Eka Tjipta: Sebelum Jadi Crazy Rich, Bangkrut Berkali-kali

News - tahir saleh, CNBC Indonesia
28 January 2019 10:52
Jakarta, CNBC Indonesia - Janganlah melihat orang hanya saat suksesnya. Lihat juga perjuangan menuju sukses itu. Begitu kata Dahlan Iskan, pengusaha dan Menteri BUMN era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2011-2014) memulai tulisan obituarinya di situs pribadinya, www.disway.id, mengenai sosok konglomerat Eka Tjipta Widjaja.

Eka Tjipta Widjaja, pendiri Sinar Mas Group ini, berpulang pada Sabtu malam, 27 Januari 2019, dalam usia 98 tahun. Taipan ini lahir pada 27 Februari 1921 di Quanzhou, China dengan nama Oei Ek Tjhong. Sembilan tahun menghabiskan hidupnya di kampung halaman, pada 1932 bersama dengan ibunya bermirasi ke Makassar menyusul ayahnya yang sudah terlebih dahulu sampai di sana.

Masa kecil yang penuh dengan cobaan, terpaan masalah, kehidupan keras, kondisi ekonomi keluarga yang tidak bercukupan membuat mental Eka menjadi tangguh. Hasilnya, luar biasa. sepanjang hidupnya ia berhasil membangun jaringan bisnis mulai dari pulp and paper, agribisnis dan pangan, layanan keuangan, pengembang dan real estat, telekomunikasi, hingga energi dan infrastruktur.

Majalah Forbes pada tahun 2018 bahkan menempatkan Eka menjadi orang terkaya yang paling tua di Indonesia. Kekayaannya mencapai US$ 8,6 miliar atau setara Rp 124,7 triliun dengan mengacu kurs Rp 14.500 per dolar AS.


Lantas bagaimana Dahlan memandang almarhum Eka Tjipta Widjaja, petuah dan prinsip-prinsip hidupnya? Berikut tulisan lengkap Dahlan Iskan.

Eka Tjipta
Oleh Dahlan Iskan
Senin 28 Januari 2019

Janganlah melihat orang hanya saat suksesnya. Lihat juga perjuangan menuju sukses itu.

Hanya itu yang bisa saya simpulkan. Saat menulis naskah ini. Untuk menandai meninggalnya konglomerat Eka Tjipta Widjaja. Pada usianya yang 98 tahun. Pukul 19.43 Sabtu lalu.

Saya sudah sangat lama tidak bertemu beliau. Beliau memang sudah sangat lama tidak aktif.
Semua bisnis sudah diserahkan kepada anak-anaknya. Yang ternyata sangat mampu. Menjadikan grup Sinar Mas tetap yang terkaya di Indonesia.

Dari anaknyalah saya sesekali mendengar kabar tentang beliau. Misalnya saat beliau sakit. Atau saat baru sembuh. Setelah ganti seluruh tulang pinggulnya. Pada usia 98 tahun baru meninggal. Betapa panjang usianya. Betapa jarang laki-laki yang bisa mencapai usia itu.

Saya masih bisa bertemu anaknya: Franky Wijaya. Yang menjadi pengendali grup usahanya. Atau Teguh Ganda Wijaya. Bos besar usaha bidang kertasnya. Yang menguasai dunia. Sering juga bertemu anaknya yang lain. Dari istri yang lain. Chandra, pemilik real estate besar di Surabaya: Pondok Chandra Indah.

Dengan Franky saya sesekali bertemu. Dalam bakti sosial Budha Tzu Chi. Sebuah agama yang melarang umatnya membangun rumah ibadah. Juga melarang umatnya sembahyang. Sembahyangnya adalah berbuat baik. Pada orang lain. Terutama pada orang yang lagi susah. Tempat ibadahnya adalah daerah-daerah miskin.
Agama itu berpusat di Hualian, pantai timur Taiwan. Saya sudah pula ke sana. Bersama Franky.

Franky sudah jadi konglomerat. Tapi tetap angkat-angkat karung saat bakti sosial.
Agama ini juga punya jaringan stasiun TV DAAI (baca: Ta Ai). Yang hanya menyiarkan kebaikan.

Saya beberapa kali bertemu Pak Eka Tjipta Widjaja. Di Jakarta atau di Surabaya. Pernah juga menjadi moderatornya. Saat beliau didaulat menjadi pembicara. Dalam sebuah seminar enterpreneur.


Saya juga pernah menulis satu buku kecil tentang Pak Eka. Yang terbit 30 tahun lalu. Saat umur saya masih 40 tahun. Dan usia Pak Eka masih 70 tahun.

Saya tidak pernah lupa cerita beliau. Tentang awal-awal memulai jadi pengusaha. Bahkan awal kehidupannya di Makassar. Saat umurnya baru 9 tahun.
Pada umur sekecil itu Eka ikut kapal. Dari daerah Hokkian. Mengarungi lautan bebas. Menyusul ayahnya. Yang sudah lebih dulu ke Makassar.

Sang ayah waktu itu sudah punya rumah. Meski dindingnya terbuat dari bambu (gedhek). Dan atapnya dari rumput. Mungkin maksudnya: daun rumbia.

Sang ayah sudah punya usaha kecil-kecilan. Toko sederhana. Eka tidak ingin sekolah dulu. Ingin membantu ayahnya.
Yang ia pilih adalah: menjajakan barang mirip yang ada di toko ayahnya. Ke kampung-kampung. Ia tidak mau hanya ikut menjaga toko. Tapi memilih 'jemput bola' ke rumah konsumen.

Masih kecil. Hanya bisa bicara Hokkian. Tapi sudah punya cara dagang yang berbeda.


Ketika umurnya 12 tahun ayahnya minta Eka sekolah. Di sekolah Tionghoa Makassar. Ketika ditest kemampuannya masih terbatas. Tertinggal dari umurnya. Eka harus memulai dari kelas satu.

Eka tidak mau. Ia ingin langsung kelas tiga. Ia sangat malu. Kalau harus satu kelas dengan anak umur 7 tahun.

"Saya terus pegangi kaki kepala sekolah. Saya sembah. Saya ciumi kaki itu," ujar Eka.

Kepala sekolah iba. Eka dimasukkan kelas tiga. Tapi bahasa Mandarin pun belum bisa. Semua pesimis Eka akan bisa naik kelas.

Yang bikin guru jengkel adalah pemberontakannya. Terutama guru berhitung. Eka tidak mau ikut urutan pelajaran hitung: tambah-kurang-bagi-kali.

Eka selalu memulai dari kali-tambah-kurang-bagi. "Kalau belum-belum sudah dikurangi dan dibagi mana cukup," katanya mengenang.


Sampai-sampai guru menjintingnya. Memegang dua kakinya. Dijantur. Kaki di atas. Kepala di bawah.
"Hayo, sekarang berjalanlah. Bisa nggak," bentak sang guru. Sambil terus memegang dua kaki Eka di atas.


"Tidak bisa. Ampun," teriak Eka.


"Nah begitu juga berhitung. Tidak bisa dibalik-balik," ujar sang guru. Seperti yang diceritakan Eka.


Tamat SD Eka tidak mau sekolah lagi. Logikanya: sekolah agar bisa bekerja. Saya harus bisa bekerja tanpa sekolah. Kalau siang untuk sekolah tidak bisa bekerja. Kalau siang untuk bekerja bisa sekolah malam.

Siang hari Eka bekerja. Hasil kerjanya untuk memanggil guru. Malam hari. Belajar di rumahnya. Ijazahnya memang hanya SD tapi pengetahuannya tidak kalah dengan tamatan SMA. Plus pengalaman kerja.

Setamat SD Eka mendatangi grosir. Ingin dipinjami biskuit 4 kaleng. Untuk dijual. Bayar setelah biskuitnya laku.
Tidak ada yang mau memberinya biskuit. Dianggap masih anak-anak.

Eka lantas menyerahkan ijazah SD-nya. Sebagai jaminan. Dapatlah ia 4 kaleng biskuit.

Dari toko yang ia ingat betul namanya: Ming Heng. Habis dalam dua hari. Uang pun disetor. Untuk ambil yang baru. Lama-lama ambil enam kaleng. Ijazah dikembalikan. Eka sudah mendapat kepercayaan penuh.

Eka lantas bisa membeli sepeda. Cukup untuk mengangkut enam kaleng biskuit. Omsetnya tidak pernah lagi naik. Kapasitas sepedanya terbatas 6 kaleng.

Omsetnya baru naik ketika Eka bisa membeli becak bekas. Yang tidak ada joknya. Khusus untuk angkut biskuit. Bisa 18 kaleng.

Eka membayar tukang becak. Lima gulden sebulan.

Dalam empat tahun ia bisa mengumpulkan tabungan 2.500 Gulden.
Ia minta ijin ayahnya. Memperbaiki rumah. Habis 1.000 Gulden.
Dinding bambu diganti dengan kayu. Atap daun diganti seng.
Sisanya ditabung. Ingin sekolah ke Tiongkok. Atau ke Hongkong.
Sambil mencari tambahan tabungan itu ia ikutkan arisan tender. Caranya: siapa yang mau memberi bunga tertinggi yang menang. Belum ada deposito waktu itu. Orang seperti Eka tidak akan bisa diterima bank.

Tahun 1941 Jepang masuk Makassar. Keadaan kacau. Ekonomi hancur. Tabungan itu hilang bersama yang menang tender.


Itulah kejatuhan pertama Eka. Masih remaja sudah merasakan ludes. Ia pun tidak tahu apa yang bisa dikerjakan.

Di zaman perang seperti itu. Ia lebih banyak bermain di pantai Losari.


Saat duduk-duduk di bebatuan itulah ia kaget. Ada truk tentara yang membuang sampah. Di tanah tidak jauh dari pantai. Sampah itu bukan sembarang sampah. Tapi reruntuhan bekas perang. Barang-barang dari gudang yang terbakar: besi, kayu, karung-karung terigu, karung semen, seng dan sebagainya.

Eka Tjipta: Sebelum Jadi Crazy Rich, Bangkrut Berkali-kaliFoto: infografis/infografis dari jual biskuit hingga punya konglomerasi sinar mas/Aristya Rahadian Krisabella
(hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading