9 KKKS Sepakat Jual Minyak Jatah Ekspor ke Pertamina

News - Anastasia Arvirianty, CNBC Indonesia
13 November 2018 19:35
9 KKKS Sepakat Jual Minyak Jatah Ekspor ke Pertamina
Jakarta, CNBC Indonesia- Akhirnya ada angin segar dari usaha pemerintah menekan defisit transaksi berjalan melalui pengalihan ekspor minyak mentah KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) ke PT Pertamina (Persero).

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Djoko Siswanto mengatakan, sudah ada sembilan KKKS yang bersedia dan setuju untuk menjual minyak mentah bagian ekspor mereka ke Pertamina. 




"Ada sembilan sudah deal, jual minyaknya ke Pertamina. Sembilan ini tidak mempermasalahkan soal pajak," ujar Djoko kepada media saat dijumpai di Kementerian ESDM, di Jakarta, Selasa (13/11/2018).

Namun, ia belum mau menjelaskan lebih detil terkait kabar tersebut, sebab, katanya proses pembahasan masih berlangsung.

Adapun, dihubungi di kesempatan terpisah, VP Corporate Communication Pertamina Adiatma Sardjito tidak mengelak kabar tersebut. Ia mengatakan, perusahaan berterima kasih dan mengapresiasi KKKS yang sudah bersedia menjual minyak mentah jatah ekspor mereka.

"Iya, sudah ada sembilan yang deal, tapi masih ada satu lagi yang dalam pembahasan karena terkait dengan aturan yg berlaku di Indonesia, misalnya pajak dan sebagainya, yang ini KKKS besar," ujar Adiatma ketika dihubungi Selasa (13/11/2018).

Kontraktor besar yang dimaksud yakni Chevron Pacific Indonesia. Seperti diketahui sebelumnya, Chevron adalah salah satu dari beberapa KKKS yang mengaku masih belum bisa melaksanakan kebijakan menjual minyak jatah ekspor mereka ke PT Pertamina (Persero), lantaran masih mengalami berbagai kendalanya, salah satunya masalah pajak.

Kendati demikian, Adiatma mengatakan, pengiriman minyak ke Pertamina tersebut akan mulai dilakukan di awal 2019 mendatang. Sedangkan untuk pembelian minyaknyaa, sedang diusahakan untuk menggunakan mata uang rupiah saja.

Untuk besaran volume minyak mentah yang dijual, baik Djoko maupun Adiatma masih enggan untuk mengungkapkanya ke publik. 

"Itu masih dalam tahap pembahasan dengan pemerintah, dan masih ada yang volumenya lebih besar," pungkas Adiatma. (gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading