahan-bahan bangunan akan naik secara signifikan menyusul pelaksanaan proyek-proyek infrastruktur besar yang membutuhkan lebih banyak bahan bangunan," tambahnya.

Harga baja juga naik di 2017 dan posisi Indonesia sebagai pengimpor baja dalam jumlah yang besar berarti pelemahan rupiah dan potensi kenaikan harga global dapat menjadi risiko tambahan terhadap kenaikan harga bahan bangunan.


"Isu-isu struktural, seperti selisih pembiayaan, akuisisi tanah, dan penundaan proyek sepertinya akan tetap terjadi meskipun pemerintah telah mengambil langkah untuk menarik lebih banyak pendanaan dari sektor swasta dan memperbaiki kerangka kerja KPBU [Kerja sama Pemerintah dan Badan Usaha/ PPP]."

Selain itu, AIIB juga menyoroti dampak kenaikan suku bunga acuan yang membuat biaya pinjaman untuk pembangunan infrastruktur menjadi semakin mahal.

Subyek wawancara menggarisbawahi kekhawatiran bahwa kurang menariknya syarat yang ditawarkan kepada bank dan investor, dengan lebih sedikit jaminan pemerintah, dan isu terkait mata uang yang terus berlanjut akan berdampak buruk pada aliran kesepakatan [pembiayaan], menurut lembaga yang bermarkas di Beijing, China, itu.

"Mereka juga mengindikasikan bahwa pemilu yang akan datang dan dampak kenaikan suku bunga di Indonesia menambah ketidakpastian makroekonomi."

Saksikan video mengenai dampak pembangunan infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi RI.



Artikel Selanjutnya

Bank Dunia 'China' Beri Utangan RI Rp 14 T Tangani Covid-19


(roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading