Dubes Uni Eropa Buka-bukaan Soal Larangan Ekspor CPO RI

News - Iswari Anggit, CNBC Indonesia
08 December 2018 18:01
Dubes Uni Eropa Buka-bukaan Soal Larangan Ekspor CPO RI Foto: Infografis/Luas Areal Perkebunan Kelapa Sawit RI /Arie Pratama
Jakarta, CNBC Indonesia - Ekspor Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit mentah Indonesia masih sulit menembus pasar dagang di beberapa Negara Uni Eropa. Hal ini membuat Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan harus bernegosiasi dengan Negara di Uni Eropa agar terbuka jalan ekspor CPO Indonesia.

Beberapa waktu lalu, Luhut berhasil bernegosiasi dengan Perancis, dan telah terbuka jalan ekspor CPO ke sana. Minggu depan Luhut akan bernegosiasi dengan Polandia.

Diharapkan satu per satu negara Uni Eropa bisa membuka jalan ekspor CPO Indonesia. Pasalnya, Indonesia dan Malaysia merupakan negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia, dan Uni Eropa, China, serta India menjadi target pasar utamanya.


Ekspor CPO juga menjadi harapan Indonesia untuk memperbaiki defisit transaksi berjalan atau CAD. Jika pasar Uni Eropa memboikot ekspor CPO dari Indonesia, tentu bisa berdampak buruk bagi perekonomian.

Meskipun demikian, isu terkait larangan ekspor CPO Indonesia ke Negara Uni Eropa dibantah oleh Duta Besar Uni Eropa di Indonesia, Vincent Guérend.

Berikut wawancara lengkap antara Vincent Guérend dengan Studio CNBC Indonesia TV yang dipandu oleh Hera F. Haryn, dalam segmen Closing Bell:

Bagaimana terkait larangan ekspor CPO ke Uni Eropa?

Banyak sekali perdebatan untuk membahas hal ini. Terkadang dia (Perancis) juga memposisikan diri di tengah-tengah Eropa dan Indonesia untuk membahas CPO ini. Mengingat Indonesia adalah penghasil minyak sawit mentah (CPO) yang besar, tentu saja ada sedikit ketegangan antara Eropa dan Indonesia. Kami sepenuhnya memahami hal ini.

Namun tetap saja, sejauh ini Eropa menjadi pasar tujuan ekspor terbesar kedua bagi Indonesia. India menjadi pasar ekspor CPO terbesar (pertama) Indonesia. Tiongkok ketiga. Sedangkan kami, Uni Eropa menempati posisi kedua, baik untuk biofuel maupun unrefined CPO. Uni Eropa tetap menjadi pasar yang terbuka untuk impor ini.

Jika Anda melihat datanya, lebih dari 2/3 minyak kelapa sawit Indonesia yang masuk ke Pasar Uni Eropa, dibebaskan dari bea.

Apakah bisa lebih besar lagi?


Hal itu tergantung dari harga yang pantas untuk melakukan perdagangan ini. Tahun lalu, tingkat nilai ekspor Indonesia naik 36%, dengan volume ekspor yang meningkat 19%. Jadi angka tersebut kemungkinan masih bisa meningkat lagi.

Tahun ini, tingkat ekspor CPO ke Uni Eropa memang menurun, namun penurunan ini terjadi di seluruh pasar global. Namun pada dasarnya Eropa adalah pasar yang terbesar dan terbuka.

Kami tetap ingin membeli minyak kelapa sawit dari Indonesia, namun tetap saja kami memilih minyak kelapa sawit yang berkelanjutan. Itulah yang sedang kami rundingkan.

Menteri Luhut bilang ekspor CPO ke Perancis bisa masuk karena negosiasi tentang Airbus, bagaimana pendapat Anda?

Saya tidak pernah mendengar Pak Luhut berkata demikian, namun saya pikir tidak ada hubungannya antara minyak sawit dan Airbus.

Namun saya tegaskan lagi, tidak ada perbatasan perdagangan untuk ekspor minyak sawit dari Indonesia ke Uni Eropa, apapun jenis minyaknya.

Satu hal sudah kami rundingkan dan putuskan, kami ingin memberikan label energi yang terbarukan, untuk biofuel dari minyak sawit mentah yang tidak terlalu merusak lingkungan. Saat ini yang sedang kami lakukan, kami ingin mencari suatu produk yang tidak terlalu besar menghasilkan emisi gas rumah kaca. Kami akan tetap membeli dari Indonesia dan tidak ada larangan atau batasan perdagangan untuk ekspor minyak sawit ke Eropa.


[Gambas:Video CNBC]
(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading